Willie Salim Minta Maaf: Rendang Ludes, Settingan?

Crime115 Dilihat

JAKARTA, KOMPAS.TV – Konten 200 kilogram rendang yang ludes diserbu warga Palembang beberapa waktu lalu, telah menimbulkan kontroversi besar. Willie Salim, sang kreator konten, akhirnya bertemu Helmy Yahya, Ketua Asosiasi Konten Kreator Seluruh Indonesia (AKKSI), untuk memberikan klarifikasi. Namun, pertemuan tersebut justru memicu tudingan baru yang semakin memperkeruh situasi.

Helmy Yahya mencurigai adanya unsur settingan dalam video tersebut. Ia menilai Willie Salim sengaja merencanakan kegagalan demi meraih sensasi viral. “Kalau persiapan tidak matang, itu berarti gagal membuat perencanaan. Gagal membuat perencanaan sama saja dengan merencanakan kegagalan,” tegas Helmy Yahya melalui unggahan di Instagram-nya pada Minggu (23/3/2025).

Helmy menganggap Willie Salim turut bertanggung jawab atas insiden tersebut. Ia mempertanyakan mengapa kreator konten tersebut membiarkan makanan tanpa pengawasan, sehingga memungkinkan terjadinya “penjarahan” massal. “Mau kamu bilang ini tidak disengaja, tidak settingan, tapi menurut saya ini settingan! Kamu juga punya andil dalam kejadian ini,” tegas Helmy.

Tudingan settingan ini memantik reaksi keras, terutama dari warga Palembang yang sebelumnya merasa tersinggung dan dicap tidak beretika melalui video tersebut. Situasi semakin memanas karena kontroversi ini tidak hanya berdampak pada citra warga Palembang, tetapi juga menimbulkan perdebatan etika dalam dunia konten kreator.

Usai pertemuan, Willie Salim menyampaikan permohonan maaf. “Saya minta maaf sebesar-besarnya untuk warga Palembang. Ini bukan salah warga, ini sepenuhnya salah saya karena kurang persiapan,” ujarnya. Namun, permintaan maaf tersebut tampaknya belum cukup meredakan amarah warganet. Banyak yang masih berpendapat bahwa Willie Salim hanya mengejar sensasi dan keuntungan semata dari konten yang telah viral tersebut, menunjukkan perlunya pertimbangan etis yang lebih matang dalam pembuatan konten di era digital seperti saat ini. Untuk informasi lebih lanjut mengenai etika pembuatan konten, kunjungi situswanita.com.