Pelatihan Pewarnaan Alami untuk Kain Songket Melayu di Istana Maimoon
Belasan pegiat tenun Songket Melayu terlihat sibuk meracik bahan pewarna yang berasal dari berbagai jenis tanaman. Beberapa di antaranya terlihat menyelupkan benang-benang ke dalam ember yang berisi pewarna alami untuk dijadikan kain tradisional atau wastra. Uniknya, kegiatan tersebut berlangsung di halaman Istana Kesultanan Deli atau yang akrab disebut Istana Maimoon, Medan, Sumatra Utara.
Para penenun yang didominasi oleh perempuan ini tengah mengikuti pelatihan sekaligus pembinaan tentang bagaimana menggunakan pewarna alami untuk kain tradisional Songket Melayu. Beberapa pendamping dari Perkumpulan Warna Alam Indonesia atau Warlami terlihat ikut membantu proses pewarnaan kepada para penenun atau peserta.
Sekretaris Jenderal Warlami, Suroso, mengatakan upaya mengenalkan pewarnaan alami penting dilakukan sebagai upaya menjaga tradisi dan identitas kain tradisional di Indonesia. Pasalnya, ia menilai saat ini penggunaan pewarna sintetis atau buatan sudah terlalu mendominasi pembuatan wastra di Indonesia. “Bisa dibilang mendekati 100 persen sudah menggunakan pewarna sintetis,” kata Suroso di Medan, Selasa, 4 November 2025.
Melalui pelatihan ini, Suroso berharap para penenun kain tradisional tidak hanya menjaga tradisi, tapi juga bisa melepas ketergantungan dengan pewarna sintetis dan kembali ke bahan alami. Ia mengatakan saat ini ada tren busana yang mengarah ke segmen ramah lingkungan. “Secara bisnis sudah terlihat ada nilai tambah bagi tenun yang menggunakan pewarna alami. Tren global sedang mengarah ke eco-fashion,” tuturnya.
Suroso mengatakan pada dasarnya penggunaan pewarna alami bukan hal baru. Sebab, awal mula pewarnaan wastra memang mengandalkan bahan dari alam, seperti Tegeran (bahan dasar warna kuning-cokelat), Jolawe (cokelat-merah), dan Mahoni (cokelat kemerahan).
Oleh sebab itu, kegiatan pelatihan yang bekerja sama dengan PT Bank Central Asia Tbk atau BCA ini adalah untuk mendorong penenun kain tradisional menggunakan bahan alami sekaligus membantu memasarkannya. “Jadi ada aspek konservasi lingkungan, budaya, dan bisnis,” kata Suroso.

Pegiat kain tenun songket Melayu asal Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, yang juga pelaku UMKM Hilwa Tenun Eka Malia. Tempo/Aditya Budiman
Salah satu peserta dan pegiat wastra Songket Melayu, Eka Malia, mengatakan tertarik mengikuti pelatihan teknik pewarnaan alami. “Dari info yang saya dapat itu hasilnya lebih lembut dan warna lebih berkilau,” kata Eka.
Selama ini, Eka bersama kelompoknya bernama Hilwa Tenun masih menggunakan pewarna sintetis. Ia pun tertarik mencoba tenun dengan warna alami karena dari sisi bahan baku bisa diperoleh dari lingkungan sekitar. “Saya juga sudah melihat ada customer yang suka dengan kain-kain sustainable atau mendukung keberlanjutan,” tuturnya.
Dari sisi harga, Eka belum bisa memastikan akan mematok pada angka berapa untuk Songket Melayu yang menggunakan pewarna alami. Namun saat ini untuk kain tenun Songket Melayu ukuran 2×1 meter yang biasa diproduksi dipatok Rp 400.000 sampai Rp 1 juta dengan durasi pembuatan bisa sampai berminggu-minggu bahkan sebulan. Sementara harga paling mahal di kisaran Rp 6 juta dengan bahan kain terbuat dari sutra. “Harga tergantung juga dari pola,” kata Eka yang mengembangkan kegiatan dan usaha tenun dari ibu dan neneknya. Meski demikian, ia memprediksi harga wastra dengan pewarna alami bisa dibanderol di atas kain yang menggunakan warna sintetis.
Lebih lanjut, Eka menambahkan selain soal warna, ada tantangan lainnya dalam pengembangan wastra yaitu penerapan pola. Saat ini ia tengah mencoba pola atau desain tenun yang bisa diminati oleh kalangan muda dan masyarakat luas.
Secara tradisi, menurut dia, penggunaan Songket Melayu tidak bisa dipakai sembarangan atau hanya untuk kalangan tertentu saja, seperti di lingkungan kesultanan. Namun agar budaya Songket Melayu bisa bertahan, Eka menilai perlu ada penyesuaian atau desain baru agar publik bisa memakainya.
Eka menuturkan salah satu ketentuan pemakaian kain Songket Melayu bisa dilihat dari warna. Menurut dia, tidak semua orang bisa memakai warna kuning dan hitam karena itu hanya dipakai oleh kalangan atau jabatan tertentu. “Sejak 2016 kami mengembangkan kain dari warna yang kekinian dan motif yang tidak kaku sehingga bisa dipakai untuk orang kantoran atau buat harian,” kata Eka yang berasal dari Kabupaten Batu Bara.
Sementara EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, menyatakan keterlibatan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif perusahaan untuk melestarikan budaya dan pemberdayaan ekonomi. Sebelumnya, BCA sudah mendampingi pengrajin di Timur Tengah Selatan (Sumba Timur) dan Baduy (Banten). “Selain memberikan pelatihan, tentunya bisa memberikan impact ekonomi. Harapannya mereka bisa menjual di event-event korporat kami,” tutur Hera.












