Penyakit Ginjal Kronis Jadi Penyebab Kematian Utama Dunia

Berita97 Dilihat

Penyakit Ginjal Kronis, Ancaman Kesehatan Global yang Terabaikan

Penyakit ginjal kronis (PGK) mungkin tidak mendapat perhatian sebesar kanker atau penyakit jantung, namun kini menjadi salah satu penyebab kematian utama di dunia. Menurut penelitian terbaru, PGK telah meningkat dua kali lipat dalam tiga dekade terakhir dan kini menempati posisi sembilan dari sepuluh penyebab kematian tertinggi global.

Pada tahun 2023, jumlah orang yang hidup dengan fungsi ginjal yang menurun mencapai 788 juta, naik dari 378 juta pada tahun 1990. Studi ini dilakukan oleh para peneliti dari NYU Langone Health, University of Glasgow, serta Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME). Data menunjukkan bahwa sekitar 14 persen populasi dewasa dunia saat ini hidup dengan PGK. Pada tahun yang sama, lebih dari 1,5 juta orang meninggal akibat kondisi ini, menunjukkan peningkatan lebih dari 6 persen dalam tiga dekade terakhir.

“PGK adalah kondisi yang umum, mematikan, dan makin memburuk,” kata Josef Coresh, MD, PhD, salah satu penulis senior studi tersebut. Ia menekankan bahwa sudah saatnya penyakit ini mendapatkan perhatian selevel dengan kanker, penyakit jantung, hingga masalah kesehatan mental.

Mengapa PGK Perlu Masuk Prioritas Kesehatan Global?

Pada Mei 2023, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menambahkan PGK ke dalam rencana global untuk mengurangi kematian dini akibat penyakit tidak menular sebanyak sepertiga sebelum tahun 2030. Laporan ini, yang terbit dalam jurnal The Lancet, menjadi estimasi paling komprehensif terkait PGK dalam hampir satu dekade.

Studi yang merupakan bagian dari Global Burden of Disease 2023 tersebut menganalisis lebih dari dua ribu publikasi dan data kesehatan nasional di 133 negara. Selain angka kejadian dan kematian, peneliti juga menghitung beban disabilitas yang ditimbulkan oleh penyakit ginjal kronis.

Berikut beberapa temuan penting dari penelitian:

  • Pemicu penyakit jantung: PGK berkontribusi pada 12 persen kematian akibat penyakit kardiovaskular global.
  • Risiko terbesar: Tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, dan obesitas adalah faktor risiko utama PGK.
  • Kondisi yang bisa dicegah sejak dini: Mayoritas pengidap masih berada pada tahap awal, yang mana perubahan gaya hidup dan terapi obat bisa menunda komplikasi serius seperti dialisis atau cangkok ginjal.
  • Akses terbatas: Meski begitu, akses terhadap pengobatan seperti dialisis atau transplantasi ginjal masih sangat terbatas di wilayah seperti Afrika sub-Sahara, Asia Tenggara, dan Amerika Latin.

“PGK masih kurang terdiagnosis dan kurang ditangani,” ujar Dr. Morgan Grams, salah satu penulis utama. “Tes urine sederhana sebenarnya bisa mendeteksi penyakit ini sejak dini, sehingga pengobatan bisa segera diberikan.”

Grams menambahkan bahwa obat-obatan terbaru yang dapat memperlambat perkembangan PGK baru tersedia dalam lima tahun terakhir. Namun, perlu waktu hingga dampaknya terasa secara global.

Faktor Risiko Utama PGK

Faktor-faktor berikut ini menjadi penyebab utama PGK:

  • Tekanan darah tinggi: Sering kali menjadi penyebab utama kerusakan ginjal.
  • Gula darah tinggi: Kondisi ini bisa merusak pembuluh darah di ginjal.
  • Obesitas: Meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan diabetes, dua penyebab utama PGK.

Selain itu, faktor lingkungan dan gaya hidup juga berperan besar dalam peningkatan kasus PGK. Pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, dan paparan polusi bisa mempercepat proses kerusakan ginjal.

Solusi dan Tindakan yang Diperlukan

Untuk mengatasi PGK, diperlukan langkah-langkah preventif dan pengobatan yang lebih efektif. Tes rutin, seperti tes urine dan darah, sangat penting untuk mendeteksi dini kondisi ini. Selain itu, pendidikan masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan ginjal juga harus ditingkatkan.

Di banyak negara, akses terhadap layanan medis yang memadai masih menjadi tantangan. Oleh karena itu, pemerintah dan organisasi kesehatan global perlu bekerja sama untuk memperluas akses layanan kesehatan, terutama di daerah-daerah yang kurang berkembang.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *