Thailand Larang Hukuman Fisik pada Anak, Jadi Negara ke-68 yang Terapkan

News199 Dilihat

Thailand Mengambil Langkah Bersejarah dalam Perlindungan Anak

Thailand kini telah mengambil langkah penting dalam melindungi anak-anak dari berbagai bentuk kekerasan. Negara ini resmi melarang semua bentuk hukuman fisik dan psikologis terhadap anak di segala fasilitas, baik itu di rumah, sekolah, pusat perawatan, maupun tempat penitipan anak. Keputusan ini diumumkan melalui amandemen Pasal 1567 Kitab Undang-Undang Perdata dan Dagang, yang diterbitkan dalam Lembaran Kerajaan pada 24 Maret 2025.

Dengan adanya aturan ini, Thailand menjadi negara ke-68 di dunia yang secara tegas menentang kekerasan dalam mendisiplinkan anak. Langkah ini tidak hanya menjadi pengakuan terhadap hak dasar anak, tetapi juga memberikan landasan untuk membangun generasi yang lebih sehat secara emosional dan psikologis.

Pentingnya Pengasuhan Positif

Pengasuhan positif kini menjadi fokus utama dalam upaya melindungi anak. Para ahli percaya bahwa pendekatan ini mampu membentuk anak yang lebih sehat secara emosional. Dengan metode yang ramah dan penuh kasih, anak-anak belajar menyelesaikan masalah tanpa merasa takut atau diintimidasi. Hal ini juga mendorong orang tua dan pengasuh untuk mengubah pola disiplin mereka, dengan lebih memprioritaskan komunikasi yang konstruktif dan mendukung perkembangan anak secara keseluruhan.

Selain itu, kebijakan ini memperkuat hak anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang aman, dihargai, dan memiliki kesempatan yang setara. Dengan demikian, anak-anak dapat berkembang menjadi individu yang percaya diri dan mandiri.

Survei Menunjukkan Perubahan Positif

Survei tahun 2022 oleh Badan Statistik Nasional dan UNICEF menunjukkan adanya perubahan positif dalam tingkat kekerasan terhadap anak di Thailand. Sebanyak 54 persen anak di bawah 14 tahun mengalami hukuman fisik atau psikologis di rumah, turun dari 75 persen pada 2015. Meski ada kemajuan, UNICEF menegaskan bahwa tidak ada anak yang boleh mengalami kekerasan.

Organisasi ini juga mendorong pemerintah untuk meningkatkan dukungan bagi orang tua dan pengasuh. Pendidikan tentang disiplin tanpa kekerasan dianggap sebagai kunci untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak. Penelitian menunjukkan bahwa undang-undang larangan hukuman fisik paling efektif jika dipadukan dengan program pengasuhan positif. Kombinasi ini membantu anak tumbuh sehat secara emosional dan fisik.

Komitmen Bersama untuk Melindungi Anak

UNICEF Thailand menyambut hangat kebijakan baru ini. Mereka menilai langkah tersebut sebagai tonggak penting dalam perlindungan hak anak. Amandemen hukum ini sejalan dengan Konvensi Hak Anak, yang menegaskan bahwa kepentingan terbaik anak harus selalu menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.

UNICEF Thailand tetap berkomitmen bekerja sama dengan pihak berwenang dan masyarakat sipil untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak dan menegakkan hak-hak mereka. Meskipun tantangan masih ada, pengesahan undang-undang ini menjadi kemajuan yang berarti bagi perlindungan anak. Thailand kini menjadi contoh bagi negara lain dalam perlindungan anak dan penerapan disiplin tanpa kekerasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *