Studi: Vape Tingkatkan Risiko Prediabetes 28 Persen

News100 Dilihat

Penelitian Baru Mengungkap Bahaya Penggunaan Rokok Elektrik

Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik atau e-cigarette tidak seaman yang sering dianggap. Temuan penelitian ini mengungkap bahwa kebiasaan vaping bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami prediabetes. Prediabetes adalah tahap awal sebelum seseorang didiagnosis menderita diabetes tipe 2. Orang dengan kondisi ini biasanya tidak menunjukkan gejala jelas, tetapi kadar gula darah mereka sudah lebih tinggi dari normal.

Prediabetes memiliki kisaran kadar gula darah antara 110–125 mg/dL, sedangkan kadar normal berada pada kisaran 70–99 mg/dL. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa berkembang menjadi diabetes tipe 2. Namun, kondisi ini juga bisa diperbaiki jika diatasi secara tepat.

Data yang Digunakan dalam Studi

Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas, seorang ekonom kesehatan dari Universitas Georgia, Sulakshan Neupane, bersama timnya melakukan analisis terhadap lebih dari 1,2 juta data. Data ini dikumpulkan melalui survei telepon oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat (AS) antara tahun 2020 hingga 2022. Analisis dilakukan pada September hingga Desember 2023 untuk menelusuri hubungan antara penggunaan rokok elektrik dan risiko prediabetes maupun diabetes.

Risiko Peningkatan Prediabetes Akibat Vaping

Temuan penelitian menunjukkan bahwa orang yang hanya menggunakan rokok elektrik memiliki risiko 7 persen lebih tinggi mengalami prediabetes dibandingkan dengan nonperokok. Angka ini setara dengan sekitar 7.000 kasus tambahan prediabetes per satu juta pengguna rokok elektrik di AS.

Sementara itu, perokok konvensional seperti pengguna rokok atau cerutu memiliki risiko 15 persen lebih tinggi. Mereka yang menggabungkan penggunaan rokok elektrik dan rokok konvensional memiliki risiko paling besar, yaitu 28 persen lebih tinggi dibandingkan nonperokok.

Risiko Lebih Tinggi pada Pengguna Ganda

Tim peneliti juga menemukan bahwa pengguna ganda, yakni mereka yang menggunakan rokok elektrik sekaligus rokok konvensional, memiliki risiko 9 persen lebih tinggi mengalami diabetes dibandingkan dengan nonperokok. Angka ini bahkan lebih tinggi daripada risiko pada perokok konvensional saja yang meningkat sebesar 7 persen.

Menurut Neupane, temuan ini menunjukkan bahwa promosi rokok elektrik sebagai alternatif yang lebih “aman” justru bisa berkontribusi pada masalah kesehatan jangka panjang seperti prediabetes dan diabetes. Selain itu, pengguna rokok elektrik yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas lebih rentan terhadap prediabetes. Kelompok etnis tertentu seperti Hispanik, kulit gelap, dan Asia juga menghadapi risiko lebih tinggi dibandingkan dengan orang kulit putih.

Keterbatasan Penelitian

Meskipun hasil penelitian ini memberikan wawasan penting tentang hubungan antara rokok elektrik dan risiko prediabetes, para peneliti menekankan adanya beberapa keterbatasan. Studi ini bersifat observasional, sehingga belum bisa dipastikan apakah vaping benar-benar menjadi penyebab utama prediabetes. Ada kemungkinan faktor lain yang membuat seseorang lebih rentan mengalami kondisi tersebut sekaligus lebih cenderung menggunakan rokok elektrik.

Neupane mencontohkan, tekanan mental akibat masalah ekonomi bisa membuat seseorang merokok atau mengonsumsi alkohol sebagai pelarian, sehingga meningkatkan risiko kesehatan. Selain itu, data kesehatan yang digunakan berasal dari laporan diri responden yang mungkin kurang akurat.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, penelitian ini menambah bukti bahwa vaping bukanlah pilihan bebas risiko, terutama bagi kesehatan metabolik. Meski masih diperlukan studi lanjutan untuk memastikan hubungan sebab-akibatnya, temuan ini cukup menjadi peringatan agar masyarakat lebih bijak dalam menyikapi penggunaan rokok elektrik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *