Kenali Tanda dan Penyebab Anemia Kurang Besi

Berita201 Dilihat

Anemia Defisiensi Besi: Masalah Gizi yang Tidak Boleh Diabaikan

Anemia defisiensi besi adalah salah satu masalah kesehatan yang sering kali tidak terdeteksi secara dini, namun memiliki dampak signifikan terhadap kualitas hidup anak. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka stunting di Indonesia. Menurut Survei Kesehatan Indonesia 2023, sekitar 1 dari 4 anak mengalami anemia, yang berdampak pada keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan otak.

Anemia defisiensi besi terjadi ketika tubuh kekurangan zat besi yang dibutuhkan untuk membentuk hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat mengganggu tumbuh kembang anak, menurunkan daya tahan tubuh, serta memengaruhi kemampuan belajar dan kecerdasan.

Gejala Anemia Defisiensi Besi pada Anak

Menurut Dokter Spesialis Anak RS Bethesda Yogyakarta Devie Kristiani, gejala anemia defisiensi besi sering kali tidak disadari pada tahap awal. Anak mungkin tampak pucat, mudah lelah, lesu, atau kurang aktif. Beberapa gejala lain yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Berat badan sulit naik
  • Pertumbuhan terlambat
  • Penurunan nafsu makan
  • Kebiasaan pica (memakan benda bukan makanan seperti tanah atau es batu)

“Anemia defisiensi besi bukan sekadar masalah kurang darah. Kondisi ini berdampak langsung pada perkembangan saraf dan otak,” ujar Devie dalam keterangan pers.

Studi menunjukkan bahwa anak dengan anemia defisiensi besi memiliki skor kognitif, kemampuan psikomotor, serta konsentrasi yang lebih rendah dibanding anak dengan kadar zat besi yang cukup. Hal ini berpengaruh pada kesiapan mereka belajar di sekolah dan performa akademik jangka panjang. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memastikan anak mendapatkan kecukupan zat besi sejak masa ASI Eksklusif.

Penyebab dan Kelompok Berisiko

Kekurangan zat besi pada anak umumnya disebabkan oleh asupan makanan yang rendah zat besi, penyerapan zat besi yang tidak optimal, atau kehilangan darah akibat infeksi kronis. Beberapa kelompok anak memiliki risiko lebih tinggi, seperti:

  • Bayi prematur
  • Anak dengan ibu yang mengalami anemia selama kehamilan
  • Anak yang sedang mengonsumsi MPASI rendah zat besi

Peran Inovasi dalam Pencegahan

Medical & Scientific Affairs Director Sarihusada Ray Wagiu Basrowi menekankan pentingnya inovasi berdasarkan penelitian ilmiah. Timnya telah melakukan penelitian tentang inovasi dan pencegahan anemia defisiensi besi. Mereka juga melakukan riset terkait penyerapan zat besi yang meningkat signifikan ketika dikombinasikan dengan vitamin C. Kombinasi ini mendukung penyerapan zat besi hingga dua kali lipat.

“Penelitian menunjukkan bahwa anak Indonesia usia 1-3 tahun yang secara rutin mengonsumsi 2 gelas susu pertumbuhan SGM Eksplor dengan kandungan IronC (kombinasi Zat Besi dan Vitamin C) per hari, didukung dengan makanan harian yang bernutrisi seimbang, terbukti memiliki kecukupan asupan Zat Besi harian sesuai angka kecukupan gizi (AKG),” ujar Ray.

Ray berjanji akan mengembangkan penelitian tersebut yang fokus pada peningkatan status gizi anak Indonesia, termasuk publikasi ilmiah mengenai pemenuhan zat besi dan dampaknya terhadap tumbuh kembang.

Alat Bantu Digital untuk Deteksi Dini

Selain inovasi produk dan komitmen pada penelitian berkelanjutan, Sarihusada juga mengembangkan alat bantu digital ‘Kalkulator Zat Besi’ yang tersedia melalui platform seperti Alfagift dan website generasimaju.co.id. Alat ini membantu orang tua menghitung kebutuhan zat besi harian anak dan melakukan deteksi awal terhadap risiko anemia defisiensi besi.

“Deteksi dan intervensi dini menjadi kunci dalam mencegah anemia defisiensi besi. Dengan asupan nutrisi yang tepat, pemantauan rutin, dan edukasi berkelanjutan, kita bisa membantu anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan mencapai potensi maksimal mereka,” kata Ray.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *