Ancaman Emas Indonesia: 23 Juta Anak Sekolah Terancam Penglihatan

News223 Dilihat

Masalah Penglihatan pada Anak-anak Indonesia dan Dampaknya terhadap Bonus Demografi

Sebanyak 23 juta atau 44 persen dari 52,9 juta anak usia sekolah di Indonesia mengalami gangguan penglihatan. Gangguan ini terutama disebabkan oleh kelainan refraksi. Jika masalah ini tidak segera ditangani, maka target Indonesia Emas 2045 akan sulit tercapai.

Pada usia yang ke-100 tahun, Indonesia akan menikmati bonus demografi berupa jumlah penduduk usia produktif (15–64 tahun) yang lebih banyak dibandingkan usia nonproduktif. Kondisi ini bisa menjadi momentum besar untuk mendorong kemajuan ekonomi. Namun, untuk memaksimalkan potensi ini, penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental, termasuk kesehatan mata, terutama pada anak-anak.

Penanganan Permasalahan Mata untuk Anak

Direktur Utama RS Mata Cicendo, Dr. dr. Antonia Kartika, SpM(K), M.Kes, menyatakan bahwa penanganan permasalahan mata harus dimulai dari dini. Ia menyarankan agar dilakukan skrining di sekolah-sekolah dan memberikan alat bantu seperti kacamata kepada anak-anak yang membutuhkan.

“Kita harus menangani anak-anak dengan melakukan screening di sekolah-sekolah, memberikan kacamata kepada yang membutuhkan sehingga nanti pembelajaran lebih baik. Pencapaian di kemudian hari akan lebih baik lagi dan kita mendukung Indonesia Emas 2045,” ujarnya di Bandung, Jawa Barat pada Kamis (09/10).

Kelainan Refraksi yang Meningkat Saat Pandemi

Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab utama gangguan penglihatan yang meningkat tajam, terutama di daerah saat pandemi COVID-19. Selama masa pandemi, kebanyakan kegiatan dilakukan secara daring alias online, sehingga screen time meningkat tajam. Kebiasaan ini membuat mata berakomodasi terus-menerus, ditambah dengan koreksi kacamata yang tidak tepat, bisa menambah kelainan refraksi.

“Sebenarnya pada anak-anak kelainan refraksi itu dapat dicegah kejadiannya ataupun progresivitasnya dengan outdoor activities. Jadi kita kena sinar matahari, kita melakukan kegiatan motorik kasar dengan berlari-lari ataupun loncat-loncat, itu sebenarnya salah satu kegiatan yang bisa mencegah progresivitas dari keliruan refraksi,” kata dr. Yeni Dwi Lestari, Sp.M(K) dari Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI).

Namun, selama masa pandemi, semua pembelajaran dilakukan online. Belum lagi anak-anak yang tidak bisa keluar rumah karena adanya social distancing, membuat mereka tidak bisa melakukan kegiatan motorik kasar dan terkena sinar matahari. Hal ini membuat progresivitas kelainan refraksi menjadi meningkat.

Kenali Tanda-Tandanya

Anak-anak sering kali tidak bisa menyampaikan keluhan penglihatannya dengan jelas, terutama jika usianya masih di bawah 5 tahun. Karena itu, peran orang-orang di sekitar anak sangat penting untuk mendeteksi dini adanya gangguan pada mata.

Pihak yang paling banyak menghabiskan waktu bersama anak tentu adalah orang tua dan guru. Keduanya memiliki peran besar dalam mengenali tanda-tanda awal gangguan penglihatan. Guru, misalnya, dapat memperhatikan perilaku anak di kelas. Jika anak selalu ingin maju ke depan saat pelajaran, sering memicingkan mata ketika melihat papan tulis atau menunjukkan penurunan performa akademis, hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa penglihatannya bermasalah.

Selain itu, tanda lain yang patut diwaspadai adalah anak sering menabrak saat berjalan, terlihat sering jatuh tanpa sebab jelas, atau memiliki mata juling (mata tidak sejajar). Kondisi tersebut bisa menjadi indikasi adanya gangguan pada koordinasi mata.

Jika orang tua atau guru mencurigai anak mengalami gangguan penglihatan, sebaiknya segera bawa anak untuk pemeriksaan mata. Deteksi dan intervensi dini sangat penting agar masalah penglihatan tidak mengganggu tumbuh kembang dan proses belajar anak di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *