Kanker dan Perubahan Berat Badan: Apa yang Perlu Diketahui
Kanker sering dikaitkan dengan penurunan berat badan yang signifikan. Namun, tidak semua jenis kanker menyebabkan penurunan berat badan. Sebaliknya, beberapa jenis kanker justru dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Perubahan ini bisa terjadi karena berbagai faktor, seperti gangguan metabolisme, penumpukan cairan (edema), hingga efek samping dari pengobatan seperti terapi hormon atau kortikosteroid.
Memahami hubungan antara kanker dan kenaikan berat badan sangat penting untuk mendeteksi gejala secara lebih menyeluruh dan mendapatkan penanganan yang tepat. Berikut adalah beberapa jenis kanker yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan:
1. Kanker Usus Besar
Kanker usus besar menyebabkan sejumlah gejala pada sistem pencernaan, seperti sembelit, kembung, gas berlebihan, kram, dan nyeri perut. Jenis kanker ini juga dapat menyebabkan penumpukan cairan di area perut, yang dapat menyebabkan penambahan berat badan dan kembung.
Selain itu, kanker usus besar dapat menghasilkan hormon yang memengaruhi metabolisme tubuh, sehingga menyebabkan penambahan berat badan. Pengobatan tertentu, seperti kemoterapi dan steroid, juga bisa menjadi penyebab kenaikan berat badan. Kelelahan yang terjadi pada pasien kanker usus besar juga dapat mengakibatkan gaya hidup yang tidak aktif, yang terkait dengan penambahan berat badan.
2. Kanker Ovarium
Orang dengan kanker ovarium mungkin tidak mengalami gejala pada tahap awal. Namun, penambahan berat badan bisa menjadi salah satu tanda peringatan yang sering diabaikan. Beberapa alasan penambahan berat badan pada pasien kanker ovarium meliputi:
- Tumor: Kanker dapat menyebabkan perut membengkak dan terasa kembung.
- Pengobatan: Kemoterapi dan terapi hormon dapat menyebabkan retensi cairan. Air ekstra yang ditahan tubuh dapat membuat berat badan naik. Selain itu, beberapa pengobatan kanker ovarium juga dapat memperlambat metabolisme.
- Aktivitas fisik yang lebih sedikit: Kanker dapat menguras energi dan menyebabkan kelelahan, yang mengurangi aktivitas fisik.
- Perubahan pola makan: Kemoterapi terkadang dapat menyebabkan keinginan untuk mengonsumsi makanan tertentu, seperti permen, roti, dan sumber karbohidrat lainnya.
3. Kanker Payudara
Banyak pengobatan untuk kanker payudara memiliki efek samping yang mengubah biologi tubuh. Misalnya, kemoterapi melibatkan steroid dan banyak cairan, yang dapat menyebabkan penambahan berat badan. Efek samping kemoterapi seperti mual juga dapat mengubah kebiasaan makan, yang berdampak pada penambahan berat badan.
Beberapa jenis pengobatan kanker payudara juga dapat menyebabkan wanita mengalami menopause. Menopause menghilangkan hormon estrogen dari tubuh dan dapat menyebabkan perubahan, termasuk peningkatan pola makan dan penambahan berat badan.
4. Kanker Prostat

Peningkatan berat badan pada pasien kanker prostat terutama terkait dengan efek samping pengobatan dan perubahan metabolisme. Terapi hormon, yang umum digunakan dalam pengobatan kanker prostat, dapat menurunkan testosteron, memperlambat metabolisme, dan meningkatkan penyimpanan lemak, yang menyebabkan penambahan berat badan.
Sayangnya, ada kemungkinan pasien kanker prostat yang mengalami penambahan berat badan berlebih memiliki risiko kematian yang lebih tinggi.
5. Kanker Testis
Pengobatan kanker testis efektif dan membuat sembilan dari sepuluh pasien bertahan hidup. Namun, pengobatan ini memiliki efek samping. Pria yang mendapatkan pengobatan kanker testis lebih berisiko mengalami sindrom metabolik di kemudian hari. Para penyintas ini lebih rentan mengalami kenaikan berat badan, terutama di sekitar perut.
Mereka juga lebih mungkin mengalami peningkatan tekanan darah dan kolesterol. Kondisi ini dapat menyebabkan diabetes, penyakit jantung, stroke, atau penyempitan arteri di kaki. Sayangnya, penyebab pasti dari hal ini masih belum diketahui.
6. Kanker Rahim

Kanker rahim, terutama kanker endometrium, terkait erat dengan obesitas dan penambahan berat badan. Jaringan lemak berlebih meningkatkan produksi estrogen dengan mengubah androgen menjadi estrogen setelah menopause, yang menyebabkan paparan estrogen tanpa perlawanan yang merangsang pertumbuhan lapisan rahim dan risiko kanker.
Obesitas juga menyebabkan resistensi insulin, peradangan, dan ketidakseimbangan hormon, seperti leptin yang lebih tinggi dan adiponektin yang lebih rendah, yang mendorong perkembangan tumor. Setelah diagnosis, banyak perempuan terus mengalami kenaikan berat badan karena perubahan metabolisme, efek pengobatan, dan peradangan, yang dapat memperburuk prognosis.
7. Kanker Tiroid
Kanker tiroid dapat menyebabkan kenaikan berat badan, terutama karena perubahan kadar hormon tiroid setelah tiroidektomi atau operasi pengangkatan tiroid. Operasi ini sering menyebabkan hipotiroidisme atau perubahan penggantian hormon tiroid, yang menurunkan laju metabolisme basal, yang menyebabkan kenaikan berat badan.
Selain itu, obesitas merupakan faktor risiko kanker tiroid dan dapat memperburuk perkembangannya melalui perubahan metabolisme, seperti resistansi insulin, peradangan, dan perubahan adipokin, yang meningkatkan akumulasi lemak dan pertumbuhan sel kanker. Retensi cairan yang terkait dengan disfungsi tiroid juga dapat menyebabkan kenaikan berat badan.
Meskipun penambahan berat badan mungkin bukan gejala khas kanker, tetapi perubahan tubuh yang tidak biasa tidak boleh diabaikan. Dengan mengenali tanda-tanda sejak dini dan berkonsultasi dengan tenaga medis, risiko komplikasi dapat diminimalkan dan kualitas hidup penderita kanker pun dapat ditingkatkan.






