WHO: Kasus Gonore Tahan Antibiotik Meningkat Kekhawatiran

Berita113 Dilihat

Peningkatan Kasus Gonore yang Resistan Antibiotik

Data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan pada kasus gonore yang resistan atau kebal antibiotik. Kondisi ini bisa mempersempit pilihan pengobatan bagi jutaan orang di seluruh dunia.

Laporan dari program “Enhanced Gonococcal Antimicrobial Surveillance Program (ESGAP) Gonorrhoea Treatment Optimization, 2025” mengungkap bahwa tingkat resistansi terhadap ceftriaxone dan cefixime, dua antibiotik lini pertama yang saat ini direkomendasikan WHO, melonjak tajam hanya dalam dua tahun.

Resistansi terhadap ceftriaxone meningkat dari 0,8 persen menjadi 5 persen, sementara cefixime naik dari 1,7 persen menjadi 11 persen pada periode 2022–2024. Angka resistansi azithromycin, yang sering dipakai sebagai terapi kombinasi, juga ikut merangkak naik dari 0,5 persen menjadi 4 persen. Bahkan, 95 persen isolat bakteri Neisseria gonorrhoeae yang diuji menunjukkan resistansi terhadap ciprofloxacin.

Lonjakan ini membuat pakar kesehatan semakin khawatir. Ceftriaxone dan cefixime adalah “benteng terakhir” pengobatan gonore setelah bakteri ini menunjukkan kemampuan berkembang menjadi resistan terhadap hampir semua antibiotik yang pernah digunakan. Namun, masih ada harapan. Dua antibiotik baru, yaitu zoliflodacin dan gepotidacin, menunjukkan hasil menjanjikan dalam uji klinis dan dapat menambah opsi pengobatan dalam waktu dekat.

Data ESGAP berasal dari 12 negara di lima wilayah WHO, termasuk Brasil, India, Indonesia, Malawi, Filipina, Thailand, Vietnam, hingga Afrika Selatan. Total 3.615 kasus gonore dilaporkan sepanjang 2024, dengan tingkat resistansi tertinggi ditemukan di Kamboja dan Vietnam.

Ancaman Kesehatan Masyarakat yang Mendesak

Gonore merupakan salah satu dari empat infeksi menular seksual (IMS) yang paling umum di dunia, dengan perkiraan 82 juta kasus setiap tahun. Jika tidak diobati, infeksi ini dapat menyebabkan komplikasi serius, mulai dari penyakit radang panggul, kehamilan ektopik, hingga infertilitas pada perempuan.

WHO menegaskan bahwa pengawasan seperti ESGAP menjadi kunci untuk memahami pola penyebaran resistansi, sehingga negara dapat merespons lebih cepat dan efektif. Inilah yang membuat pemantauan gonore resistan antibiotik menjadi prioritas kesehatan global.

“Upaya global ini penting untuk melacak, mencegah, dan merespons gonore resistan obat serta melindungi kesehatan masyarakat di seluruh dunia,” kata Tereza Kasaeva, MD, PhD, Direktur Departemen HIV, TB, Hepatitis & IMS WHO dalam sebuah rilis. Ia juga mendorong semua negara untuk memperkuat program pemantauan IMS dan memasukkan surveilans gonore ke dalam program nasional.

Faktor-Faktor yang Memicu Peningkatan Resistansi

Beberapa faktor berkontribusi pada peningkatan resistansi antibiotik terhadap gonore. Salah satunya adalah penggunaan antibiotik yang tidak tepat atau tidak lengkap. Hal ini sering terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengobatan yang benar dan lengkap.

Selain itu, peningkatan mobilitas penduduk dan interaksi lintas batas juga berdampak pada penyebaran bakteri yang resistan. Perubahan iklim dan lingkungan juga bisa memengaruhi pola penyebaran penyakit, termasuk gonore.

Pemerintah dan lembaga kesehatan perlu meningkatkan edukasi masyarakat tentang cara mencegah penularan IMS dan pentingnya penggunaan antibiotik secara bijak. Selain itu, investasi dalam riset dan pengembangan antibiotik baru sangat diperlukan untuk menghadapi ancaman resistansi yang semakin mengkhawatirkan.

Solusi dan Harapan

Meskipun situasi saat ini menunjukkan tantangan besar, ada harapan bahwa solusi dapat ditemukan. Pengembangan antibiotik baru seperti zoliflodacin dan gepotidacin memberikan harapan bahwa pengobatan akan tetap tersedia. Namun, penggunaannya harus diawasi ketat agar tidak mempercepat resistansi.

Selain itu, kerja sama internasional sangat penting dalam menghadapi masalah ini. Negara-negara perlu saling berbagi data dan pengalaman dalam menghadapi gonore resistan antibiotik. Dengan kolaborasi yang kuat, dampak dari penyakit ini dapat diminimalkan.

Kesimpulan

Penyakit gonore yang resistan antibiotik menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global. Penelitian dan pengawasan yang intensif diperlukan untuk memahami dan mengendalikan penyebaran bakteri ini. Selain itu, edukasi masyarakat dan penggunaan antibiotik secara bertanggung jawab adalah langkah penting dalam mencegah peningkatan resistansi.

Dengan upaya bersama, kita dapat melindungi kesehatan masyarakat dan menjaga ketersediaan pengobatan yang efektif untuk masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *