Tidak Hanya di Udara, Bakteri TBC Bisa Bertahan di Air dan Tanah

Berita91 Dilihat

Penjelasan tentang Daya Tahan Bakteri TBC yang Membuatnya Menyebar di Lingkungan Lembap

Tuberkulosis (TBC) dikenal sebagai penyakit menular yang terutama menyebar melalui udara, khususnya melalui percikan batuk atau bersin dari penderita aktif. Namun, penelitian dan pengamatan oleh pakar mikrobiologi menunjukkan bahwa bakteri penyebab TBC, Mycobacterium tuberculosis, juga mampu bertahan hidup di luar tubuh manusia dalam berbagai kondisi lingkungan.

Dr. dr. Inayati, M.Kes., Sp.MK, seorang ahli mikrobiologi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menjelaskan bahwa bakteri ini dapat bertahan hidup dalam air, tanah, maupun debu. Kondisi lembap dan tidak terpapar sinar matahari menjadi faktor penting dalam memperpanjang masa hidup bakteri tersebut.

“Bakteri TBC bisa bertahan di luar tubuh manusia selama beberapa waktu, terutama jika berada di tempat yang lembap atau tidak terkena sinar matahari. Di dalam air atau debu, ia bisa tetap hidup hingga kondisi kembali mendukung untuk menginfeksi inang baru,” ujar Dr. Inayati.

Daya tahan yang luar biasa ini membuat TBC menjadi ancaman yang serius, terutama di daerah dengan populasi padat dan sanitasi yang buruk. Lingkungan seperti itu cenderung memiliki sirkulasi udara yang minim dan kelembapan tinggi, yang sangat cocok bagi bakteri untuk bertahan hidup lebih lama.

Struktur Dinding Sel yang Kuat

Salah satu alasan mengapa bakteri TBC begitu tangguh adalah karena struktur dinding selnya yang tebal dan kaya akan lemak. Hal ini memberikan perlindungan terhadap kekeringan, panas ringan, serta paparan bahan kimia tertentu. Kombinasi faktor-faktor ini membuat bakteri sulit untuk dimusnahkan secara efektif.

Jenis-Jenis Pasien TBC

Menurut Dr. Inayati, pasien TBC dibagi menjadi dua jenis utama: pasien aktif dan pasien laten. Pasien aktif memiliki gejala jelas dan mampu menularkan penyakit kepada orang lain melalui percikan batuk atau bersin. Sementara itu, pasien laten tampak sehat dan tidak menunjukkan gejala apa pun, namun masih menyimpan bakteri yang “tidur” di dalam tubuh.

“Begitu daya tahan tubuh menurun, bakteri bisa aktif kembali dan menular ke orang lain. Jadi, pengawasan medis dan gaya hidup sehat tetap penting bahkan setelah sembuh,” kata Dr. Inayati.

Pentingnya Pemeliharaan Lingkungan

Pengendalian TBC tidak hanya terbatas pada pengobatan pasien, tetapi juga melibatkan upaya menjaga lingkungan agar tetap bersih dan memiliki ventilasi yang cukup. Ruangan yang tertutup rapat, jarang terpapar sinar matahari, dan tidak memiliki sirkulasi udara berisiko tinggi menjadi tempat bakteri menetap.

“Jadi, bukan hanya pasien yang harus diobati, tetapi lingkungannya juga harus dijaga tetap sehat,” tambahnya.

Langkah-langkah sederhana seperti membuka jendela rumah setiap pagi agar udara dan cahaya matahari masuk juga disarankan sebagai bagian dari pencegahan penularan TBC.

Langkah-Langkah Pencegahan TBC

Untuk menghindari penularan TBC, berikut beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan:

  • Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, istirahat yang cukup, tidak merokok/berhenti merokok, tidak mengonsumsi alkohol, mempraktikkan etika batuk yang tepat, menggunakan masker, serta menjaga lingkungan sekitar tetap bersih.
  • Vaksinasi BCG bagi bayi baru lahir.
  • Terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) sebagai obat pencegahan agar tidak tertular TBC, terutama bagi kontak serumah dan orang dengan HIV.
  • Temukan dan obati sampai sembuh (TOSS TBC), sehingga dapat menghentikan rantai penularan dan mencegah kematian akibat TBC. Keberhasilan pengobatan TBC ditentukan dengan 3T (Tepat Dosis, Tepat Cara, dan Tepat Waktu).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *