Terdeteksi di MBG, Apakah Bakteri Bacillus Cereus Berbahaya?

News159 Dilihat

Pengertian dan Sifat Bakteri Bacillus cereus

Bacillus cereus (B. cereus) adalah bakteri gram-positif yang mampu hidup baik dalam kondisi tanpa oksigen maupun dengan oksigen. Bakteri ini memiliki kemampuan khusus, yaitu menghasilkan racun yang dapat menyebabkan keracunan makanan. B. cereus sering ditemukan di lingkungan sekitar, seperti tanah, debu, hingga berbagai jenis makanan. Kehadirannya bisa dengan mudah mencemari bahan pangan.

Di suhu ruang, B. cereus berkembang biak dengan cepat. Pada saat yang sama, racun yang sudah terbentuk sebelumnya juga menumpuk. Ketika makanan yang terkontaminasi ini dikonsumsi, racun tersebut dapat memicu penyakit pada saluran pencernaan. Gejala yang muncul bisa berbeda-beda pada setiap orang. Beberapa orang mungkin hanya mengalami diare tanpa keluhan di bagian atas saluran cerna, sementara yang lain justru mengalami mual dan muntah hebat tanpa diare.

Namun, dampak dari B. cereus tidak hanya terbatas pada usus. Dalam beberapa kasus, infeksi juga bisa terjadi pada mata, saluran pernapasan, atau luka di kulit. Yang membuat B. cereus patut diwaspadai adalah enzim-enzim perusak jaringan yang dikeluarkannya, seperti hemolisin yang merusak sel darah, fosfolipase yang menghancurkan membran sel, dan protease yang memecah protein tubuh. Semua racun ini bekerja bersama, menjadikan B. cereus sebagai penyebab penyakit yang tidak bisa disepelekan.

Jenis-jenis Infeksi oleh Bacillus cereus

B. cereus Usus

Infeksi B. cereus pada usus menyebabkan keracunan makanan. Terdapat dua jenis utama:

Enterotoksin (sindrom diare)

Pada bentuk ini, racun diproduksi di dalam usus halus setelah makanan yang mengandung bakteri atau spora dimakan. Gejala biasanya muncul 6–15 jam setelah konsumsi makanan terkontaminasi. Makanan yang sering menjadi penyebab antara lain ikan, produk susu, daging, saus, sup, semur, dan sayuran.

Sindrom emetik (muntah)

Pada bentuk ini, racun sudah terbentuk di dalam makanan sebelum dimakan. Gejala muncul lebih cepat, yaitu 1–6 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Nasi sering dikaitkan dengan jenis ini, karena B. cereus bisa berkembang jika nasi matang dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang tanpa pendinginan. Makanan lain yang bisa menjadi penyebab antara lain keju, pasta, pastri, kentang, dan sushi.

B. cereus Non Usus

B. cereus non usus menyerang bagian tubuh di luar saluran pencernaan. Infeksi ini sering muncul pada mata, sistem pernapasan, dan luka. Bakteri ini bisa ditemukan di berbagai lingkungan, seperti debu, tanaman, tanah, dan air. Infeksi bisa terjadi jika spora masuk ke dalam tubuh melalui luka, penghirupan debu, atau kontak dengan alat medis yang terkontaminasi.

Penyakit yang bisa disebabkan oleh B. cereus non usus antara lain abses otak, selulitis, endoftalmitis, bakteremia, endokarditis, meningitis, pneumonia, dan osteomielitis.

Kenapa Bacillus cereus Menyebabkan Keracunan Makanan

Keracunan makanan akibat B. cereus terjadi ketika makanan dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang. Bakteri ini membentuk spora yang dapat melepaskan racun. Jika makanan dibiarkan pada suhu ruang, spora tersebut bisa berkembang biak. Saat spora ikut termakan, racun yang dihasilkannya dapat memicu diare atau muntah. Bahkan, keracunan makanan ini masih bisa terjadi meskipun makanan sudah dipanaskan kembali.

Siapa yang Rentan Terinfeksi

Orang dari segala usia dan ras bisa terinfeksi B. cereus, baik pada saluran pencernaan maupun di luar saluran pencernaan. Risiko meningkat pada bayi baru lahir, orang dengan kateter permanen, sistem kekebalan tubuh yang lemah, luka pascaoperasi, serta pengguna obat suntikan IV.

Gejala dan Diagnosis

Gejala keracunan makanan yang disebabkan oleh B. cereus meliputi nyeri perut, diare berair, dan kram perut untuk kasus enterotoksin, serta mual dan muntah untuk sindrom emetik. Untuk B. cereus non usus, gejalanya bergantung pada bagian tubuh yang terinfeksi. Komplikasi serius seperti endoftalmitis bisa menyebabkan kehilangan penglihatan atau bahkan kematian.

Untuk diagnosis, dokter akan menanyakan gejala setelah makan terakhir. Sampel makanan, feses, atau muntah bisa diambil untuk memastikan diagnosis. Tes darah juga bisa dilakukan untuk mendeteksi adanya racun. Pada kasus B. cereus non usus, tes darah digunakan untuk mencari bakteri dalam aliran darah, serta pemeriksaan cairan tubuh lain.

Pengobatan dan Komplikasi

Infeksi B. cereus umumnya bersifat self-limited, artinya bisa sembuh sendiri tanpa perlu terapi khusus. Pengobatan biasanya berupa perawatan simptomatik dengan hidrasi oral. Sebagian besar orang pulih dalam waktu 24 jam. Jika gejala sangat parah, dokter mungkin merekomendasikan cairan IV.

Pengobatan untuk B. cereus non usus bergantung pada kondisi spesifik. Biasanya, antibiotik diberikan, tetapi B. cereus telah terbukti resisten terhadap beberapa jenis antibiotik tertentu.

Komplikasi dari infeksi B. cereus jarang terjadi, kecuali pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain gangren, selulitis, meningitis aseptik, septikemia, dan kematian.

Cara Mencegah Infeksi

Beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan antara lain:
– Simpan makanan dingin di lemari es dengan suhu di bawah 5 derajat Celcius.
– Jaga makanan panas pada suhu di atas 57 derajat Celcius.
– Pastikan makanan yang dipanaskan ulang mencapai suhu di atas 74 derajat Celcius.
– Dinginkan makanan matang dalam waktu 6 jam hingga suhu di bawah 5 derajat Celcius.
– Buang makanan yang dicurigai terkontaminasi.
– Memasak makanan hingga 121 derajat Celcius selama lebih dari 80 menit untuk menghilangkan racun.
– Cuci tangan secara rutin.
– Hindari penggunaan obat suntik IV.
– Rawat luka dengan benar.
– Terapkan pengobatan untuk kondisi yang melemahkan sistem kekebalan tubuh.

Infeksi B. cereus umumnya menyebabkan keracunan makanan dengan gejala diare atau muntah, dan biasanya sembuh sendiri dalam 24 jam. Namun, pada orang dengan daya tahan tubuh lemah atau bila menyerang organ lain seperti mata, infeksi ini bisa menjadi serius bahkan berakibat fatal. Pencegahan tetap menjadi langkah utama, yaitu dengan menyimpan makanan pada suhu aman, tidak membiarkan terlalu lama di suhu ruang, serta menjaga kebersihan tangan dan peralatan. Dengan langkah-langkah sederhana ini, risiko infeksi B. cereus bisa diminimalkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *