Penerjemahan Sastra: Tantangan dan Keunikan dalam Menyampaikan Pesan Budaya
Penerjemahan sastra tidak hanya sekadar mengubah kata-kata dari satu bahasa ke bahasa lain, tetapi juga mempertahankan makna, nuansa, dan konteks budaya yang terkandung di dalamnya. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Indonesia, Safrina Noorman, menyoroti pentingnya penerjemahan bahasa asing ke dalam bahasa daerah seperti Sunda pada masa lalu. “Penerjemah spesialis untuk bahasa daerah masih minim,” ujarnya dalam acara Temu Sastra dan Terjemahan AYO BACA “Par les mots – Lewat Kata-kata” pada pertengahan November 2025 di Institut français d’Indonésie (IFI) Jakarta.
Keunikan penerjemahan bisa terlihat dalam berbagai kisah yang diangkat. Misalnya, kisah Pinocchio yang diubah menjadi Si Cangcorang, atau dongeng Grimm Bersaudara yang diterjemahkan menjadi ‘Warnasari atawa Roepa-roepa’. Safrina menyebutkan bahwa minimnya jumlah penerjemah spesialis bahasa daerah menjadi kendala signifikan dalam proses ini.
Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah mengatasi kebuntuan kontekstual akibat keragaman bahasa dan karakter masyarakat. Kontekstual ini sangat penting untuk memastikan bahwa “sensasi” teks asli dapat tersampaikan secara setara. Solusi yang digunakan oleh Safrina adalah dengan mencari dan membaca puisi serupa dari penyair yang bersangkutan, terutama saat ia menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Sastra berfungsi sebagai gambaran perilaku dan sosialisasi suatu masyarakat. Seseorang tentu bisa mempelajari budaya melalui sastra. Cara ini bisa membuka pikiran, memberikan perspektif baru, dan memungkinkan pemahaman akan kehidupan manusia dari beragam latar belakang. Namun, proses ini sering terhambat oleh kendala bahasa.
Di sinilah peran penerjemah sastra dibutuhkan. Mereka bertugas meruntuhkan dinding perbedaan dan membangun jembatan komunikasi antarbudaya. Secara teknis, penerjemah harus menguasai bahasa sumber dan bahasa target, serta mampu memahami materi terjemahan secara kontekstual dan mendalam.
Tidak hanya penerjemahan bahasa asing ke bahasa daerah, sebaliknya penerjemahan sastra Indonesia ke bahasa Prancis pun memiliki tantangannya sendiri. Penerjemah dan peneliti asal Prancis, Isadora Fichou, membagikan pengalamannya menerjemahkan sastra Indonesia ke bahasa Prancis.

Penerjemah dan peneliti asal Prancis Isadora Fichou (dengan mic)/Tempo-Melika Ayaza
Untuk disertasinya, Fichou memilih objek penelitian puisi Chairil Anwar dan membandingkannya dengan penyair pascaperang lain, Sitor Situmorang dan René Char. Ia berfokus pada estetika sastra pascaperang yang padat dan singkat.
Demi pemahaman konteks yang asli, Fichou melakukan riset lapangan di Medan pada tahun 2019, berdiskusi dengan budayawan dan masyarakat. Ia mengatakan diskusi harian dengan masyarakat sangat membantu memberikan konteks sosial dan kultural yang autentik. “Proses menerjemahkan bukan hanya menerjemahkan kata-kata, tapi juga menyampaikan sebuah realitas sosial dan politik,” katanya.
Ia juga mengatakan bagian pribadi setiap penerjemah akan tertuang saat menerjemahkan sehingga proses penerjemahan tak dapat dipisahkan dari pengalaman personal.
Menurut Fichou, konsep-konsep lama seperti kesetiaan, ekuivalensi, dan transparansi dalam penerjemahan tidak lagi sepenuhnya relevan. Menurutnya, penerjemah hari ini harus berani menunjukkan perbedaan antarbahasa, bukan sekadar kemiripan, sebab tidak ada bahasa yang universal.
Kesulitan baginya dalam penerjemahan sastra ini adalah menerjemahkan kombinasi dan asosiasi kata-kata Chairil Anwar seperti “melompat-mendalam,” “melepas dan renggut”. Kata-kata itu perlu diubah ke dalam bahasa Prancis tanpa menghilangkan “kesingkatan” dan kepadatan ekspresi aslinya.
MELIKA AYAZA






