Studi: Kehilangan Indra Penciuman Setelah COVID-19

News94 Dilihat

Studi Terbaru Mengungkap Dampak Jangka Panjang Gangguan Penciuman Akibat Infeksi COVID-19

Banyak orang yang pernah terinfeksi virus SARS-CoV-2 mengalami gejala seperti demam dan kesulitan bernapas. Namun, salah satu efek yang sering diabaikan adalah hilangnya indra penciuman atau perasa. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Network Open menunjukkan bahwa gangguan ini bisa bertahan selama bertahun-tahun setelah infeksi awal.

Studi ini dilakukan sebagai bagian dari proyek besar bernama RECOVER-Adult Study. Proyek ini melibatkan ribuan peserta dengan dan tanpa riwayat infeksi SARS-CoV-2 sejak Oktober 2021 hingga Juni 2025. Tujuan utamanya adalah memahami dampak jangka panjang dari infeksi virus corona terhadap kesehatan masyarakat.

Tes Penciuman yang Mengungkap Kebiasaan yang Tidak Disadari

Para peneliti menggunakan tes penciuman bernama University of Pennsylvania Smell Identification Test (UPSIT). Tes ini mencakup 40 aroma berbeda, mulai dari bau buah hingga bahan kimia. Dalam penelitian ini, lebih dari 2.900 penyintas COVID-19 ikut serta, dengan sebagian besar adalah perempuan berusia rata-rata 47 tahun. Selain itu, sekitar 569 orang tanpa riwayat infeksi juga diikutsertakan sebagai kelompok pembanding.

Banyak peserta awalnya tidak menyadari adanya gangguan pada indra penciumannya. Namun, setelah menjalani tes formal, mereka menunjukkan hasil yang abnormal. Misalnya:

  • Sebanyak 66 persen penyintas yang tidak melaporkan gangguan penciuman tetap memiliki hasil tes yang tidak normal.
  • Lebih dari 23 persen di antaranya mengalami gangguan yang cukup parah.
  • Bahkan pada kelompok yang tidak pernah terinfeksi, sekitar 60 persen mengalami gangguan ringan.

Pola Unik dalam Gangguan Penciuman

Tim peneliti menemukan pola unik terkait jenis bau yang sulit diidentifikasi. Beberapa peserta kehilangan kemampuan untuk mencium aroma tertentu, seperti jeruk, semangka, hingga bubble gum. Para peneliti mengaitkan hal ini dengan fungsi kognitif, karena indra penciuman sangat berkaitan erat dengan memori, emosi, dan pengambilan keputusan.

Dampak Jangka Panjang dan Tindakan yang Harus Diambil

Gangguan penciuman tidak hanya membuat makanan terasa hambar. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa disfungsi indra penciuman bisa menjadi tanda awal dari penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer atau Parkinson. Dr. Leora Horwitz, salah satu penulis utama studi ini dari NYU Langone Health, menjelaskan bahwa gangguan ini dapat berdampak signifikan pada kesehatan mental dan fisik seseorang.

Karena itu, para ahli menyarankan agar pemeriksaan indra penciuman dimasukkan dalam perawatan rutin pasca-COVID-19. Bagi penyintas, penting untuk tidak mengabaikan perubahan kecil pada indra penciuman. Konsultasi ke dokter bisa membantu mendeteksi gangguan lebih lanjut secara dini. Peneliti juga menekankan perlunya tes penciuman formal agar gejala ini tidak lagi dianggap sebelah mata.

Rekomendasi untuk Masa Depan

Studi ini menegaskan bahwa gangguan penciuman akibat infeksi COVID-19 bisa sangat kompleks dan berlangsung lama. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat dan tenaga medis untuk lebih waspada terhadap gejala-gejala yang muncul setelah infeksi. Dengan peningkatan kesadaran dan pemeriksaan yang tepat, potensi kerusakan jangka panjang dapat diminimalkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *