Studi: Jenis Depresi yang Prediksi Risiko Diabetes dan Jantung

Berita187 Dilihat

Penelitian Menemukan Hubungan Antara Jenis Depresi dan Risiko Penyakit Fisik

Depresi sering dianggap sebagai kondisi yang memiliki gejala serupa, seperti rasa sedih, kehilangan energi, dan kesulitan menjalani hari sehari-hari. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa depresi lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Dua individu dengan diagnosis yang sama bisa mengalami dampak fisik yang sangat berbeda, termasuk risiko terkena diabetes atau penyakit jantung.

Selama tujuh tahun, para peneliti melakukan studi pada hampir 6.000 orang dewasa dalam Netherlands Epidemiology of Obesity (NEO) Study. Semua peserta awalnya tidak menderita diabetes atau penyakit kardiovaskular. Penelitian ini tidak hanya fokus pada kesehatan fisik, tetapi juga pada detail gejala depresi yang mereka alami. Dari pengamatan tersebut, ditemukan pola menarik: jenis depresi tertentu dapat menjadi petunjuk risiko penyakit tertentu.

Jenis Depresi dan Risiko Penyakit yang Berbeda

Peneliti menemukan dua kelompok besar:

  • Depresi dengan gejala “melankolik”, seperti bangun terlalu pagi, kehilangan selera makan, dan suasana hati yang berat.
  • Depresi “atypical/energy-related”, ditandai oleh kelelahan ekstrem, tidur berlebihan, serta peningkatan selera makan.

Hasil penelitian mengejutkan. Dari seluruh peserta, sebanyak 8 persen mengalami penyakit kardiometabolik selama masa studi, dan jenis depresinya menentukan penyakit apa yang muncul.

Orang dengan gejala atypical/energy-related memiliki risiko 2,7 kali lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 dibanding mereka yang tanpa gejala depresi. Namun, tipe ini tidak menunjukkan peningkatan signifikan pada penyakit jantung.

Sebaliknya, kelompok melankolik memiliki pola berbeda: risiko 1,5 kali lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung atau stroke, tetapi tanpa peningkatan risiko diabetes.

Perbedaan Biologis yang Jelas

Dr. Yuri Milaneschi, peneliti utama dari Amsterdam UMC, menjelaskan bahwa analisis metabolik mengungkapkan perbedaan biologis yang jelas. Pada tipe atypical, terjadi gangguan pada proses inflamasi dan metabolisme yang berkaitan dengan risiko diabetes, pola yang tidak terlihat pada depresi melankolik.

Temuan ini membuka pintu ke arah psikiatri presisi, di mana tipe depresi bukan hanya label psikologis, tetapi juga jendela untuk memahami risiko fisik yang lebih spesifik.

Pentingnya Temuan Ini

Menurut Dr. Chiara Fabbri dari University of Bologna, temuan ini sejalan dengan kebutuhan penting dalam kesehatan publik. Ia mengingatkan bahwa pencegahan dan penanganan penyakit fisik pada pasien depresi sama pentingnya dengan mengobati depresinya sendiri.

Fabbri menunjukkan bahwa jumlah orang dengan diabetes di wilayah Eropa diperkirakan meningkat 10 persen pada 2050, mencapai 66 juta orang, menegaskan pentingnya skrining, deteksi dini, dan pemantauan bagi masyarakat dengan depresi.

Studi ini dipresentasikan dalam 38th ECNP Congress dan memberi arah baru bagaimana dokter bisa menghubungkan kesehatan mental dan fisik secara lebih presisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *