Studi Ini Ungkap Dua Suplemen Bantu Lawan Kanker Otak

Berita66 Dilihat

Pendekatan Baru dalam Pengobatan Kanker

Selama ini, kanker dianggap sebagai musuh yang harus dihancurkan. Berbagai metode seperti kemoterapi, radioterapi, dan imunoterapi digunakan untuk mengatasi penyakit ini. Namun, tim peneliti yang dipimpin oleh Prof. Indraneel Mittra dari Advanced Centre for Treatment, Research and Education in Cancer, Mumbai, India, menawarkan pendekatan yang berbeda. Mereka bertanya: bagaimana jika kunci penyembuhan kanker bukanlah menghancurkan, melainkan menyembuhkan?

Gagasan ini tidak muncul begitu saja. Pada tahun 1986, Dr. Harold Dvorak menulis di New England Journal of Medicine bahwa kanker mirip dengan luka yang tidak pernah sembuh. Keduanya memiliki banyak karakteristik biologis yang serupa. Inspirasi dari konsep ini membuat Prof. Mittra mulai memikirkan pendekatan baru. Gagasannya adalah bukan lagi melawan kanker, tetapi memulihkan jaringan yang rusak.

Studi pada Pasien Glioblastoma

Ide ini diuji dalam sebuah studi yang melibatkan pasien glioblastoma, salah satu jenis kanker otak yang paling mematikan. Penelitian ini menggunakan dua bahan sederhana yang mudah ditemukan, yaitu resveratrol dan tembaga.

Harapan dari suplemen sederhana ini cukup besar. Glioblastoma terkenal agresif dengan harapan hidup rata-rata hanya sekitar 15 bulan meski sudah melalui operasi, radiasi, dan kemoterapi. Dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal BJC Reports, Prof. Mittra memberikan 10 pasien glioblastoma tablet berisi resveratrol dan tembaga empat kali sehari selama rata-rata 11,6 hari sebelum operasi.

Hasilnya sangat mengejutkan dibandingkan dengan pasien kontrol:

  • Protein penanda pertumbuhan kanker (Ki-67) turun hingga sepertiga.
  • Biomarker sembilan ciri kanker berkurang 57 persen.
  • Enam jenis “immune checkpoints” menurun 41 persen.
  • Penanda stem cell penyebab penyebaran kanker turun 56 persen.
  • Tidak ada efek samping sama sekali.

Mekanisme Kerja Resveratrol dan Tembaga

Kuncinya terletak pada satu hal, yaitu cell-free chromatin particles (cfChPs), fragmen DNA yang dilepas oleh sel kanker yang mati—dan justru memperparah agresivitas kanker. Resveratrol dan tembaga menghasilkan oksigen radikal yang menghancurkan partikel ini. Hasil analisis jaringan menunjukkan bahwa cfChPs nyaris hilang pada pasien yang diberikan suplemen.

Dengan kata lain, alih-alih dibiarkan memicu inflamasi dan kekambuhan, sisa-sisa sel kanker “dibersihkan” lebih cepat, sehingga tumor jadi lebih “tenang”, kurang agresif, dan mungkin, dalam waktu lebih lama, bisa menjadi jinak.

Kesimpulan dan Harapan

Prof. Mittra menyimpulkan: “Kita sudah mencoba membunuh kanker selama 2.500 tahun. Mungkin sudah saatnya mencoba menyembuhkannya.”

Penemuan ini membuka jalan bagi pengobatan kanker yang lebih manusiawi dan berfokus pada pemulihan daripada penghancuran. Dengan pendekatan baru ini, harapan bagi pasien kanker, khususnya glioblastoma, semakin terbuka lebar.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *