Pengertian Stroke Perinatal
Meski jarang terjadi, bayi bisa mengalami stroke baik saat masih dalam kandungan maupun setelah lahir. Stroke yang terjadi pada tahap akhir kehamilan atau dalam beberapa minggu pertama kehidupan bayi disebut sebagai stroke perinatal. Istilah ini mencakup berbagai jenis stroke, seperti stroke prenatal (sebelum lahir), stroke neonatal (dalam 28 hari pertama kehidupan), dan stroke masa kanak-kanak (dari 29 hari hingga 18 tahun).
Jenis-Jenis Stroke Perinatal
Ada beberapa jenis stroke perinatal yang berbeda-beda berdasarkan penyebabnya:
- Stroke iskemik arteri perinatal (PAIS): Terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat karena pembekuan darah.
- Trombosis sinus vena serebral (CVST): Bekuan darah terbentuk di saluran darah di otak, menyebabkan gangguan pengeluaran cairan dari otak.
- Stroke hemoragik: Akibat pecahnya pembuluh darah di otak.
- Infark vena periventrikular (PVI): Penyumbatan darah di area putih otak janin yang dapat menyebabkan cerebral palsy.
Setiap jenis memiliki mekanisme penyebab yang berbeda, meskipun sebagian besar penyebabnya belum sepenuhnya dipahami.
Penyebab Stroke Perinatal
Banyak faktor risiko yang diketahui dapat menyebabkan stroke perinatal. Beberapa antara lain infeksi ibu atau bayi, kelainan jantung bawaan, gangguan pembekuan darah, dehidrasi, dan persalinan traumatis. Namun, dalam banyak kasus, penyebabnya tidak ditemukan bahkan pada bayi yang lahir sehat.
Beberapa penyebab spesifik untuk masing-masing jenis stroke meliputi:
– PAIS sering terjadi karena bekuan darah di plasenta atau infeksi bakteri.
– CVST bisa disebabkan oleh dehidrasi, infeksi, atau gangguan pembekuan darah.
– PVI kemungkinan berkaitan dengan kelemahan genetik pembuluh darah otak.
– Stroke hemoragik bisa terjadi akibat pembuluh darah yang tidak normal atau gangguan pembekuan darah.
Tanda dan Gejala Stroke Perinatal
Gejala stroke perinatal bisa muncul dalam dua cara:
– Dalam 24 jam pertama kehidupan: Kejang adalah gejala paling umum. Bayi juga bisa mengalami lesu atau kesulitan bernapas.
– Di masa kanak-kanak: Tanda awal bisa berupa preferensi tangan atau asimetri motorik. PVI biasanya menunjukkan gejala ini.
Jika gejala muncul lebih lambat, kondisi ini disebut sebagai presumed prenatal stroke. Karena gejalanya tidak selalu jelas, diagnosis bisa menjadi sulit.
Diagnosis Stroke Perinatal
Untuk mendiagnosis stroke perinatal, dokter biasanya menggunakan pencitraan otak seperti MRI, CT scan, atau USG. Tes laboratorium juga digunakan untuk memeriksa faktor risiko seperti infeksi atau gangguan pembekuan darah. Tes seperti ECHO, EKG, EEG, dan pungsi lumbal juga bisa membantu dalam proses diagnosis.
Penanganan dan Pengobatan
Pengobatan stroke perinatal tergantung pada jenis dan tingkat keparahan. Obat antikonvulsan digunakan untuk mengontrol kejang. Untuk stroke hemoragik, operasi mungkin diperlukan. Hipotermia terapeutik, yaitu pendinginan kepala bayi, juga digunakan untuk mencegah kerusakan otak. Selain itu, terapi fisik, terapi wicara, dan intervensi pendidikan bisa membantu anak dalam pemulihan jangka panjang.
Komplikasi yang Mungkin Terjadi
Beberapa komplikasi yang mungkin muncul setelah stroke perinatal termasuk hemiparesis (kelemahan satu sisi tubuh), epilepsi, gangguan kognisi, gangguan bahasa, dan masalah penglihatan. Keluarga juga perlu diperhatikan secara mental karena stres pasca-stroke bisa memengaruhi kesehatan jiwa mereka.
Prognosis dan Pemulihan
Bayi yang mengalami stroke perinatal memiliki peluang pemulihan yang cukup baik jika mendapatkan perawatan dini. Rehabilitasi dan intervensi dini sangat penting untuk meningkatkan hasil jangka panjang. Meski risiko stroke ulang rendah, anak-anak dengan kondisi jantung bawaan atau gangguan pembekuan darah membutuhkan pemantauan lebih lanjut.








