Pentingnya Kebersihan dalam Pemrosesan dan Penyimpanan Air Susu Ibu
Air susu ibu (ASI) secara alami memiliki sifat steril dan mengandung berbagai komponen penting yang melindungi kesehatan bayi. Namun, kondisi steril ini bisa hilang akibat kontaminasi yang terjadi selama proses pemerahan, penyimpanan, dan pemberian ASI. Faktor-faktor seperti pompa ASI yang tidak dibersihkan dengan benar, botol atau wadah penyimpanan yang terpapar air tercemar, serta tangan ibu yang tidak higienis dapat menjadi jalur masuk kuman berbahaya.
Risiko ini semakin meningkat dalam situasi pengungsian akibat bencana, seperti banjir. Kondisi darurat seperti ini membuat akses terhadap air bersih, fasilitas sanitasi, dan ruang yang layak untuk menjaga kebersihan menjadi sangat terbatas. Oleh karena itu, upaya melindungi bayi dari penyakit infeksi tidak cukup hanya dengan mendorong pemberian ASI, tetapi juga memastikan praktik kebersihan yang memadai agar ASI tetap aman hingga dikonsumsi oleh bayi.
Ancaman Bakteri Langka
Berdasarkan laporan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dua bayi terinfeksi bakteri Cronobacter sakazakii, yaitu bakteri langka yang dalam beberapa kasus dapat mengancam nyawa. Temuan ini menegaskan bahwa pencegahan adalah kunci utama dalam meminimalkan risiko infeksi, terutama pada bayi usia sangat muda.
CDC dan para ahli menyarankan bahwa bakteri ini dapat ditemukan pada bagian pompa ASI dan botol susu. Oleh karena itu, kebersihan peralatan menyusui menjadi aspek yang sangat krusial. Sterilisasi botol, peralatan makan, atau aksesori pompa ASI yang tidak memadai, kebiasaan mencuci tangan yang buruk, serta penggunaan air yang terkontaminasi untuk mencampur susu formula dapat menjadi sumber infeksi.
Untuk menurunkan risiko penularan, orang tua disarankan mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum menyiapkan botol, susu, atau makanan bayi. Jika air dan sabun tidak tersedia, pembersih tangan berbahan dasar alkohol minimal 60 persen dapat digunakan sebagai alternatif. Dengan kebiasaan mencuci tangan yang menyeluruh serta teknik pembersihan dan sterilisasi peralatan yang tepat, orang tua dapat secara signifikan mencegah paparan bakteri ini, khususnya pada bayi yang masih sangat kecil atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Risiko Penggunaan Pompa ASI yang Berulang
Dalam studi lain, peneliti menemukan bahwa bakteri dapat melewati botol penampung pada pompa ASI. Bakteri terdeteksi pada bagian-bagian pompa yang berada di luar area kontaminasi yang terlihat secara kasatmata, dengan tingkat kontaminasi yang meningkat seiring penggunaan alat secara berulang.
Menariknya, meskipun botol penampung digunakan dalam kondisi steril, kontaminasi balik (retrograde contamination) terhadap ASI yang baru diperah tetap dapat terjadi akibat komponen pompa yang sebelumnya telah terkontaminasi. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan filter udara in-line pada bagian akhir pompa sangat penting untuk mencegah aerosol yang mengandung bakteri berpotensi patogen mencemari sumber hisapan atau dilepaskan ke lingkungan melalui udara buangan.
Selain itu, apabila satu pompa ASI digunakan oleh lebih dari satu orang, sterilisasi menyeluruh terhadap seluruh komponen yang dapat dilepas menjadi langkah yang wajib dilakukan untuk menekan risiko penularan.
Bersihkan Pompa ASI dengan Benar

Penyimpanan ASI dalam kondisi beku dinilai aman karena dapat menghambat pertumbuhan bakteri, sehingga cocok untuk penyimpanan jangka panjang. Namun, pembekuan dan penyimpanan yang terlalu lama berisiko menyebabkan penurunan bertahap beberapa komponen kekebalan dalam ASI. Artinya, ada kompromi antara masa simpan yang lebih panjang dan tetap terjaganya zat pelindung alami ASI, seperti antibodi dan sel imun.
Terkait kebersihan, beberapa metode pembersihan dinilai efektif dan relatif mudah dilakukan. Peralatan pompa ASI sebaiknya dicuci menggunakan air hangat dan sabun, lalu dibilas hingga benar-benar bersih untuk menghilangkan sisa sabun dan residu ASI. Setelah itu, jika memungkinkan, proses pencucian dilanjutkan dengan disinfeksi.
Secara umum, semua peralatan yang bersentuhan langsung dengan ASI perah—seperti corong pompa ASI, selang yang dapat dibersihkan, wadah penyimpanan, serta botol dan dot—harus dibersihkan dan didisinfeksi dengan benar. Tujuannya adalah menekan jumlah kuman dari lingkungan yang dapat tumbuh pada sisa ASI dan mencemari susu yang telah diperah saat digunakan kembali.
Para penulis studi menekankan bahwa keamanan ASI perah tidak hanya bergantung pada metode pembersihan yang dianjurkan, tetapi juga konsistensi penerapannya.






