Purbaya: Meski Ekonomi Tumbuh Lambat, Orang Tetap Turun ke Jalan

Berita288 Dilihat



JAKARTA, situswanita.com

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan peringatan mengenai potensi risiko yang muncul jika pertumbuhan ekonomi tidak merata dan terlalu lambat. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bisa memicu masyarakat melakukan aksi demonstrasi, meskipun angka kemiskinan dan pengangguran relatif terjaga.

Peringatan ini disampaikan oleh Menkeu saat memberikan arahan kepada para kepala daerah seluruh Indonesia dalam rapat pengendali inflasi daerah 2025 di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (20/10/2025). Dalam kesempatan tersebut, Purbaya membahas perkembangan terkini perekonomian nasional, termasuk angka inflasi, daya beli masyarakat, pertumbuhan ekonomi, serta persentase kemiskinan dan pengangguran.

Menurutnya, meskipun berbagai indikator ekonomi menunjukkan stabil, pemerintah tetap harus waspada. “Tapi kita harus waspada, Pak. Kalau pertumbuhan (ekonomi) kita enggak merata dan lambat, walaupun angka kemiskinan rendah, tetap aja orang turun ke jalan seperti beberapa bulan yang lalu,” ujar Purbaya.

Ia menjelaskan bahwa inflasi Indonesia saat ini terkendali di angka 2,65 persen, yang merupakan yang terendah di antara negara-negara anggota kerja sama ekonomi G20. Angka ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga, sementara pertumbuhan ekonomi berjalan stabil. Selain itu, defisit APBN terjaga di level 1,56 persen dari PDB, jauh di bawah batas 3 persen yang ditetapkan.

“Ini bukti disiplin fiskal tetap kuat, tapi kita juga punya ruang untuk mendorong ekonomi kalau diperlukan,” tegasnya.

Purbaya juga menyebutkan bahwa neraca perdagangan naik 45,8 persen sepanjang Januari sampai September, dan surplus ini bertahan selama 64 bulan berturut-turut. Tingkat pengangguran turun ke 4,76 persen, sedangkan tingkat kemiskinan mencapai 8,47 persen. Angka ini adalah yang terendah sejak krisis 1998, bahkan terendah sepanjang sejarah.

Di pasar keuangan, indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat menembus rekor 8.257, sementara obligasi dengan yield 10 tahun turun ke 5,91. Menurut Purbaya, kondisi ini adalah yang terendah sejak 2021. “Jadi untuk pemerintah ini menguntungkan, karena sekarang bunganya rendah kalau kita terbitkan obligasi atau surat utang baru. Semua ini menunjukkan satu hal, ekonomi Indonesia sehat, stabil, dan dipercaya pasar,” jelasnya.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sambil memastikan manfaatnya dirasakan hingga ke tingkat bawah. “Sekarang tinggal bagaimana kita menjaga momentumnya sambil memastikan pertumbuhan ini terasa sampai ke bawah. Untuk sampai ke bawah, perang pemuda daerah tingkat 1 dan daerah tingkat 2 itu lebih kuat dibanding perang pemerintah pusat,” tambah Purbaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *