Pengrajin Batik Yogyakarta Jajaki Pasar Wisatawan Internasional

Berita157 Dilihat

Pelaku Industri Batik Berharap Bisa Menjangkau Wisatawan Mancanegara

Kalangan pelaku industri batik di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berharap dapat membuka pasar wisatawan mancanegara untuk meningkatkan penjualan produk fashion mereka yang masuk dalam kategori eksklusif dan terbatas. Salah satu pelaku industri batik Yogyakarta, Yunet Wahyuningsih, menyampaikan bahwa selama ini kebanyakan produk batik masih lebih dominan terserap di kalangan wisatawan domestik. Padahal, di kalangan pelaku fashion batik, juga tak henti menciptakan produk berbahan batik, yang sifatnya lebih terbatas terutama untuk segmen menengah atas dan wisatawan mancanegara.

“Saat ini produk batik masih banyak (terserap) oleh wisatawan (domestik) sehingga yang dicari banyak ke pusat oleh-oleh, yang harganya grosiran-kodian. Bukan jenis batik fashion yang ready to wear,” kata Yunet di sela fashion show koleksi batiknya di forum 3rd International Conference on Islamic and Halal Economic Studies (ICIHES) 2025 di Yogyakarta, Selasa 4 November 2025.

Dalam forum yang dihelat Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) dan sejumlah kampus Jepang dan Malaysia itu, Yunet menyampaikan harapan agar pangsa pasar batik semakin meluas. Batik sebagai bagian dari industri fashion, menurut dia, bisa menjamah berbagai segmen, dari bawah hingga atas. Sehingga karya-karya fashion batik juga terus berkembang, mengikuti segmen pasar yang dibidik masing-masing industri. Salah satunya adalah industri halal yang bisa dimasuki untuk fashion batik muslim yang masih terbatas pasarnya.

“Yogyakarta sebagai gudang perajin batik, kami berharap suatu saat ada semacam mall khusus batik sehingga wisatawan mancanegara ketika datang bisa memiliki alternatif belanja,” ujar Yunet yang merintis usaha batiknya dengan nama Renjanayu Batik di kawasan Imogiri, Kabupaten Bantul Yogyakarta itu.

Pasar Batik Wisatawan Mancanegara

Sebagai pelaku fashion batik ready to wear, Yunet menyebutkan bahwa dalam sebulan ia bisa memproduksi 35 karya batik dengan rentang harga Rp 1-1,5 juta. Pasar batiknya selama ini masih di kalangan wisatawan ASEAN seperti Malaysia dan Singapura, namun belum merambah ke segmen pasar Eropa.

“Kalau untuk menyasar pasar wisatawan Eropa, harus ada semacam edukasi pasar juga bahwa produk itu benar-benar handmade, yang memang limited edition. Nah kami ingin pasar itu semakin meluas ke sana,” tambahnya.

Namun, menurut Yunet, memperluas pasar tersebut tidak mudah jika dilakukan sendiri oleh pelaku industri batik. Ia menilai makin banyaknya event bertaraf internasional bisa menjadi salah satu jalan membuka pasar baru itu. Seperti saat koleksi batiknya ditampilkan di hadapan ratusan delegasi mancanegara.

“Dengan adanya event internasional itu kita bisa dipertemukan dengan orang yang tak sekadar melancong lalu beli oleh-oleh, tapi yang juga melihat ada jenis fashion batik yang dibuat terbatas,” ujarnya.

Forum Internasional untuk Penguatan Jejaring

Ketua Program Doktor Perekonomian Islam dan Industri Halal Sekolah Pascasarjana UGM Reni Rosari menjelaskan bahwa forum internasional tersebut menjadi ruang komunitas global seperti ilmuwan, pembuat kebijakan, dan industri, untuk membahas berbagai isu dan kebijakan praktik ekonomi syariah dan industri halal dunia.

“Event di Yogyakarta ini menjadi event perdana di Indonesia, setelah event pertama dan kedua diselenggarakan di Malaysia,” ujar Reni yang juga ketua pelaksana event itu.

Menurut Reni, dalam forum tersebut tidak hanya menjadi ajang pertukaran ilmu pengetahuan namun juga penguatan jejaring untuk pembangunan ekonomi halal yang inklusif. Yang diharapkan bisa membawa industri lokal Yogyakarta berkembang, terutama untuk industri yang menyasar wisatawan mancanegara.

Ekonomi Halal yang Berkembang Pesat

Rika Fatimah, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Yogyakarta, menjelaskan bahwa saat ini ekonomi halal berkembang sangat pesat di tingkat global. Ia menyebut nilai perdagangan halal dunia mencapai USD 3,1 triliun pada tahun 2018, dan diperkirakan meningkat menjadi USD 5 triliun pada tahun 2030.

Di Indonesia, nilai industri halal tercatat USD 184 miliar pada tahun 2020, dan diproyeksikan menjadi USD 281,6 miliar pada tahun 2025.

“Data ini menunjukkan bahwa ekonomi halal tidak lagi dipandang sebagai isu keagamaan semata, tetapi telah menjadi strategi ekonomi global yang mencakup pariwisata, pangan, farmasi, kosmetik, keuangan, hingga tata kelola rantai pasok global,” jelas Rika.

Dalam forum ini, UGM menggandeng Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Kyoto University, dan Ritsumeikan University dari Jepang, serta Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *