Menyediakan ponsel kepada anak sebelum usia yang tepat memiliki risiko tinggi. Beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa kepemilikan ponsel atau smartphone terlalu dini dapat menyebabkan peningkatan gangguan kesehatan mental, pola tidur yang buruk, serta risiko obesitas pada masa remaja.
Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Pediatrics, Senin, 1 Desember 2025, menemukan bahwa anak-anak yang memiliki ponsel sebelum usia 12 tahun lebih mungkin mengalami depresi, obesitas, dan kebiasaan tidur yang buruk dibandingkan dengan mereka yang tidak. Para peneliti menyimpulkan hal tersebut setelah mengevaluasi data dari lebih dari 10.500 anak yang berpartisipasi dalam studi Adolescent Brain Cognitive Development, sebuah penelitian jangka panjang terbaru dan terbesar tentang perkembangan otak anak-anak.
Ran Barzilay, penulis utama studi ini dan seorang psikiater anak dan remaja di Rumah Sakit Anak Philadelphia, mengatakan bahwa ketika orang tua memberi anak ponsel maka itu akan mempengaruhi kesehatannya. “Seorang anak di usia 12 tahun sangat, sangat berbeda dengan seorang anak di usia 16 tahun,” kata dia.
Kurang Sosialisasi, Olahraga, dan Tidur
Penelitian ini sebenarnya tidak membuktikan hasil tersebut secara langsung. Namun, seperti studi sebelumnya, kepemilikan ponsel di usia dini menyebabkan anak kurang sosialisasi, olahraga, dan tidur. Salah satu studi terdahulu yang diterbitkan pada 2023 menemukan bahwa anak-anak berusia 11 dan 12 tahun yang memiliki perangkat elektronik di kamar tidur hampir 17 persen terbangun karena notifikasi.
Sementara itu, lebih dari 80 persen anak-anak berusia antara 11 dan 17 tahun tidak mendapatkan jumlah aktivitas fisik harian yang disarankan, sebagian karena meningkatnya fokus pada layar. Seperfti diketahui, kurang gerak dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan perilaku sosial pada anak.
Sebelumnya, sebuah penelitian yang dimuat Journal of Human Development and Capabilities mengungkap bahwa memberikan ponsel kepada anak yang belum berusia 13 tahun merupakan sebuah kesalahan besar. Kebiasaan yang semakin umum ini diam-diam mengancam kesehatan mental anak yang dampaknya terasa hingga dewasa.
42 persen anak-anak di AS memegang ponsel pintar saat mereka berusia 10 tahun. Lebih dari 70 persen anak berusia 12 tahun memilikinya. Akibatnya, para penulis berpendapat bahwa sudah saatnya untuk intervensi regulasi.
Sejak awal tahun 2000-an, ponsel pintar dan platform digital berbasis AI telah mengubah cara anak-anak berkomunikasi, bermain, dan membentuk identitas. Namun, tidak seperti alkohol atau tembakau, penggunaan ponsel pintar dan media sosial sejauh ini luput dari perhatian regulasi. Menurut para peneliti, hal itu turut memicu lingkungan digital rekayasa yang dapat mengeksploitasi kerentanan psikologis anak-anak sekaligus mengganggu tugas-tugas perkembangan penting seperti tidur, ikatan sosial, dan pengaturan emosi.
Penting bagi orang tua untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari memberikan ponsel kepada anak. Meskipun teknologi bisa menjadi alat bantu dalam pembelajaran dan komunikasi, penggunaannya yang terlalu dini dapat merusak kesehatan mental dan fisik anak. Orang tua perlu menetapkan batasan yang jelas terkait penggunaan gadget dan memastikan anak tetap aktif secara fisik serta memiliki waktu yang cukup untuk tidur dan bersosialisasi.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh orang tua antara lain:
- Membatasi waktu penggunaan ponsel anak, terutama menjelang tidur.
- Memastikan anak memiliki ruang bebas gadget di kamar tidur untuk memfasilitasi tidur yang lebih baik.
- Mengajak anak beraktivitas luar ruangan dan berolahraga secara rutin.
- Memberikan contoh yang baik dengan menggunakan ponsel secara bijak dan tidak terlalu sering.
- Berkomunikasi dengan anak untuk memahami kebutuhan dan keinginan mereka tanpa terlalu bergantung pada teknologi.
Dengan pendekatan yang tepat, orang tua dapat membantu anak menghadapi tantangan digital sambil menjaga kesehatan dan kesejahteraan mereka.






