Panduan Menyusui Ibu di Wilayah Banjir

Berita94 Dilihat

Panduan Menyusui untuk Ibu di Wilayah Bencana

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui Satuan Tugas Bencana (Satgas Bencana) dan Satuan Tugas Air Susu Ibu (Satgas ASI) telah merancang panduan khusus untuk ibu menyusui yang berada di wilayah terdampak bencana banjir, seperti Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Panduan ini bertujuan untuk memastikan bahwa kebutuhan ibu dan bayi tetap terpenuhi meski dalam situasi darurat.

“Sebagai praktisi kesehatan, terutama dokter anak, kita harus menjamin kebutuhan ibu yang membawa bayi dalam situasi bencana. Artinya kita harus memberikan kepastian bahwa proses menyusui tetap dapat dilanjutkan,” ujar dr. Kurniawan Taufiq Kadafi, M. Biomed, Sp.A, Subsp.E.T.I.A(K), Ketua Satgas Penanggulangan Bencana IDAI dalam sebuah media briefing.

Jaminan untuk Ibu Menyusui

Dalam situasi krisis, ibu menyusui tetap membutuhkan tempat yang nyaman dan privasi untuk menyusui anaknya agar prosesnya tetap optimal. IDAI menekankan pentingnya pendampingan menyusui, termasuk bantuan praktis bagi ibu yang menyusui secara parsial, seperti penggunaan susu formula dan dot/botol.

“Jaminan juga bagi ibu atau keluarga yang bayinya tidak disusui untuk mendapatkan akses ASI donor atau apabila terpaksa menggunakan susu formula. Hal yang sangat penting diperhatikan adalah air bersih dan fasilitas yang diperlukan. Pendampingan relaktasi bagi bayi yang berhenti menyusui dan ingin memulai menyusui juga sangat penting,” jelas dr. Kadafi.

Prioritaskan Menyusui Daripada Susu Formula

Menyusui lebih penting karena penggunaan susu formula sering kali bergantung pada ketersediaan air bersih, yang bisa menjadi masalah di daerah bencana. Stok susu formula di lokasi bencana juga sulit dijangkau, sehingga praktik menyusui menjadi pilihan yang lebih aman.

Penggunaan susu formula yang diseduh dengan air tidak bersih dapat menyebabkan risiko diare, kekurangan nutrisi, dan bahkan kematian bayi. Oleh karena itu, menyusui menjadi pertimbangan utama saat berada di wilayah bencana.

“Jika orang tua tidak pernah memberikan susu formula tiba-tiba berinisiatif memberikan susu formula, penyeduhan yang tidak sesuai aturan justru akan menimbulkan efek samping di kemudian hari,” tambah dr. Kadafi.

Perhatikan Penggunaan Susu Formula

IDAI menyoroti pentingnya pengawasan terhadap sumbangan susu formula dan donor ASI. Distribusi penggunaannya harus dimonitor oleh tenaga terlatih, sesuai prinsip bahwa susu formula hanya boleh diberikan dalam kondisi terbatas.

“Susu formula hanya diperbolehkan diberikan pada anak yang tidak dapat menyusui, seperti anak piatu, setelah dilakukan penilaian terhadap status menyusui ibu dan relaktasi yang tidak memungkinkan. Susu formula harus dijamin selama bayi membutuhkan,” ujarnya.

IDAI mengharapkan susu formula tidak diberikan secara asal selama bencana, melainkan sesuai visi dan monitoring ketat oleh tenaga kesehatan. Ibu maupun pengasuh bayi perlu diberikan informasi memadai dan konseling tentang cara penyajian formula bayi yang aman serta praktik pemberian makanan bayi yang tepat.

Pertanyaan Umum Tentang Menyusui

Suplemen Ibu Hamil dan Menyusui: Sama atau Berbeda?

Seberapa Sering Ibu Menyusui Harus Memompa ASI?

Menyusui di Indonesia Meningkat, tapi Banyak Ibu Berjuang Sendirian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *