Obesitas: Penghubung Risiko Diabetes dan Masalah Pernapasan

News224 Dilihat

Penyebab dan Dampak Obesitas yang Perlu Diperhatikan

Obesitas merupakan kondisi yang tidak hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga memiliki dampak serius terhadap kesehatan secara keseluruhan. Seorang dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes dari Universitas Brawijaya, Rulli Rosandi, menjelaskan bahwa obesitas bisa menjadi pintu masuk ke berbagai penyakit metabolik yang dapat menurunkan kualitas hidup seseorang.

Menurut Rulli, jika diabetes dianggap sebagai “ibu dari semua penyakit”, maka obesitas adalah bahan penyakit yang bisa menyebabkan gangguan pada berbagai organ tubuh. Banyak pasien dengan obesitas mengalami masalah metabolik seperti diabetes, yang bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dan ginjal. Hal ini membuat pentingnya pengawasan terhadap kadar gula darah, tekanan darah, dan kolesterol.

Selain itu, obesitas juga bisa menyebabkan dislipidemia atau peningkatan plak kolesterol, serta hipertensi yang sering disebut sindroma metabolik. Kondisi ini memperkuat kebutuhan bagi penderita obesitas untuk selalu memantau kesehatannya secara berkala.

Dampak Pada Sistem Pernapasan dan Sendi

Masalah metabolisme akibat obesitas juga bisa memengaruhi sistem pernapasan. Salah satu dampaknya adalah apnea tidur obstruktif, yang ditandai dengan mengorok atau kesulitan bernapas saat berbaring atau tidur. Selain itu, penderita obesitas sering mengeluh sakit pada sendi, merasa badan berat, dan napas yang lebih berat dibandingkan orang dengan berat badan ideal.

Pada wanita, obesitas bisa menyebabkan kondisi seperti polycystic ovarian syndrome (PCOS) atau sindrom polikistik ovarium, yang berdampak pada ketidakseimbangan hormon. Sedangkan pada laki-laki, obesitas bisa menyebabkan penurunan kadar testosteron.

Dampak Psikologis dan Pengobatan

Selain dampak fisik, obesitas juga berdampak pada kesehatan mental. Banyak pasien obesitas merasa kurang didukung oleh lingkungan atau bahkan dikucilkan dari masyarakat. Masalah ini bisa memperparah depresi, yang pada akhirnya bisa menyebabkan peningkatan berat badan karena penggunaan obat tertentu.

Untuk menangani obesitas, Rulli menyarankan agar pasien berkonsultasi dengan dokter spesialis. Penanganan akan disesuaikan dengan indeks massa tubuh (IMT/BMI) yang dikelompokkan menjadi rendah, sedang, atau tinggi. Jika BMI berada dalam kategori rendah (18-22,9), modifikasi gaya hidup seperti olahraga dan pengaturan diet biasanya menjadi pilihan utama.

Namun, jika BMI berada dalam kategori tinggi (di atas 25), maka pertimbangan penggunaan obat-obatan atau operasi bariatrik bisa dipertimbangkan. Selain itu, pengukuran obesitas juga bisa dilakukan melalui komplikasi yang sudah ada, sehingga pengobatan bisa lebih terarah.

Penanganan yang Individual

Rulli menekankan bahwa penanganan obesitas harus bersifat individual dan tidak bisa disamakan dengan orang lain. Ia berharap angka obesitas yang turun di Indonesia akan berdampak pada penurunan angka kematian akibat penyakit metabolik serta meringankan beban kesehatan negara secara keseluruhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *