Merkuri Terkandung, Delapan Kota Prancis Larang Tuna Kaleng di Sekolah

News212 Dilihat

Larangan Tuna Kaleng di Sekolah-sekolah Prancis

Beberapa kota di Prancis, termasuk Paris dan Lyon, baru saja mengambil keputusan penting dengan melarang penggunaan tuna kaleng di kantin sekolah. Keputusan ini dilakukan setelah sebuah studi menemukan kadar merkuri yang sangat tinggi dalam produk tersebut. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan siswa, terutama anak-anak.

Merkuri adalah logam berat yang sering ditemukan pada makanan laut. Jika dikonsumsi secara berlebihan, zat ini bisa menyebabkan keracunan dengan gejala seperti gangguan gerak saat berjalan atau menulis, kelemahan otot, hingga ruam pada kulit. Kondisi ini bisa memengaruhi perkembangan fisik dan mental seseorang.

Pada bayi dan anak-anak, paparan metilmerkuri, bentuk merkuri paling beracun, dapat mengganggu perkembangan otak. Dampaknya mencakup penurunan kecerdasan, kesulitan mengingat dan berpikir, serta masalah keterampilan motorik. Oleh karena itu, para ahli gizi menyarankan agar konsumsi tuna dibatasi, terutama untuk kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil.

Studi yang dilakukan oleh kelompok kampanye Bloom dan Foodwatch menguji 148 kaleng tuna dari lima negara Eropa. Hasilnya mengejutkan banyak pihak, karena semua sampel mengandung merkuri, dan sebanyak 57 persen di antaranya melebihi batas maksimal 0,3 mg/kg yang ditetapkan oleh Uni Eropa. Bahkan, satu kaleng yang dibeli di Paris memiliki kadar merkuri 13 kali lipat lebih tinggi dari batas yang diperbolehkan.

Mengapa Tuna Bisa Mengandung Merkuri?

Proses biologis alami membuat ikan-ikan besar seperti tuna memiliki kadar merkuri yang lebih tinggi. Ketika hewan kecil dimakan oleh hewan yang lebih besar, lalu dimakan lagi oleh predator yang lebih besar, kontaminan seperti metilmerkuri akan menumpuk di jaringan tubuh predator. Akibatnya, predator puncak seperti ikan tuna menyimpan merkuri dalam kadar yang sangat tinggi.

Keracunan merkuri tidak hanya berdampak pada ikan, tetapi juga pada manusia. Pada manusia, kadar tinggi merkuri dapat menyebabkan kelemahan, tremor, perubahan suasana hati, dan gangguan kognitif. Pada kadar yang sangat tinggi, merkuri bisa menyebabkan penyakit Minamata, yaitu gangguan saraf parah yang pertama kali diidentifikasi ketika kucing liar di Jepang mengalami kejang dan mati.

Selain itu, bahaya merkuri juga bisa menyebabkan cacat lahir dan kerusakan saraf pada otak anak yang sedang berkembang. Karena itu, penting bagi orang tua untuk memperhatikan jenis dan jumlah tuna yang dikonsumsi anak-anak.

Tuna Kaleng untuk Anak: Aman atau Tidak?

Tuna kaleng adalah salah satu makanan laut yang populer karena praktis dan bergizi. Namun, tidak semua jenis tuna aman untuk anak-anak. Tuna kaleng dari jenis seperti cakalang biasanya memiliki kadar merkuri yang lebih rendah. Sementara itu, tuna albacore atau white tuna yang ukurannya lebih besar cenderung mengandung merkuri yang lebih tinggi.

Para ahli menyarankan agar konsumsi tuna albacore dibatasi hingga maksimal 4–6 ons per minggu, terutama untuk anak-anak dan ibu hamil. Selain itu, cara lain untuk tetap aman adalah dengan mengurangi porsi, memilih merek yang transparan dalam uji merkuri, atau mempertimbangkan alternatif lain seperti salmon, makerel, atau sarden kaleng.

Makanan Sehat Lain yang Bisa Dipertimbangkan

Selain tuna, ada banyak pilihan makanan laut yang bisa menjadi alternatif. Ikan-ikan ini tidak hanya bergizi, tetapi juga lebih aman dalam hal kontaminan. Selain itu, penting untuk menyajikan tuna bersama makanan sehat lainnya seperti buah, sayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh agar kebutuhan gizi anak tetap seimbang.

Meskipun tuna kaleng memiliki kandungan protein, vitamin D, zat besi, dan kalium yang baik, jika khawatir dengan risiko merkuri, ada opsi lain yang tak kalah sehat. Penting untuk selalu memperhatikan keseimbangan nutrisi dan keamanan makanan yang dikonsumsi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *