Mengapa Orang Tua Terlalu Kompetitif Merugikan Anak?

News81 Dilihat

Perbandingan Orang Tua di Era Media Sosial

Di era media sosial, persaingan antara sesama orang tua semakin terlihat jelas. Banyak orang tua yang membandingkan dirinya dengan orang tua lain, mulai dari bekal yang dibawakan untuk anak, nilai anak, pilihan les, sampai pemilihan sekolah. Kompetisi ini bukannya membawa kebaikan. Penelitian menunjukkan bahwa ketika orang tua terus-menerus membandingkan diri mereka sendiri (dan anak-anak mereka) dengan keluarga lain bisa merusak kesehatan mental, motivasi, dan rasa percaya diri anak.

Perilaku ini sering kali berawal dari kecemasan orang tua tentang status sosial, ketakutan ketinggalan, atau keinginan untuk mengamankan masa depan anak. Tapi, orang tua perlu tahu bahwa kompetisi yang bisa muncul dalam berbagai bentuk itu bisa mendatangkan kerugian bagi anak. Berikut tiga dampak buruk bagi anak.

1. Harga Diri yang Rendah

Sebuah studi Frontiers in Psychology tahun 2025 yang menyelidiki perbandingan sosial orang tua menemukan bahwa ketika orang tua sering membandingkan anak-anak mereka dengan anak-anak yang dianggap “lebih baik”, harga diri remaja menurun.

“Ketika orang tua sering melakukan perbandingan yang secara implisit maupun eksplisit menganggap anak mereka kurang kompeten atau kurang sukses dibandingkan orang lain, hal tersebut dapat secara langsung melemahkan pandangan remaja tentang harga diri mereka, sehingga secara langsung menurunkan harga diri mereka,” demikian pernyataan penelitian tersebut.

Singkatnya, anak-anak menginternalisasi perbandingan dengan orang tua dan merasa lebih buruk tentang diri mereka sendiri.

2. Stres karena Bimbingan Belajar

Sebuah makalah penelitian tahun 2021 di Frontiers in Psychology juga mempelajari bagaimana kecenderungan orang tua untuk membandingkan diri memicu kecemasan. Studi ini menemukan rantai yang jelas di mana perbandingan sosial orang tua mengarah pada kecemasan orang tua. Akhirnya, muncul perilaku bimbingan belajar yang lebih intens (dan terkadang kontraproduktif). Hasilnya adalah anak-anak menghadapi tekanan yang lebih besar dan berkurangnya otonomi dalam belajar.

3. Pengasuhan Berlebihan

Pengasuhan yang berlebihan atau helicoptering ternyata juga berdampak buruk bagi anak. Meta-analisis dan tinjauan sistematis menunjukkan hubungan antara pengasuhan helikopter dan tingkat kecemasan, depresi, kelelahan sekolah, efikasi diri yang berkurang, dan keterampilan regulasi yang lebih buruk. Efek negatif ini muncul di berbagai budaya dan berlanjut hingga masa dewasa awal.

4. Motivasi Belajar Bergeser

Ketika orang tua punya target anak-anak mereka bisa lebih baik daripada anak lain, niat anak-anak bergeser dari belajar untuk penguasaan (rasa ingin tahu, peningkatan) ke belajar untuk kinerja (nilai, status).

Studi menunjukkan bahwa lingkungan yang berfokus pada kinerja meningkatkan rasa takut gagal dan mengurangi keberanian mengambil risiko. Hal itu bisa menghambat pembelajaran mendalam dan kreativitas.

Wajar saja orang tua bangga pada pencapaian anak mereka. Namun, jika membandingkan hasil anak dengan anak lain yang dianggap lebih baik, hal itu bisa mengurangi rasa percaya diri, meningkatnya kecemasan, dan berkurangnya kesukaan untuk belajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *