Mengapa Mulut Tetap Bau Meski Sudah Berkumur

Berita85 Dilihat

Masalah Bau Mulut yang Tidak Teratasi dengan Menyikat Gigi Saja

Apakah Anda pernah merasa mulut tetap bau meskipun sudah rajin menyikat gigi? Meski rutin menyikat gigi, berkumur, dan membersihkan lidah, plak serta bakteri tetap bisa bersembunyi di sela-sela gigi yang sulit dijangkau. Kondisi ini sering kali menjadi penyebab utama masalah bau mulut yang terus muncul. Oleh karena itu, perawatan tambahan seperti flossing sangat penting dilakukan untuk mencegah bau mulut, menjaga kesehatan gusi, dan melindungi gigi dari kerusakan.

Menurut American Dental Association (ADA), pembersihan interdental penting untuk mengangkat kotoran dan plak yang menumpuk di antara gigi sehingga risiko penyakit gusi dan kerusakan gigi dapat berkurang. Salah satu cara efektifnya adalah menggunakan dental floss atau benang gigi. Benang gigi bisa membersihkan sela-sela gigi yang tidak terjangkau oleh sikat gigi. ADA juga menegaskan bahwa flossing merupakan bagian penting dari rutinitas perawatan kesehatan mulut sehari-hari.

Tanda-Tanda yang Harus Diperhatikan Saat Flossing

Namun ada satu tanda yang tak boleh diabaikan saat flossing yaitu benang gigi mengeluarkan bau tidak sedap. Kondisi ini bisa menjadi sinyal adanya penumpukan plak, sisa makanan yang terselip, atau bahkan peradangan gusi. “Jika benang floss berbau, itu bisa menandakan adanya penumpukan plak dengan akumulasi bakteri, makanan yang terselip, atau peradangan gusi,” kata Ketua Departemen Periodontologi di Tufts University School of Dental Medicine Natalie Jeong.

Apa yang Dilakukan oleh Flossing?

Flossing memiliki peran penting dalam menjaga kebersihan mulut, terutama pada area yang sulit dijangkau oleh sikat gigi. Sebelum membahas soal bau pada benang floss, penting memahami dulu apa yang sebenarnya dilakukan oleh teknik ini. Flossing membantu membersihkan sela-sela gigi yang sering terlewat saat menyikat. Menurut Jeong, menyikat gigi dua kali sehari memang penting, tetapi tidak cukup untuk mengangkat kotoran di celah gigi. Bulu sikat tidak mampu menjangkau ruang sempit tersebut, sehingga sisa makanan dan plak bisa mengeras menjadi karang gigi. Kondisi ini kemudian meningkatkan risiko peradangan dan penyakit gusi.

Di sinilah flossing memberikan manfaat besar. Benang floss dapat mengakses area sempit hingga ke bawah garis gusi untuk mengangkat plak dan kotoran yang tersembunyi. Jeong menjelaskan menyikat gigi tanpa flossing ibarat mencuci piring hanya bagian depan dan belakangnya tanpa membersihkan sisi-sisinya.

Arti Bau pada Benang Floss

Menurut Marisol Tellez Merchan dari Temple University, flossing terbukti membantu menekan peradangan gusi, mengurangi risiko kehilangan gigi, dan mencegah kerusakan gigi. Kebiasaan ini melengkapi fungsi sikat gigi yang tidak mampu menjangkau sela-sela gigi. Karena itu, flossing menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mulut jangka panjang.

Benang floss yang mengeluarkan bau tidak sedap biasanya menandakan adanya sisa makanan atau bakteri yang tertinggal di sela gigi. Bau ringan setelah makan atau ketika jarang flossing memang wajar, namun tetap menunjukkan bahwa pembersihan belum optimal. Merchan menyebut aroma tidak sedap pada benang adalah sinyal bahwa Anda perlu flossing lebih sering atau menyikat gigi kembali.

Namun, benang floss yang terus berbau menyengat meski Anda rutin merawat gigi bisa menjadi tanda masalah yang lebih serius. Kondisi ini dapat menunjukkan adanya penyakit gusi seperti gingivitis atau periodontitis, hingga kerusakan gigi di bawah mahkota atau tambalan. Jika hal ini terjadi, segera konsultasikan ke dokter gigi untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Cara Flossing yang Paling Efektif

Cara flossing yang paling efektif adalah melakukannya setidaknya sekali sehari, idealnya pada malam hari ketika aktivitas makan sudah selesai. Jeong menyarankan untuk menggunakan sekitar 45 cm benang floss, kemudian melilitkannya pada jari tengah dan menyisakan sedikit bagian untuk dibersihkan di sela gigi serta di bawah garis gusi. Gunakan potongan benang yang bersih untuk setiap sela gigi agar hasilnya maksimal.

Jika rutinitas ini terasa berat, Anda tetap bisa mulai dengan jadwal yang lebih ringan. Flossing beberapa kali seminggu saja sudah memberikan manfaat besar bagi kesehatan mulut. Bahkan, menurut Jeong, tiga kali seminggu jauh lebih baik dibanding tidak flossing sama sekali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *