Mengapa Infeksi RSV Bisa Menyebabkan Bronkiolitis?

Berita235 Dilihat

Penyebab dan Gejala Bronkiolitis pada Anak

Bronkiolitis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan sering muncul pada musim tertentu. Sebagian besar kasus bronkiolitis disebabkan oleh virus yang dikenal sebagai respiratory syncytial virus (RSV). Kondisi ini merupakan infeksi saluran pernapasan bawah yang terjadi pada anak-anak berusia di bawah 2 tahun. Virus ini memicu peradangan pada saluran napas kecil, yaitu bronkiolus, yang dapat menyumbat aliran udara dan menyebabkan mengi serta kesulitan bernapas.

Bronkiolitis sangat umum terjadi pada bayi dan anak kecil, bahkan menjadi salah satu alasan utama mereka harus dirawat di rumah sakit. Pada sebagian anak, kondisi ini bisa berkembang menjadi penyakit yang lebih serius. Risiko lebih tinggi terjadi pada bayi yang masih sangat muda, lahir prematur, memiliki penyakit paru kronis, penyakit jantung bawaan, gangguan saraf, atau kesulitan melawan infeksi maupun mengendalikan produksi lendir di mulut. Oleh karena itu, orang tua wajib tahu cara mengenali tanda dan gejala bronkiolitis yang memerlukan pemeriksaan dan penanganan medis segera.

Bagaimana RSV Menyebabkan Bronkiolitis?

Ketika seorang anak terpapar RSV, virus ini menginfeksi sel-sel di saluran pernapasan atas. Akibatnya, tubuh memproduksi banyak lendir yang menyumbat hidung dan membuat pernapasan menjadi sulit. Selain itu, virus juga menyerang sel-sel yang melapisi bronkiolus, yaitu saluran udara kecil yang berada jauh di dalam paru-paru. Saat bronkiolus terinfeksi, terjadi peradangan yang menyumbat aliran udara. Kondisi ini menimbulkan mengi dan tanda-tanda kesulitan bernapas lainnya, seperti napas yang lebih cepat. Pernapasan yang cepat dapat mengganggu kemampuan anak untuk menyusu atau makan, dan jika berlangsung lama serta berat dapat menyebabkan kelelahan pernapasan, apnea (henti napas), bahkan kematian.

Gejala Bronkiolitis

Bronkiolitis biasanya dimulai seperti pilek, dengan hidung tersumbat atau berair dan batuk. Pada bayi dan anak kecil, gejalanya juga dapat meliputi:

  • Bernapas lebih cepat dari biasanya.
  • Bernapas dengan usaha lebih keras.
  • Napas berbunyi siulan (mengi).
  • Demam (suhu tubuh lebih dari 38 derajat Celcius).
  • Rewel atau mudah marah.
  • Nafsu makan berkurang.

Pada bayi dan anak yang sehat, bronkiolitis umumnya bersifat ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya. Tidak semua anak dengan gejala bronkiolitis perlu dibawa ke unit gawat darurat atau dirawat di rumah sakit. Sebagian besar dapat dirawat di rumah dengan pemantauan dan perawatan yang tepat.

Kapan Harus Menghubungi Dokter?

Segera hubungi dokter jika anak menunjukkan gejala berikut:

  • Bernapas cepat atau sulit bernapas.
  • Nafsu makan menurun atau sulit menyusu/makan.
  • Frekuensi buang air kecil berkurang, popok basah lebih sedikit dari biasanya.
  • Terlihat lebih mengantuk dari biasanya, atau lebih rewel dan sulit ditenangkan.

Kapan Anak Harus Dibawa ke Unit Gawat Darurat?

Segera bawa anak ke unit gawat darurat jika menunjukkan gejala berikut:

  • Bernapas sangat cepat (pada bayi di bawah 6 bulan bisa mencapai 60–80 kali per menit) atau kesulitan bernapas yang tidak membaik meski hidung sudah disedot lendirnya.
  • Kulit, bibir, atau kuku tampak pucat atau kebiruan.
  • Mengalami batuk hebat berulang.
  • Tarikan napas berat di pangkal leher atau terlihat tulang rusuk menonjol saat bernapas (retraksi), hidung kembang-kempis, atau terdengar suara “grok-grok” setiap kali bernapas.
  • Henti napas lebih dari beberapa detik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *