Mengapa Anak Sering Ajukan Pertanyaan Sulit Dijawab?

News55 Dilihat

Anak-anak dan Rasa Penasaran yang Tinggi

Anak-anak dikenal memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi dan senang bertanya tentang hal-hal yang mungkin sulit dijawab. Hal ini sebenarnya wajar, sebagai salah satu tanda perkembangan Si Kecil. Dalam sebuah penelitian terhadap anak-anak berusia 14 bulan hingga 5 tahun, para ilmuwan mencatat bahwa setiap anak rata-rata mengajukan lebih dari 100 pertanyaan per jam, dan ada yang bahkan mampu bertanya hingga tiga kali setiap menit.

Hasil studi ini menunjukkan betapa aktifnya otak anak dalam memproses informasi, serta memiliki rasa ingin tahu yang besar untuk memahami dunia di sekelilingnya. Berikut adalah beberapa hal penting yang perlu diketahui orang tua mengenai rasa penasaran anak-anak.

Kapan Anak Mulai Senang Bertanya?

Pada usia 2 tahun, anak biasanya memiliki sekitar 50 kosakata, yang dianggap cukup untuk mengucapkan kalimat sederhana berisi dua hingga empat kata. Di sekitar usia 3 tahun, sebagian besar anak mulai sering mengajukan pertanyaan “kenapa” lebih sering. Pada tahap ini, balita sudah mampu melakukan percakapan dua arah dan kosakatanya berkembang pesat hingga lebih dari 200 kata. Anak pun umumnya sudah mulai akan senang mengajukan pertanyaan karena rasa penasarannya yang tinggi.

Mengapa Anak Senang Terus-Menerus Bertanya?

Ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab mengapa anak senang bertanya pada orang-orang di sekitarnya:

  • Rasa ingin tahu

    Balita secara alami memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang dunia di sekitarnya dan ingin memahami segala hal yang mereka lihat, dengar, dan lakukan. Mengajukan pertanyaan pun menjadi bagian dari proses belajar, karena anak memang benar-benar ingin tahu.

  • Mencari perhatian

    Alasan lain anak sering bertanya (dan mengapa penting bagi orang tua untuk menanggapinya) adalah karena mereka menyadari bahwa satu kata sederhana seperti “kenapa?”, bisa menarik perhatian Bunda. Bagi anak yang baru belajar berkomunikasi, interaksi semacam ini sangat berharga. Hal ini bisa menjadi latihan bagi anak untuk berkomunikasi dua arah, sekaligus kesempatan untuk mendapatkan perhatian dari orang tua.

Mengapa Anak Suka Bertanya Hal-Hal yang Sulit Di Jawab?

Menurut pakar pendidikan anak usia dini di Amerika Serikat, Gaynor Rice, meskipun anak-anak dipenuhi rasa ingin tahu dan baru saja menguasai kemampuan berbahasa untuk mengekspresikan hal itu, mereka belum terikat oleh norma sosial seperti orang dewasa saat bertanya.

“Ini berkaitan dengan tahap perkembangan sosial dan emosional, di mana mereka belum memiliki empati sepenuhnya,” ujar Rice. Dengan kata lain, anak belum memahami bahwa orang lain mungkin bisa merasa tidak nyaman dengan pertanyaan tertentu. Kurangnya pemahaman sosial ini juga membuat anak-anak berani bertanya secara spontan apa pun yang muncul di kepala mereka. Sebaliknya, orang dewasa biasanya lebih berhati-hati dalam bertanya karena memikirkan dampaknya bagi orang lain.

Bagaimana Cara Tepat Orang Tua Merespons?

Lalu bagaimana jika anak mendadak bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab? Berikut tips-tipsnya untuk Bunda:

  • Jangan panik dulu

    Ketika menghadapi pertanyaan sulit secara tiba-tiba, secara naluri Bunda mungkin ingin mengakhiri pembicaraan atau sebaliknya, menjelaskan secara berlebihan. Rice pun menyarankan orang tua untuk tenang sejenak. Pikirkan apa yang sebenarnya ingin ditanyakan anak, lalu cari jawaban yang seimbang.

  • Tetap jujur dan meminta waktu jika tidak tahu

    Sering kali orang tua tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan anak, termasuk yang sulit seperti “bagaimana dinosaurus buang air kecil?”, atau mungkin pertanyaan berat seperti tentang kehidupan dan kematian. Menurut Rice, tidak masalah untuk mengakui pada anak jika Bunda saat itu belum tahu jawabannya. Kuncinya adalah memberi waktu untuk berpikir, sambil tetap menunjukkan ketertarikan pada pertanyaan anak. Minta waktu untuk berpikir sejenak, atau mungkin ajak anak menelusuri bersama jika memang topiknya sesuai. Katakan seperti, “bagaimana kalau nanti sepulang sekolah kita cari tahu bersama?”.

  • Kenali karakter anak

    Tingkat usia, perkembangan, dan kepribadian anak memengaruhi seberapa banyak informasi yang bisa mereka serap. Terkadang yang dibutuhkan oleh anak bukanlah jawaban yang kompleks dan detail, Bunda. Jika memang ragu, sebaiknya jangan langsung menjelaskan secara mendalam, tapi mulai dari hal sederhana dulu. Sebagai orang tua, Bunda lebih mengenal karakter anak. Bunda bisa mengetahui seberapa jauh anak bisa memahami jawaban, baik yang bersifat emosional maupun ilmiah.

  • Bicarakan dengan guru atau pengasuh

    Kadang pertanyaan anak terasa sulit karena orang tua belum mengerti maksudnya. Jika anak sudah mulai sekolah atau berada di daycare, Rice menyarankan orang tua untuk berbicara dengan guru atau pengasuh guna mengetahui topik apa yang sedang dipelajari waktu itu. “Terkadang setelah tahu konteksnya, pertanyaan itu ternyata jauh lebih sederhana dan tidak sesulit yang dibayangkan,” ungkap Rice.

  • Hargai pertanyaan anak

    Anak mungkin akan lupa jawaban kurang tepat yang diberikan orang tua, tapi mereka tidak akan lupa jika rasa ingin tahunya diabaikan. Meski pertanyaan anak mungkin terdengar lucu atau sepele, upayakan untuk tetap menghargai pemikirannya. Bunda mungkin bisa menunda sejenak untuk menjawab pertanyaan Si Kecil, dengan mengajaknya berdiskusi di lain waktu. Ini bisa menjadi cara sopan untuk menunjukkan bahwa Bunda peduli dan menghargai rasa ingin tahu mereka. Namun perlu diingat, pastikan untuk menepati janji untuk kembali berdiskusi setelah mencari lebih banyak informasi.

  • Dorong anak untuk terus bertanya

    Kesempatan berdiskusi tak hanya membantu anak memahami lingkungan di sekitarnya, tapi juga meningkatkan kepercayaan diri, harga diri, dan kemampuan mengungkapkan pendapat. “Setiap kesempatan anak untuk berbicara dengan percaya diri dan mengajukan pertanyaan adalah hal yang positif,” pesan Rice. Dengan mengikuti alur pembicaraan anak dan menunjukkan ketertarikan, Bunda sudah turut mendukung perkembangan bahasa, sosial, dan emosional mereka.





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *