Membangun 1 Paviliun Bambu, Setara Menanam 2.400 Pohon

Berita175 Dilihat

BaleBio: Paviliun Bambu yang Mengubah Ruang Publik di Bali

BaleBio adalah sebuah paviliun bambu yang dirancang oleh Cave Urban sebagai bagian dari program ReBuilt oleh Bauhaus Earth. Proyek ini menghidupkan kembali lahan parkir terbengkalai di Pantai Mertasari, Denpasar, menjadi ruang publik terbuka yang menawarkan pengalaman arsitektur yang inovatif dan berkelanjutan. Dengan konsep yang memadukan tradisi lokal dengan pendekatan modern, BaleBio menjadi contoh nyata bahwa industri konstruksi bisa bergerak menuju sistem berbasis penyerap karbon alami.

Inspirasi dari Tradisi Lokal

BaleBio terinspirasi dari Bale Banjar, yaitu balai komunal tradisional di Bali. Namun, desainnya dibuat dengan pendekatan modern dan berkelanjutan, sehingga menunjukkan bahwa arsitektur karbon-negatif bisa diterapkan secara nyata dan skalabel. Dengan luas 84 meter persegi dan atap lengkung setinggi 8,5 meter, paviliun ini menampilkan keindahan struktur bambu yang kuat namun ramah lingkungan.

Pemilihan Material yang Ramah Lingkungan

Material utama yang digunakan dalam pembuatan BaleBio adalah bambu petung lokal, yang memiliki kekuatan mirip baja tetapi dengan emisi karbon yang rendah. Seluruh struktur paviliun menggunakan teknik sambungan tradisional yang dipadukan dengan fitur modern. Material seperti batu vulkanik, plester kapur, dan genteng daur ulang juga digunakan untuk memperkuat konsep keberlanjutan.

Seluruh material yang digunakan berasal, diolah, dan dirakit di sekitar lokasi, sehingga mengurangi dampak lingkungan akibat transportasi jarak jauh. Hal ini mencerminkan komitmen penuh terhadap prinsip ekonomi sirkular.

Hasil Karbon yang Positif

Dengan desain, pemilihan material, dan proses konstruksi yang telah dilalui, BaleBio berhasil menciptakan hasil karbon akhir sebesar -5.907 kg CO₂e. Proses pembangunannya bahkan berhasil mengurangi lebih dari 53 ton CO₂, setara dengan menanam 2.400 pohon. Data ini telah diverifikasi melalui Life Cycle Assessment (LCA) oleh Eco Mantra, yang menyatakan bahwa BaleBio merupakan proyek dengan karbon-negatif.

Dampak Sosial yang Luas

Proses pembangunan BaleBio melibatkan berbagai pihak, termasuk Universitas Warmadewa, komunitas lokal, serta para pengrajin. Ini tidak hanya memperkuat narasi desain dan budaya lokal, tetapi juga memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kini, BaleBio menjadi tempat berkumpul baru bagi warga dan wisatawan, yang digunakan sebagai panggung publik, ruang belajar, dan tempat pertemuan.

Penghargaan Internasional yang Diraih

Selama tahun 2025, BaleBio berhasil meraih tiga penghargaan internasional:

  1. Australian Good Design Award – Kategori Social Impact
  2. Built by Nature Prize – Kategori Commendation
  3. German Design Award – Gold in Excellent Architecture, kategori Circular Design & Exhibition

Informasi Lengkap tentang BaleBio

  • Nama: BaleBio Pavilion
  • Lokasi: Pantai Mertasari, Denpasar, Bali
  • Luas: 84 meter persegi
  • Konsep: Bauhaus Earth
  • Desain: Cave Urban
  • Struktur: Atelier One
  • Project Management: Bamboo Village Trust
  • LCA Analysis: Eco Mantra
  • Komunitas yang Terlibat: Kota Kita, Warmadewa University
  • Pemerintah yang Terlibat: Gamalaw
  • Manufacturing: Indobamboo, Kaltimber, Bhoomi, Bamboo Pure, Wedoo, Rothoblaas
  • Funding: German Federal Ministry for the Environment, Climate Action, Nature Conservation and Nuclear Safety (BMUKN)

Detail Struktur dan Material

BaleBio menampilkan detail struktur yang menarik, mulai dari sambungan material hingga skema penggunaan bahan. Setiap elemen dirancang dengan mempertimbangkan keberlanjutan dan estetika. Desain ini tidak hanya fungsional, tetapi juga menjadi representasi dari kebudayaan lokal yang diintegrasikan dengan inovasi modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *