Mengenal Fenomena Flood Fatigue Syndrome
Banjir bukan hanya sekadar bencana alam yang mengancam kehidupan manusia, tetapi juga bisa menjadi sumber kelelahan fisik dan mental yang berkepanjangan. Berulang kali menghadapi banjir dapat memicu rasa lelah mendalam yang tidak hanya terasa pada tubuh, tetapi juga pada pikiran. Hal ini dikenal sebagai flood fatigue syndrome, yaitu kondisi kelelahan mental dan penurunan kualitas hidup yang semakin parah pada warga yang sering terdampak banjir.
Banyak penyintas banjir mulai kehilangan motivasi untuk merespons peringatan bahaya atau bahkan enggan mengungsi meski risiko di depan mata. Ini menunjukkan bahwa tekanan psikologis yang mereka alami akan menumpuk dari waktu ke waktu. Kondisi ini menciptakan kelelahan secara emosional dan mental yang serupa dengan fatigue atau kelelahan, meskipun istilah ini belum sepenuhnya diakui secara resmi dalam literatur medis.
Menurut sebuah studi internasional, kemungkinan depresi pada penyintas banjir berulang sekitar 20 persen lebih tinggi dibanding mereka yang hanya mengalami satu kali. Temuan ini menunjukkan bahwa makin sering banjir terjadi, makin besar pula risiko gangguan mental yang dapat berkembang menjadi gejala mirip flood fatigue syndrome.
Efek Jangka Panjang pada Kesehatan Mental
Efek flood fatigue syndrome tidak hanya terbatas pada jangka pendek, tetapi bisa bertahan setidaknya satu tahun setelah kejadian. Yang lebih mengkhawatirkan adalah, efeknya tidak hanya dirasakan oleh mereka yang rumahnya rusak atau terendam—masyarakat yang “hanya” mengalami gangguan akibat banjir (misalnya pemadaman listrik, transportasi terputus, akses ke layanan sosial terganggu) pun berisiko signifikan terhadap depresi, kecemasan, dan gangguan stres pasca trauma (PTSD).
Penelitian tersebut menjadi bukti kuat bahwa banjir dan efek negatifnya jauh melampaui kerusakan fisik dan materi. Dalam konteks bencana dan pemulihan, kerusakan mental perlu diperhatikan sama seriusnya dengan perbaikan rumah dan infrastruktur.
Pemicu Stres Sekunder
Orang-orang yang terkena banjir tidak hanya menghadapi bahaya saat air datang. Bahkan setelah air surut, mereka tetap menghadapi dampak kesehatan yang bisa berlangsung lama. Salah satu penyebab utama adalah munculnya pemicu stres/stresor sekunder (secondary stressors) berupa tekanan yang tidak langsung dari banjir, seperti kerugian ekonomi (penghasilan hilang, biaya pemulihan rumah), dan stres sosial (isolasi, kehilangan jejaring komunitas, hilang atau terganggunya rasa aman).
Baik di desa maupun kota, negara maju maupun berkembang, terbukti rentan terhadap dampak ini. Meski menyadari risiko banjir, banyak dari mereka yang tidak mengambil tindakan pencegahan serius. Hal ini membuat masyarakat tetap sangat rentan ketika banjir berulang terjadi.
Pentingnya Penanganan Bencana Secara Holistik
Fenomena flood fatigue syndrome adalah pengingat bahwa bencana tidak hanya merusak fisik lingkungan, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang sering tak terlihat. Ketika berulang kali terdampak banjir, rasa cemas, takut, hingga keputusasaan dapat menumpuk dan meruntuhkan kemampuan seseorang untuk bertahan.
Jadi, selain evakuasi dan perbaikan infrastruktur, penanganan bencana harus melihat manusia secara utuh. Warga yang terdampak butuh pemulihan mental jangka panjang. Dengan dukungan sosial yang kuat, akses layanan kesehatan jiwa yang memadai, serta upaya mitigasi bencana yang lebih baik, masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir dapat kembali merasa aman dan mampu melanjutkan hidup tanpa terus terbayang ancaman yang sama di depan mata.











