Kenali RSV, Ancaman Serius yang Sering Diabaikan

Berita234 Dilihat

Penyakit RSV: Ancaman Serius yang Sering Diremehkan



Penyakit Respiratory Syncytial Virus (RSV) tidak boleh dianggap remeh. Dokter Spesialis Penyakit Dalam dengan Subspesialis Penyakit Tropik dan Infeksi, Robert Sinto, menyatakan bahwa virus ini dapat menyebabkan komplikasi serius hingga kematian, terutama pada populasi rentan seperti lansia dan orang dengan penyakit penyerta. Ia menyampaikan peringatan tersebut dalam acara ‘Menjaga Napas di Usia Senja: Mengulik Bahaya RSV Pada Lansia dan Cara Mencegahnya’ oleh Pfizer di World Trade Centre 3, Jakarta, awal Desember 2025.

RSV kini menjadi fokus utama dalam dunia medis karena dampaknya yang signifikan terhadap kesehatan masyarakat. Meski sering dianggap sebagai batuk pilek biasa, RSV bisa memicu komplikasi berat, terutama pada kelompok rentan seperti lansia atau individu dengan kondisi kesehatan yang sudah buruk. Berdasarkan penelitian internasional, sekitar 3–7 persen populasi umum dapat terinfeksi RSV dalam satu periode, sedangkan pada kelompok berisiko angkanya meningkat menjadi 4–10 persen. Dari mereka yang terinfeksi, 17–28 persen membutuhkan pertolongan medis, 4–10 persen dirawat inap, 6–15 persen masuk ICU, dan 1–10 persen berakhir dengan kematian.

Studi dari Singapura menunjukkan bahwa sekitar 5 persen kasus infeksi saluran napas atas yang negatif influenza disebabkan oleh RSV. Risiko penyakit ini semakin tinggi seiring bertambahnya usia. Di beberapa negara, RSV bahkan menyumbang sekitar 10 persen kasus infeksi paru komunitas. Virus ini tidak hanya menyerang saluran napas atas, tetapi juga berpotensi berkembang menjadi infeksi berat yang membutuhkan intervensi medis intensif, terutama pada kelompok rentan. Temuan ini menegaskan bahwa RSV merupakan ancaman serius yang sering diremehkan.

Komplikasi RSV jauh lebih kompleks daripada sekadar infeksi akut. Kelompok dengan komorbiditas seperti PPOK, penyakit jantung, diabetes, gangguan ginjal, gangguan neurologis, hingga pasien immunocompromised memiliki risiko paling tinggi. “Pasien dengan gagal ginjal memiliki risiko 6,5 kali lipat masuk rumah sakit akibat RSV dibandingkan mereka yang tidak memiliki kondisi tersebut,” kata Robert.

Lansia yang tampak sehat pun mengalami peningkatan risiko enam kali lipat masuk rumah sakit ketika memasuki usia 75 tahun ke atas. Selain infeksi paru, RSV juga dapat memicu gagal jantung, serangan jantung, hingga kegagalan transplantasi pada pasien dengan imunitas rendah.

Jika dibandingkan dengan influenza, RSV memiliki dampak yang tidak kalah buruk. Di Amerika Serikat, 12 persen pasien influenza harus dirawat di rumah sakit, sementara pada RSV angkanya mencapai 15 persen. Dalam penggunaan ventilator, influenza mencatat 13 persen dan RSV 10 persen. Setelah keluar dari rumah sakit, 5 persen pasien RSV masih membutuhkan perawatan jangka panjang. Sedangkan sekitar 6 persen pasien Influenza juga membutuhkan perawatan jangka panjang. “Tingkat kematiannya pun hampir sama, yakni 8 persen untuk RSV dan 7 persen untuk influenza. Artinya, RSV tidak lebih ringan dan sama berbahayanya,” ujar Robert menegaskan.

Karena belum tersedianya terapi antivirus yang efektif untuk RSV, seperti ribavirin, pencegahan menjadi langkah utama. Vaksin RSV hadir sebagai solusi dengan efektivitas sekitar 80 persen mencegah infeksi bergejala dan rawat inap, yang bertahan hingga tahun kedua dengan efektivitas 77 persen. Vaksin ini telah diberikan lebih dari delapan miliar dosis secara global dan terbukti aman, dengan risiko efek samping serius seperti Guillain-Barré Syndrome (GBS) sangat rendah, hanya 0–18 kasus. Bahkan, risiko stroke setelah vaksinasi lebih kecil dibandingkan risiko akibat infeksi RSV alami.

“Vaksin RSV dapat diberikan bersamaan dengan vaksin influenza, COVID-19, pneumonia, atau zoster tanpa menurunkan efektivitas masing-masing vaksin,” tambahnya. Karena itu, Robert menekankan pentingnya vaksinasi terutama bagi lansia dan orang dengan penyakit penyerta, mengingat kelompok ini adalah yang paling rentan mengalami komplikasi berat.

Dengan meningkatnya kesadaran dan akses vaksinasi yang lebih luas, diharapkan risiko penyakit serius akibat RSV dapat ditekan. Langkah preventif terbukti menjadi cara paling efektif untuk melindungi kelompok rentan sekaligus mengurangi beban kesehatan secara keseluruhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *