Kemampuan Melompat Jadi Indikator Usia Biologis, Ahli: Ada yang Lebih Penting

Berita116 Dilihat

Tantangan Kebugaran yang Ramai Dibicarakan di Media Sosial

Tren kebugaran terbaru yang viral di media sosial menawarkan tantangan unik yang mengklaim mampu mengungkap kondisi kesehatan seseorang. Tantangan ini meminta seseorang untuk melompat dari posisi berlutut hingga berdiri tegak tanpa bantuan tangan. Klaimnya, kemampuan untuk melakukan hal ini dapat menjadi indikator usia biologis seseorang, dengan batas usia yang disebutkan adalah di bawah 30 tahun.

Atlet baseball ternama Derek Jeter bahkan ikut serta dalam tantangan ini dan berhasil menyelesaikan dengan baik. Namun, para ahli kesehatan dan kebugaran menyatakan bahwa klaim tersebut tidak sepenuhnya valid.

Apa Itu Usia Biologis?

Menurut dokter spesialis kedokteran olahraga di Houston Methodist Hospital, Larry Balle, menentukan usia biologis jauh lebih kompleks daripada sekadar kemampuan fisik sederhana. “Usia biologis sebenarnya bergantung pada faktor-faktor seperti genetika, DNA, penanda biologis, serta kondisi sel dan tubuh Anda,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa gaya hidup, seperti merokok, pola makan, dan kebiasaan berolahraga, sangat berpengaruh pada usia biologis. Olahraga teratur dapat menurunkan usia biologis, sedangkan kurangnya aktivitas fisik bisa meningkatkannya. Selain itu, faktor tak terkontrol seperti penyakit juga turut berperan.

Fisiolog olahraga Ben Yamuder menegaskan bahwa tes lompatan viral ini bukanlah ukuran yang valid untuk menilai kebugaran atau usia biologis seseorang.

Apa yang Sebenarnya Diukur oleh Tantangan Lompatan?

James McMillian, Presiden Tone House, sebuah pusat kebugaran kekuatan dan pengondisian di New York, menjelaskan bahwa tantangan lompatan lebih mencerminkan kemampuan kebugaran seseorang. “Tantangan ini lebih berkaitan dengan koordinasi, keseimbangan, mobilitas, dan kekuatan eksplosif, yang bisa menurun seiring bertambahnya usia,” kata McMillian.

Balle menambahkan bahwa tantangan ini juga menunjukkan fleksibilitas, kekuatan inti, dan panggul. Meskipun remaja atau orang berusia 20-an mungkin lebih mudah melakukannya, tantangan ini tetap memiliki risiko cedera jika dilakukan tanpa persiapan yang cukup.

McMillian menyarankan bahwa kemampuan untuk mengikuti tren ini bergantung pada mobilitas pinggul, kekakuan pergelangan kaki, koordinasi, dan kekuatan bagian bawah tubuh. Jika seseorang memiliki riwayat cedera lutut, pinggul, atau punggung, serta belum pernah berlatih pliometrik, sebaiknya tidak mencoba tantangan ini.

Cara Mengukur Kebugaran yang Lebih Akurat

Menurut Balle, ada tantangan kebugaran yang lebih aman dan efektif untuk diuji. Misalnya, lari sejauh 1,6 km dalam waktu 12 hingga 15 menit, atau kemampuan melakukan gerakan fungsional dasar seperti pull-up, push-up, atau air squat.

Selain itu, tes keseimbangan, kekuatan cengkeraman, detak jantung istirahat, serta variabilitas detak jantung juga memberikan gambaran yang lebih bermanfaat tentang kesehatan. Menurut McMillian, hal-hal ini secara kolektif memberikan informasi lebih banyak tentang bagaimana tubuh menua.

Ahli-ahli ini juga menyarankan agar kita melihat kesehatan dan kebugaran secara holistik. Hal-hal seperti pola makan seimbang dan rutinitas olahraga harian sangat penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang.

“Lebih penting bagi saya melihat klien yang bergerak setiap jam daripada hanya mampu berpindah dari posisi berlutut ke berdiri dalam satu lompatan,” ujar Lynn.

Melika Ayaza berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *