Kekurangan Zat Besi Pengaruhi Kecerdasan!

Berita242 Dilihat

Indonesia Menghadapi Masalah Anemia Defisiensi Besi yang Mengancam Generasi Muda

Indonesia menduduki posisi ke-4 sebagai negara dengan prevalensi anemia tertinggi di Asia Tenggara. Dari data yang tersedia, sekitar 1 dari 3 anak dan perempuan usia produktif masih mengalami kekurangan atau defisiensi zat besi. Survei juga menunjukkan bahwa 50 persen ibu tidak menyadari bahwa kekurangan zat besi dapat berdampak pada perkembangan kognitif anak, terutama dalam hal kecerdasan.

Anemia defisiensi besi atau kekurangan zat besi menjadi ancaman serius yang tersembunyi bagi kesehatan bangsa. Hal ini menjadi topik penting dalam sesi program IdeaTalks bertajuk “Fueling the Future: Fighting Iron Deficiency Anemia, Empowering the Next Generation” di Jakarta, pada Sabtu (1/11/2025).

Dampak Kekurangan Zat Besi Terhadap Perkembangan Kognitif

Dokter spesialis anak dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A, MARS, yang akrab disapa dr. Tiwi, menjelaskan bahwa kondisi kekurangan zat besi sejak dini dapat berdampak pada gangguan perkembangan kognitif atau kecerdasan anak. Zat besi berperan penting dalam kemampuan belajar seseorang. Jika kondisi ini dibiarkan, dampaknya bisa dirasakan jangka panjang hingga dewasa.

“Zat besi adalah komponen penting dalam sel darah merah. Sel darah merah tugasnya membawa nutrisi dan oksigen ke seluruh tubuh. Dua fungsi ini membuat kita bisa hidup secara optimal,” ujarnya.

Artinya, sel darah merah akan membawa nutrisi ke semua organ, termasuk otak, jantung, paru-paru, dan pencernaan. Jika seorang ibu hamil kekurangan sel darah merah, transfer nutrisi ke janin juga akan berkurang.

Dampak Kekurangan Zat Besi

Secara biomedis, zat besi merupakan elemen yang membentuk inti kehidupan manusia. Hemoglobin dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen dan nutrisi penting untuk tubuh memiliki struktur besi yang krusial. Ketika asupan zat besi tidak cukup, tubuh tidak mampu memproduksi hemoglobin dalam jumlah yang cukup, sehingga otak kekurangan oksigen.

Efeknya bukan hanya fisik yang lemah, tetapi juga kapasitas kognitif. Kekurangan oksigen di otak menyebabkan kesulitan berkonsentrasi, kecemasan, bahkan depresi. Kondisi ini bisa membuat kebugaran dan ketangkasan berpikir berkurang, yang tentu saja berdampak pada prestasi belajar dan produktivitas kerja.

“Untuk memenuhi kebutuhan zat besi secara optimal, penting untuk memastikan asupan gizi lengkap dan seimbang yang kaya akan zat besi, terutama protein hewani seperti daging merah, hati ayam, telur, ikan, atau dari sumber nabati seperti kacang-kacangan dan bayam,” kata dr. Tiwi.

Selain dari makanan harian, pemenuhan zat besi juga bisa dilengkapi dengan makanan atau minuman yang difortifikasi kombinasi zat besi dan vitamin C untuk meningkatkan penyerapan zat besi hingga dua kali lipat.

Sarihusada Berperan dalam Memerangi Anemia Defisiensi Besi

Dalam kesempatan yang sama, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Medical Science Director Sarihusada, menyatakan bahwa Sarihusada memahami bahwa defisiensi zat besi merupakan masalah nyata yang bisa menghambat potensi generasi muda Indonesia.

“Memerangi anemia defisiensi besi menjadi salah satu misi Sarihusada dalam berpartisipasi meningkatkan kesehatan masyarakat dan membentuk generasi yang kuat dan berdaya saing. Dalam upaya ini, Sarihusada telah melakukan berbagai inisiatif untuk mendukung penyediaan produk bergizi, terutama dalam pencegahan dan penanganan anemia defisiensi besi di Indonesia,” jelasnya.

Beberapa inisiatif dan kolaborasi yang telah dilakukan antara lain:

  • Membuat alat bantu deteksi dini kekurangan asupan zat besi anak pertama di Indonesia melalui Kalkulator Zat Besi. Hasilnya bisa diketahui kurang dari 3 menit. Kalkulator ini dapat digunakan secara mandiri dan diakses melalui website www.generasimaju.co.id, serta menjadi alat pemantauan berkala sebelum pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga kesehatan.
  • Bersama berbagai pemangku kepentingan menginisiasi program edukasi dan skrining untuk meningkatkan kesadaran serta pencegahan anemia defisiensi besi. Hingga kini, jumlah skrining telah tembus lebih dari satu juta.
  • Produk susu pertumbuhan SGM Eksplor mengandung IronC, kombinasi zat besi dan vitamin C yang membantu penyerapan zat besi hingga dua kali lipat. Inovasi ini menjadi bagian dari komitmen dalam mendukung pemenuhan zat besi optimal bagi anak Indonesia.
  • Adanya layanan edukasi gizi Nutri-Care Experts yang dapat diakses 24/7 via telepon ataupun media sosial. Layanan ini bekerja sama dengan profesional bidang gizi, kebidanan, dan keperawatan sebagai bentuk dukungan berkelanjutan dalam mencegah anemia defisiensi besi dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Memerangi anemia defisiensi besi bukan hanya tanggung jawab tenaga medis, tetapi juga gerakan bersama masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor mulai dari pemerintah, swasta, komunitas, hingga media untuk membangun kesadaran publik yang berkelanjutan tentang penanganan anemia defisiensi besi di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *