Membangun Generasi Muda yang Tangguh dan Berani Menghadapi Kegagalan
Direktur BCA, Hendra Tanumihardja, mengajak anak muda untuk tidak takut menghadapi kegagalan. Menurutnya, kegagalan bisa menjadi bagian dari proses menuju kesuksesan. “Dalam perjalanan meraih keberhasilan, kegagalan adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses tersebut,” ujarnya dalam sebuah keterangan pers.
Ia menekankan pentingnya memahami kegagalan melalui filosofi Ukemi. “Generasi muda perlu memaknai kegagalan layaknya filosofi Ukemi, sebagai peluang untuk bertumbuh, terutama ketika menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif seiring percepatan digitalisasi dan dinamika ekonomi,” tambahnya.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui program Bakti BCA kembali menggelar program BCA Berbagi Ilmu (BBI). Kali ini kegiatan tersebut dilakukan di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, dalam bentuk kuliah umum bersama Direksi BCA. Harapan dari program ini adalah memberikan wawasan esensial kepada mahasiswa menghadapi dunia kerja.
Pada gelaran di UMN, BBI mengusung tema “The Art of Falling: Ukemi as a Lesson for Life and Career”. Kegiatan yang dihadiri lebih dari 500 mahasiswa dari berbagai jurusan tersebut dihadiri oleh Rektor UMN Andrey Andoko, sivitas akademika UMN, dan jajaran manajemen BCA. “Melalui penyelenggaraan BBI di UMN, BCA berupaya menyiapkan generasi muda yang ulet, tangguh, dan mampu menyikapi berbagai tantangan dengan bijak di masa depan,” kata Hendra.
Filosofi Ukemi dalam Perjalanan BCA
Pada kesempatan yang sama, Hendra menjelaskan bagaimana implementasi Ukemi dalam perjalanan BCA sebagai institusi perbankan. Ukemi sendiri merupakan salah satu teknik dalam seni bela diri yang menekankan kemampuan menerima serangan dengan bijak agar tidak cedera saat terjatuh. Filosofi ini juga menjadi salah satu pedoman timnya untuk menjadi resilient dan tahan banting dalam menghadapi berbagai tantangan, persaingan, dan kondisi perekonomian sehingga perseroan tetap bertumbuh, berkembang, dan maju.
Selain itu, Hendra pun menyadari bahwa pendidikan berperan besar dalam membentuk mahasiswa agar mampu mengembangkan diri tidak hanya di ranah akademik, namun juga softskill yang relevan demi mendukung visi Indonesia Emas 2045. Inisiatif ini menjadi bentuk kontribusi perseroan dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui kolaborasi dengan sejumlah instansi pendidikan.
Rangkaian Program BCI Berbagi Ilmu
BBI di UMN menjadi gelaran ketujuh dari rangkaian BCA Berbagi Ilmu 2025, setelah sebelumnya dilaksanakan di Universitas Brawijaya, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, IPB University, Universitas Andalas, dan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Penyelenggaraan BBI di UMN menambah jangkauan program ini, dengan lebih dari 4.350 mahasiswa telah berpartisipasi sepanjang 2025.
Hendra mengatakan kegiatan BII berangkat dari kesadaran bahwa generasi muda adalah calon pemimpin bangsa yang potensinya perlu dikembangkan secara optimal, sehingga mereka dapat menjadi pemimpin yang bertanggung jawab bagi diri sendiri maupun masyarakat. “Melalui Bakti BCA, kami berkomitmen memberikan dampak positif untuk seluruh lapisan masyarakat, dimulai dari tingkat individu, komunitas, dan ekosistem,” kata Hendra.
Selain BII, ada pula program “Genera-Z Berbakti” yang melibatkan mahasiswa dalam pengabdian masyarakat melalui pendanaan, pendampingan, hingga dukungan publikasi ilmiah. Dengan program-program seperti ini, BCA berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam membangun generasi muda yang tangguh dan siap menghadapi tantangan masa depan.











