Kasus HIV di Fiji Melonjak 11 Kali, Ini Penyebabnya

News76 Dilihat

Peningkatan Kasus HIV di Fiji

Angka kasus human immunodeficiency virus (HIV) di Fiji, negara kepulauan di Samudra Pasifik Selatan, terus mengalami peningkatan signifikan. Pada tahun 2014, tercatat sekitar 500 orang yang terindikasi penyakit tersebut, namun jumlah ini meningkat hingga 11 kali lipat menjadi 5.900 orang pada tahun 2024. Dalam periode tersebut, terdapat 1.583 kasus baru yang dilaporkan, meningkat 13 kali lipat dari rata-rata lima tahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 41 kasus berusia 15 tahun atau lebih muda, dibandingkan dengan hanya 11 kasus pada tahun 2023. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja semakin rentan terhadap infeksi HIV di Fiji. Perlu diperhatikan bahwa peningkatan ini tidak hanya terjadi pada HIV, tetapi juga angka infeksi hepatitis C meningkat karena penularannya yang semakin mudah melalui jarum suntik.

Strategi Pemerintah dalam Menghadapi Wabah HIV

Peningkatan angka kasus HIV membuat pemerintah Fiji menetapkan wabah HIV pada awal tahun 2015. Wakil Menteri Kesehatan, Penioni Ravunawa, memperingatkan bahwa Fiji mungkin akan mencatat lebih dari 3.000 kasus HIV baru hingga akhir 2025. Menurutnya, situasi ini menjadi krisis nasional yang tidak kunjung mereda.

Sebagai respons terhadap peningkatan yang tajam ini, pemerintah berencana untuk menerapkan strategi Counter Narcotics dan HIV Surge, sebuah program pengurangan dampak buruk bagi orang yang menggunakan narkoba melalui suntikan. Namun, tantangannya adalah banyaknya mitos dan kesalahpahaman tentang HIV di kalangan masyarakat.

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah harus memberi edukasi terlebih dahulu kepada para pemimpin, seperti kepala suku, sehingga orang-orang akan mengikuti apa yang dikatakan oleh ketua mereka. Edukasi juga perlu diberikan di lingkungan tempat ibadah seperti gereja.

Praktik Berbagi Darah dan Penyebaran HIV

Di balik epidemi HIV di Fiji, terdapat tren yang makin meningkat dalam penggunaan narkoba, hubungan seks yang tidak aman, berbagi jarum suntik, dan praktik yang disebut “bluetoothing”. Istilah terakhir ini, yang juga dikenal sebagai hotspotting, merujuk pada praktik di mana seorang pengguna narkoba intravena menarik darahnya setelah menggunakan narkoba dan menyuntikkannya ke orang kedua, kemudian mungkin melakukan hal yang sama untuk orang ketiga, dan seterusnya.

Praktik bluetoothing juga dilaporkan di Afrika Selatan dan Lesotho, dua negara dengan tingkat HIV tertinggi secara global. Di Fiji, cara ini menjadi populer dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu daya tariknya adalah harganya yang lebih murah. Beberapa orang dapat berkontribusi untuk satu dosis dan membaginya. Alasan lain adalah mereka hanya membutuhkan satu jarum suntik.

Jarum suntik sulit didapatkan di Fiji. Apotek berada di bawah tekanan polisi, sehingga para pembeli akan dimintai resep untuk setiap pembelian jarum suntik.

Faktor Lain yang Mempengaruhi Penyebaran HIV

Selain itu, faktor lain yang turut berkontribusi pada peningkatan kasus HIV adalah chemsex, yaitu praktik di mana orang menggunakan obat-obatan, sering kali metamfetamin, sebelum dan selama hubungan seksual. Ini meningkatkan risiko penularan HIV karena kurangnya perlindungan saat berhubungan seks.

Peningkatan mendadak ini terkait dengan ledakan penggunaan metamfetamina atau sabu. Fiji yang dihuni oleh sekitar 900.000 orang di ratusan pulau, selama bertahun-tahun menjadi titik transit jalur narkoba Pasifik. Namun, sejak 2020, konsumsi domestik melonjak karena pandemi yang mengganggu rute perdagangan ilegal.

Sebelumnya negara itu hanya sebagai tempat transit. Saat pandemi COVID-19, jalur perdagangan obat-obatan terlarang terhenti di sana. Waktu ini menjadi momentum meningkatnya penggunaan obat-obatan terlarang.

Status Penderita HIV di Fiji

Pada tahun 2024, hanya 36 persen orang yang hidup dengan HIV di Fiji yang mengetahui status mereka, dan hanya 24 persen yang menerima pengobatan. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak penderita HIV yang belum mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang memadai. Diperlukan upaya lebih besar dalam pencegahan, pendidikan, dan akses layanan kesehatan untuk mengurangi penyebaran HIV di Fiji.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *