Bencana Tingkatkan Risiko Jantung, Apa Kaitannya?

Berita29 Dilihat

Ancaman Tersembunyi: Risiko Serangan Jantung Saat Bencana

Di tengah arus banjir atau kekacauan setelah bencana, perhatian publik biasanya tertuju pada cedera fisik, infeksi, dan kebutuhan dasar seperti makanan serta tempat tinggal. Namun, ada juga ancaman lain yang kerap muncul diam-diam, yaitu meningkatnya risiko serangan jantung. Banyak laporan menunjukkan tekanan fisik dan emosional yang muncul saat bencana tidak hanya menguras stamina, tetapi juga membebani sistem kardiovaskular.

Ketika seseorang harus mengungsi, terpapar udara dingin, atau kurang tidur selama berhari-hari, tubuh memasuki kondisi stres ekstrem. Hormon stres melonjak, detak jantung meningkat, dan tekanan darah naik. Semua itu bisa menjadi pemicu fatal, terutama bagi orang dengan riwayat hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung sebelumnya.

Di berbagai negara, fenomena ini sudah terdokumentasi. Misalnya, setelah Badai Katrina, ditemukan peningkatan signifikan pada rawat inap akibat serangan jantung selama masa pemulihan. Temuan serupa juga terlihat pada beberapa gempa besar dan banjir di Asia.

Hubungan antara Bencana dan Serangan Jantung

Para peneliti mengungkap setidaknya empat mekanisme utama kondisi bencana dapat menjadi pemicu serangan jantung:

  • Lonjakan stres akut

    Saat bencana terjadi, tubuh mengeluarkan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin dalam jumlah besar. Hormon-hormon ini meningkatkan tekanan darah, mempercepat detak jantung, dan membuat pembuluh darah menyempit. Itu adalah kondisi yang rawan bagi serangan jantung. Sebuah studi menemukan bahwa stres ekstrem dapat memicu pelepasan plak di pembuluh darah dan menyebabkan penyumbatan mendadak.

  • Paparan udara dingin dan kelelahan fisik

    Banjir bisa datang bersama suhu yang lebih rendah, dan paparan dingin dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit, meningkatkan beban kerja jantung. Aktivitas fisik di luar kebiasaan, seperti mengangkat barang berat atau berjalan di air banjir, dapat memperparah kondisi ini.

  • Putusnya akses obat penyakit kronis

    Dalam banyak kasus, pengungsi tidak membawa obat sehari-hari, seperti obat darah tinggi, obat jantung, atau obat diabetes. Studi di Jepang setelah gempa Tohoku 2011 menemukan bahwa ketidaktersediaan obat kronis berkaitan dengan meningkatnya kejadian pembekuan darah dan serangan jantung.

  • Kualitas udara yang memburuk

    Saat terjadi bencana, banjir misalnya, jamur, debu, dan kontaminan lain dapat meningkat drastis. Pencemaran udara jenis ini dapat memicu peradangan sistemik dan memperburuk kondisi jantung, terutama bagi lansia dan orang dengan komorbid. Paparan polusi udara akut berhubungan dengan peningkatan kejadian serangan jantung.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko serangan jantung akibat banjir atau bencana baik oleh individu, keluarga, maupun layanan kesehatan:

  • Memastikan ketersediaan obat penting

    Orang dengan hipertensi, penyakit jantung, atau diabetes perlu menyimpan obat dalam tas darurat.

  • Mengelola stres sebisa mungkin

    Praktik pernapasan dalam, istirahat teratur, dan mencari dukungan sosial dapat menurunkan kadar hormon stres. Langkah sederhana ini dapat membantu menurunkan risiko kardiovaskular.

  • Menghindari aktivitas fisik berat

    Evakuasi dan bersih-bersih pascabencana sering memerlukan tenaga besar. Namun, bagi orang dengan penyakit jantung, aktivitas tersebut bisa memicu serangan jantung. Membagi tugas dan meminta bantuan sangat disarankan.

  • Menjaga tubuh tetap hangat dan hidrasi cukup

    Paparan dingin memperbesar risiko penyempitan pembuluh darah. Sementara itu, dehidrasi membuat darah menjadi lebih kental, kondisi yang meningkatkan risiko sumbatan.

  • Segera cari pertolongan jika muncul gejala

    Nyeri dada, sesak napas, mual mendadak, atau rasa berat di lengan perlu segera direspons.

Dalam situasi bencana, perhatian sering terfokus pada keselamatan fisik, tetapi jantung juga butuh diperhatikan. Serangan jantung tidak selalu muncul tiba-tiba — kadang ia merupakan akumulasi dari stres, kelelahan, udara dingin, dan hilangnya obat. Kesadaran akan risiko ini dapat membantu masyarakat lebih waspada, terutama mereka yang memiliki faktor risiko. Dengan kesiapsiagaan yang tepat dan perhatian terhadap gejala tubuh, ancaman serangan jantung di tengah bencana dapat ditekan. Keselamatan bukan hanya soal bertahan dari bencana, tetapi juga memastikan tubuh tetap kuat menghadapi masa setelahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *