Apakah Begadang Bisa Menurunkan Berat Badan?
Begadang sering dianggap sebagai kebiasaan yang tidak terlalu berdampak, terutama bagi orang-orang yang sibuk bekerja dan terbiasa tidur larut. Ada juga yang percaya bahwa begadang bisa membantu menurunkan berat badan karena waktu makan menjadi lebih sedikit. Namun, anggapan ini tidak sejalan dengan cara kerja tubuh. Sebenarnya, apakah begadang benar-benar bisa menurunkan berat badan? Berikut penjelasannya.
1. Apakah Begadang Bisa Menurunkan Berat Badan?
Kurang tidur berkaitan erat dengan kenaikan berat badan, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Saat begadang, tubuh cenderung memproduksi hormon yang meningkatkan rasa lapar. Akibatnya, nafsu makan ikut naik, terutama terhadap makanan tinggi gula dan lemak. Pada kondisi tubuh yang lelah, keinginan untuk mengonsumsi makanan tinggi kalori juga makin sulit dikendalikan.
Sebuah studi menemukan bahwa orang dewasa yang tidur kurang dari 6 jam per malam berisiko mengalami kenaikan berat badan lebih tinggi dan memiliki keinginan kuat terhadap makanan kalori tinggi. Dalam jangka panjang, kurang tidur bahkan dikaitkan dengan proses pembakaran lemak yang lebih lambat walau sudah menjalani pola makan terkontrol dan rutin berolahraga. Hal ini terjadi karena kurang tidur kronis dapat mengubah sistem reward pada otak sehingga makanan tinggi kalori terasa menggoda.
2. Mengapa Tidur Penting untuk Mengontrol Berat Badan?
Tidur tak cuma soal istirahat, tapi juga berperan besar dalam mengatur berat badan. Saat waktu tidur kurang, tubuh akan mengalami berbagai perubahan yang bisa memengaruhi nafsu makan dan metabolisme. Berikut beberapa alasannya:
-
Keseimbangan hormon terganggu
Kurang tidur membuat hormon ghrelin (pemicu lapar) meningkat, sedangkan leptin (penanda kenyang) menurun. Akibatnya, kamu jadi lebih mudah lapar dan cenderung mengonsumsi sesuatu berlebihan meski sebenarnya tubuh sudah cukup energi. -
Kadar hormon stres meningkat
Tidur yang tidak cukup bisa menaikkan kadar kortisol. Hormon stres ini mendorong tubuh menyimpan lemak lebih banyak, terutama di area perut. -
Sensitivitas insulin menurun
Saat kurang tidur, kemampuan tubuh untuk mengolah gula dalam darah ikut menurun. Kondisi ini membuat lebih banyak gula disimpan sebagai lemak, bukan digunakan untuk mengontrol energi. -
Metabolisme jadi lebih lambat
Kurang tidur juga dapat menurunkan laju metabolisme saat tubuh beristirahat. Artinya, tubuh membakar lebih sedikit kalori meski aktivitas harian tidak berubah.
3. Berapa Lama Waktu Tidur yang Dianjurkan?
Kebutuhan tidur setiap orang berbeda-beda, tergantung pada usia dan tahap tumbuh kembangnya. Namun, tidur yang cukup bisa membantu menjaga kesehatan fisik, mental, hingga keseimbangan hormon tubuh. Berikut rekomendasi durasi tidur harian berdasarkan kelompok usia:
| Kelompok usia | Durasi tidur yang dianjurkan |
|---|---|
| Bayi 4—12 bulan | 12—16 jam per hari (termasuk tidur siang) |
| Anak 1—2 tahun | 11—14 jam per hari (termasuk tidur siang) |
| Anak 3—5 tahun | 10—13 jam per hari (termasuk tidur siang) |
| Anak 6—12 tahun | 9—12 jam per hari |
| Remaja 13—18 tahun | 8—10 jam per hari |
| Dewasa | 7 jam atau lebih setiap malam |
Faktanya, apakah begadang bisa menurunkan berat badan hanyalah salah kaprah. Kurang tidur justru bisa mengacaukan hormon, meningkatkan nafsu makan, dan memperlambat metabolisme. Jadi, mulai jaga kualitas tidurmu supaya hasil diet lebih maksimal dan tubuh tetap sehat, ya.









