Beban Kesehatan Perempuan Mengkhawatirkan, 22 Orang Meninggal Harian

Berita56 Dilihat

Indonesia Menghadapi Tantangan Serius dalam Kesehatan Perempuan

Indonesia berada di posisi ketiga dengan Angka Kematian Ibu (AKI) tertinggi di kawasan ASEAN, yaitu 189 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Situasi ini menunjukkan bahwa masalah keselamatan persalinan, kanker serviks, serta kesehatan reproduksi secara keseluruhan masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Menyelamatkan perempuan bukan hanya menjadi prioritas nasional, tetapi juga menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutan bangsa.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2025–2029 telah menetapkan target penurunan AKI sebesar 77 per 100.000 kelahiran hidup. Dengan target ini, pemerintah dan berbagai pihak terkait harus bekerja sama untuk mencapai hasil yang lebih baik dalam menjaga kesehatan perempuan.

Gerakan Nasional Selamatkan Perempuan Indonesia

Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) melalui program “Selamatkan Perempuan Indonesia” (SPRIN) resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan para mitra strategis. Program ini dirancang sebagai inisiatif berkelanjutan untuk mengatasi empat tantangan utama yang masih dihadapi Indonesia, antara lain:

  • Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI).
  • Mutu dan kesinambungan layanan yang masih bervariasi.
  • Kesenjangan wilayah dan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan.
  • Literasi dan kepercayaan masyarakat yang belum merata.

Di tengah berbagai ancaman tersebut, POGI bersama mitra pemerintah, organisasi masyarakat, sektor swasta, dan akademisi resmi meluncurkan SPRIN—sebuah gerakan nasional untuk memperkuat pendidikan, layanan, dan perlindungan kesehatan perempuan lintas tahap kehidupan.

Fase Krusial dalam Kesehatan Perempuan

POGI menegaskan bahwa SPRIN bukan hanya sekadar organisasi profesi, tetapi sebuah gerakan untuk menjaga martabat perempuan Indonesia. Setiap langkah yang diambil bertujuan memastikan perempuan, di mana pun berada, mendapatkan layanan yang aman, bermartabat, dan berbasis ilmu.

“Indonesia kini berada dalam fase krusial. Meskipun berbagai kemajuan telah dicapai, beban kesehatan perempuan tetap mengkhawatirkan. Setiap hari rata-rata 22 ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas, setara dengan 1 ibu yang tidak kembali ke keluarganya setiap jam,” ujar Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG(K), MPH, FRANZCOG (Hons), Ketua Umum POGI dalam konferensi pers “Synergy in Power, Rise of Indonesian Women” di Jakarta, pada Rabu (26/11/2025).

Pada saat yang sama, kanker serviks masih menjadi pembunuh senyap dengan lebih dari 20.000 kematian setiap tahun, sama dengan 1 perempuan meninggal setiap 25 menit. Padahal, menurutnya, mayoritas kasus dapat dicegah melalui vaksinasi HPV dan skrining rutin. Namun, keduanya masih belum banyak dilakukan sehingga lebih dari 70 persen kasus baru ditemukan pada stadium lanjut.

Kolaborasi Perkuat Sinergi

Program ini mengatur prioritas kesehatan perempuan mulai dari remaja, masa reproduktif, kehamilan, hingga perimenopause. Melalui kampanye kreatif seperti SPRIN Run, SPRIN Padel Championship, SPRIN Kartini Short Movie, dan SPRIN@Work, gerakan ini mendorong perempuan masuk ke ruang-ruang publik bersama sekolah, lingkungan kerja, dan komunitas.

Dalam aspek layanan kesehatan, SPRIN memperkenalkan SPRIN POGI Certified, yakni program sertifikasi standar mutu layanan berbasis ilmiah untuk memastikan konsistensi kualitas fasilitas kesehatan dan tenaga medis di Indonesia.

“SPRIN POGI Certified adalah tonggak penting untuk memastikan bahwa standar pelayanan kesehatan perempuan tidak lagi bergantung pada lokasi dan keberuntungan. Setiap perempuan berhak mendapatkan layanan yang respectful, aman, dan konsisten,” ujar Prof. Budi.

Peluncuran SPRIN ditandai dengan penandatanganan MoU jangka panjang antara POGI dan berbagai mitra lintas sektor. Mereka juga berkolaborasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) untuk memperkuat sinergi dalam perlindungan dan kesehatan reproduksi. Selain itu, kerja sama dengan pemuka agama lintas keyakinan juga dilakukan untuk menyampaikan pesan perlindungan dan kesehatan perempuan melalui pendekatan kultural dan keagamaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *