Batam Menarik Pegolf Asing, Potensi Industri Golf Indonesia Luar Biasa

Berita116 Dilihat

Potensi Ekonomi yang Menggiurkan dari Industri Golf

Batam, sebagai salah satu kota yang menjadi pusat perhatian dalam dunia olahraga golf, baru-baru ini berhasil menyelenggarakan event besar bernama Batam Pro-Am Golf 2025. Acara ini diadakan pada tanggal 22 November lalu dan sukses menarik banyak perhatian. Event ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dengan Persatuan Golf Indonesia (PGI). Pelaksanaan acara berlangsung di Palm Spring Golf Nongsa, Batam, dan memberikan bukti bahwa industri golf di Indonesia sedang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat.

Menurut Yafi Velyan Mahyudi, seorang akademikus dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), olahraga golf sudah lama menjadi bagian dari industri yang memiliki rantai ekonomi yang luas. Menurutnya, perekonomian dalam golf tidak hanya terbatas pada aktivitas bermain, tetapi juga mencakup berbagai aspek lain seperti investasi pembangunan lapangan hingga aktivitas harian para pemain.

“Keberadaan lapangan golf tidak hanya menciptakan fasilitas olahraga, tetapi juga membuka banyak peluang kerja seperti perawatan rumput, operator golf cart, caddy, kuliner, hingga transportasi,” ujarnya.

Yafi mencontohkan Batam yang memiliki enam lapangan golf dan hampir semuanya selalu ramai setiap hari. Meski secara visual tampak sepi karena areanya sangat luas, namun jika melihat area parkir bisa dilihat betapa banyak orang yang datang, bermain, makan, dan bertransaksi.

Daya Tarik Wisata Golf di Batam

Selama ini, Batam telah menjadi magnet wisata golf bagi para pegolf dari berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, Eropa, hingga Timur Tengah. Akses yang mudah membuat golfer asing langsung terbang ke Batam ketika ada event yang diumumkan.

Aktivitas tersebut memicu perputaran uang di hotel, restoran, layanan transportasi, hingga pusat perbelanjaan. Dalam satu turnamen nasional dengan 200 hingga 300 peserta, rata-rata pengeluaran seorang golfer mencapai Rp 7 juta sampai Rp 10 juta.

“Jika 200 peserta masing-masing menghabiskan Rp 10 juta, berarti ada Rp 2 miliar yang berputar hanya dari peserta. Itu belum termasuk pendamping, tim, sponsor, dan hadiah,” ucapnya.

Melihat aktivitas harian di ratusan lapangan golf di seluruh Indonesia, Yafi menilai potensi perputaran ekonomi industri golf berada di level triliunan rupiah per tahun. Dia lantas membandingkannya dengan liga sepak bola nasional yang menghasilkan lebih dari Rp 10,4 triliun setahun.

“Golf berjalan setiap hari, bukan dua kali seminggu seperti sepak bola,” tuturnya.

Dampak pada Masyarakat Menengah Bawah

Yafi juga menegaskan bahwa golf bukan olahraga yang hanya memberi keuntungan bagi kalangan berada. Dampak paling nyata justru dirasakan oleh masyarakat menengah bawah, mulai dari caddy (pramugolf), pekerja lapangan, petugas kebersihan, hingga UMKM kuliner dan transportasi yang hidup dari ramainya pemain.

Kenaikan okupansi hotel dan restoran juga berdampak langsung pada peningkatan pendapatan daerah melalui pajak.

Dengan berbagai indikator tersebut, Yafi menilai golf sebagai salah satu sektor olahraga paling strategis untuk terus dikembangkan. “Hampir tidak ada lapangan golf yang tutup dalam beberapa tahun terakhir sebagai bukti bahwa industri ini bergerak stabil dan sehat,” imbuhnya.

Peran Kemenpora dalam Pengembangan Olahraga

Kemenpora yang kini memiliki Deputi Industri Olahraga pun sejalan dengan semangat menggerakkan ekonomi di sektor tersebut. Ditambah lagi, concern dari Kemenpora di bawah kepemimpinan Menpora Erick Thohir pun jelas, yakni menguatkan ekosistem pariwisata dan industri olahraga.

Menurut data di PGI Batam, perputaran uangnya cukup besar. Itu baru satu kota, bagaimana dengan kota-kota lainnya. Tak salah, jika dilihat bahwa potensi Industri olahraga golf bisa mencapai triliunan rupiah tiap tahunnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *