Balita 2 Tahun Jadi Dewi Kumari Pelindung Nepal

News67 Dilihat

Kisah Mengharukan tentang Putri Kecil yang Dipilih Menjadi Dewi Kumari di Nepal

Di negara Nepal, terdapat tradisi unik dan penuh makna yang dikenal sebagai Dewi Kumari. Tradisi ini memiliki arti penting dalam kepercayaan masyarakat setempat, baik bagi umat Hindu maupun Buddha. Baru-baru ini, seorang putri kecil bernama Aryatara Shakya, yang belum genap berusia tiga tahun, telah dipilih untuk menjalani peran yang sangat berat dan istimewa sebagai Dewi Kumari baru.

Prosesi pengangkatan Aryatara Shakya terjadi pada saat festival Hindu yang paling besar di Nepal. Momen ini menarik perhatian banyak orang dari seluruh dunia, karena melibatkan ritual yang penuh makna dan kepercayaan yang mendalam terhadap tradisi.

Pemilihan Aryatara Shakya: Proses yang Sangat Ketat

Aryatara Shakya dipilih pada usia 2 tahun 8 bulan, menggantikan Kumari sebelumnya yang harus kembali menjadi manusia biasa setelah mencapai masa pubertas. Pemilihan ini dilakukan dengan kriteria yang sangat ketat. Gadis-gadis yang memenuhi syarat harus berusia antara 2 hingga 4 tahun dan memiliki kulit, rambut, mata, serta gigi yang sempurna tanpa cacat.

Namun, salah satu kriteria yang paling menantang adalah bahwa mereka tidak boleh takut gelap. Persyaratan ini menunjukkan bahwa seorang anak harus memiliki ketenangan jiwa yang luar biasa. Setelah terpilih, seorang Kumari selalu berbusana merah, menata rambutnya dalam sanggul di atas kepala, dan wajahnya dilukis dengan “mata ketiga” di dahi. Para pemuja berbaris untuk menyentuh kaki sang dewi dengan dahi mereka sebagai tanda penghormatan tertinggi serta memberikan persembahan berupa bunga dan uang.

Kehidupan Terasing yang Harus Dijalani Kumari

Meskipun mendapat penghormatan tertinggi, kehidupan seorang Kumari sangat terasing. Mereka memiliki sedikit teman bermain yang dipilih secara khusus dan hanya diizinkan keluar beberapa kali dalam setahun untuk menghadiri festival. Selama festival Indra Jatra, misalnya, Kumari diarak menggunakan kereta yang ditarik oleh para pemuja.

Namun, ada kemajuan modern yang diperbolehkan: para Kumari sekarang diizinkan menerima pendidikan dari guru privat di dalam kuil dan bahkan diperbolehkan memiliki televisi.

Tantangan Setelah Pensiun

Bagian paling menyedihkan dari tradisi ini adalah masa setelah pensiun. Mantan Kumari, seperti Trishna Shakya (yang menjadi dewi pada 2017 dan pensiun di usia 11 tahun), sering menghadapi kesulitan besar untuk beradaptasi dengan kehidupan normal. Mereka harus belajar melakukan pekerjaan rumah dan bersekolah reguler.

Selain kesulitan adaptasi, terdapat kepercayaan rakyat Nepal bahwa pria yang menikahi mantan Kumari akan meninggal muda. Akibatnya, banyak mantan Kumari yang tetap melajang seumur hidup. Untuk membantu, pemerintah kini memberikan pensiun bulanan kecil sekitar $110 atau sekitar 18 juta kepada mantan Kumari.

Kesimpulan

Kisah Aryatara Shakya adalah gambaran indah sekaligus pilu tentang kepercayaan dan pengorbanan yang mengikat masyarakat Nepal. Meskipun prosesinya penuh makna dan hormat, kehidupan seorang Kumari juga penuh tantangan dan pengorbanan. Tradisi ini mencerminkan nilai-nilai spiritual yang sangat dalam dalam budaya Nepal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *