Badai Tropis Fengshen Menghancurkan Filipina, 8 Orang Tewas dan 2 Hilang

Berita281 Dilihat

Badai Tropis Fengshen Menewaskan Delapan Orang di Filipina

Sebuah badai tropis bernama Fengshen menimbulkan kerusakan besar di berbagai wilayah Filipina, khususnya bagian utara dan tengah. Dalam peristiwa tersebut, sedikitnya delapan orang tewas, tiga lainnya terluka, dan dua orang dilaporkan hilang. Peristiwa ini terjadi pada hari Ahad, ketika badai menghancurkan beberapa daerah yang terletak di sekitar Kota Pitogo, sekitar 153 kilometer di tenggara Manila.

Menurut laporan media lokal, lima korban tewas merupakan anggota satu keluarga yang terdiri dari tiga anak-anak berusia 11 tahun dan dua tahun. Mereka tewas setelah sebuah pohon tumbang dan menimpa rumah mereka. Kejadian ini terjadi saat badai melanda wilayah tersebut, menyebabkan kerusakan yang cukup parah.

Selain itu, ribuan penduduk terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka karena ancaman banjir dan longsoran tanah. Media setempat melaporkan bahwa sebanyak 22.000 penduduk harus dievakuasi dari desa-desa yang rawan bencana. Di beberapa kota, keadaan darurat diberlakukan, sehingga penerbangan dan aktivitas sekolah ditangguhkan.

Fengshen terdeteksi di Teluk Manila pada siang hari dengan kecepatan angin mencapai 65 kilometer per jam. Badai ini juga dikenal sebagai “Ramil” oleh masyarakat setempat. Diperkirakan, badai ini akan meninggalkan Filipina pada Senin pagi, 20 Oktober 2025.

Juru bicara Kantor Pertahanan Sipil, Junie Castillo, mengatakan kepada wartawan bahwa lima orang tewas akibat pohon tumbang di Kota Pitogo, Provinsi Quezon, sementara tiga orang lainnya tewas di wilayah Visayas Barat, Filipina tengah. Castillo juga menyampaikan bahwa operasi pencarian masih berlangsung terhadap dua warga yang dilaporkan hilang dalam tanah longsor di Kota Quezon, Provinsi Bukidnon, Filipina selatan.

Menurut Castillo, sekitar 30.000 orang terdampak oleh badai ini, dengan 20.000 di antaranya telah dievakuasi. Selain itu, banjir dan tanah longsor juga terjadi di wilayah tengah dan selatan Filipina.

Filipina sering kali menjadi korban badai tropis, dengan rata-rata 20 topan melanda negara ini setiap tahun. Kondisi ini membuat masyarakat setempat terbiasa dengan ancaman cuaca ekstrem. Namun, dampak dari badai Fengshen terasa lebih parah, terlebih karena negara ini juga sedang menghadapi guncangan akibat serangkaian gempa bumi besar yang menewaskan sedikitnya 87 orang dalam tiga pekan terakhir.

Dampak Bencana yang Luas

Bencana yang disebabkan oleh badai Fengshen tidak hanya berdampak pada nyawa manusia, tetapi juga mengganggu kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Banyak infrastruktur rusak, termasuk jalan, bangunan, dan sistem transportasi. Pemerintah setempat terus berupaya untuk memastikan kebutuhan dasar penduduk terpenuhi, seperti makanan, air bersih, dan tempat tinggal sementara.

Kondisi darurat yang diberlakukan di beberapa kota juga menunjukkan tingkat keparahan bencana. Operasi evakuasi dan pencarian korban terus berlangsung, meskipun situasi cuaca masih belum sepenuhnya stabil. Masyarakat diminta untuk tetap waspada dan mengikuti petunjuk dari pihak berwenang agar dapat menghindari risiko tambahan.

Badai Fengshen menjadi pengingat penting bagi Filipina untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana alam. Dengan adanya perubahan iklim yang semakin ekstrem, negara ini perlu memperkuat sistem peringatan dini dan infrastruktur yang tahan terhadap cuaca buruk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *