Autoimun Lebih Sering Menyerang Wanita, Mengapa?

Berita60 Dilihat

Penyakit Autoimun dan Kecenderungan pada Perempuan

Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat sebagai ancaman. Menurut penelitian, sekitar 80 persen penderita penyakit autoimun adalah perempuan. Dari lupus hingga arthritis reumatoid, kondisi-kondisi ini semakin meningkat dan memengaruhi kualitas hidup perempuan. Lonjakan kasus ini mendorong para ahli untuk terus mencari tahu penyebab dan faktor risiko yang membuat perempuan lebih rentan terhadap penyakit ini.

Ada lebih dari 100 jenis penyakit autoimun yang berbeda, mulai dari yang ringan hingga mengancam nyawa. Beberapa contohnya meliputi:

  • Sjogren’s syndrome, yang dikenal dengan gejala mata dan mulut kering. Penyakit ini tidak dapat diprediksi, dan penderita bisa merasa baik-baik saja, lalu tiba-tiba kambuh tanpa peringatan.
  • Lupus, penyakit yang dapat merusak kulit, ginjal, paru-paru, dan jantung. Biasanya disertai ruam berbentuk kupu-kupu.
  • Rheumatoid arthritis, yaitu peradangan sendi kronis yang bisa menghambat gerak seseorang.
  • Miositis dan miastenia gravis, penyakit yang melemahkan otot dan mengganggu sinyal saraf.

Gejala awal penyakit ini sering kali samar dan bisa menyerupai kondisi sehari-hari yang tidak terlalu berbahaya. Misalnya, nyeri sendi, demam, dan kelelahan. Untuk diagnosis yang tepat, diperlukan serangkaian tes darah dan tes antibodi, serta konsultasi dengan beberapa dokter.

Alasan Perempuan Lebih Rentan Terhadap Penyakit Autoimun

Menurut tinjauan Naratif Prevalensi Gangguan Autoimun pada Wanita yang dipublikasikan dalam National Institute Health, alasan utama perempuan lebih rentan terhadap penyakit autoimun adalah variasi dalam kromosom seks dan perubahan hormonal.

Perempuan memiliki dua kromosom X yang memberi mereka risiko lebih tinggi dibanding laki-laki. Penelitian terbaru juga menemukan adanya perbedaan respons imun antara laki-laki dan perempuan. Contohnya, sebuah gen yang disebut Kdm6a lebih aktif dalam sel imun wanita. Menurut penelitian yang dipublikasikan di PubMed Central, penghilangan gen ini dapat mengurangi peradangan dan aktivitas penyakit dalam model multiple sclerosis.

Selain itu, molekul lain yang ditemukan dalam sel imun wanita adalah Xist, yang diam-diam membantu kromosom X tetapi juga dapat membentuk kompleks molekuler yang bertindak seperti autoantigen, yang berpotensi memicu respons autoimun.

Teori Mengenai Penyebab Penyakit Autoimun

Menurut Ana-Maria Orbai, pakar reumatologi dari Johns Hopkins Arthritis Center, ada sejumlah teori mengenai penyebab penyakit autoimun, termasuk infeksi, kerusakan jaringan, dan faktor genetik. Meski begitu, dokter belum dapat memastikan penyebab pastinya, termasuk alasan perempuan lebih banyak terdampak dibanding laki-laki.

Salah satu teori menyatakan bahwa kadar hormon yang lebih tinggi pada perempuan usia reproduktif bisa meningkatkan kerentanan terhadap penyakit ini. Namun, Orbai menegaskan bahwa teori tersebut belum terbukti secara ilmiah. Autoimunitas dipengaruhi oleh banyak faktor, baik genetik maupun lingkungan, sehingga prosesnya sangat kompleks.

Harapan Baru dalam Pengobatan Penyakit Autoimun

Perkembangan terbaru menawarkan harapan baru bagi pengobatan penyakit autoimun, yang selama ini bergantung pada imunosupresan dengan risiko efek samping serius. Sejumlah inovasi kini mulai diuji, seperti:

  • Terapi sel, termasuk pendekatan eksperimental CAR-T yang mencoba “mereset” sistem imun pada kondisi seperti lupus.
  • Pemrograman ulang imun, yaitu obat yang menarget perilaku sel imun agar lebih teratur.
  • Diagnostik canggih, seperti studi proteomik untuk memprediksi flare lupus sehingga perawatan bisa lebih tepat waktu dan personal.

Dengan penelitian yang terus berkembang, diharapkan akan ada solusi yang lebih efektif dan aman untuk mengatasi penyakit autoimun, terutama yang sering menyerang perempuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *