Rahasia Abadi Xi Jinping & Putin: Transplantasi Organ?

Politics178 Dilihat

Perbincangan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela parade militer di Beijing baru-baru ini telah memicu pertanyaan yang menggelitik imajinasi: Apakah manusia dapat mencapai keabadian atau setidaknya hidup sangat panjang melalui transplantasi organ? Melalui penerjemah, Presiden Putin mengemukakan gagasan bahwa organ tubuh manusia dapat ditransplantasikan berulang kali, dengan potensi untuk “membuat seseorang tetap muda” meskipun usianya terus bertambah. Ia bahkan berspekulasi tentang kemungkinan menunda penuaan, memungkinkan manusia hidup hingga 150 tahun. Momen ini diakhiri dengan tawa renyah dari kedua pemimpin tersebut. Namun, di balik obrolan santai itu, muncul pertanyaan mendasar: seberapa realistiskah konsep tersebut, dan mungkinkah ini menjadi fondasi bagi rencana besar di masa depan?

Dalam praktiknya, transplantasi organ selama ini telah menjadi intervensi medis krusial yang berfungsi untuk menyelamatkan nyawa dan meningkatkan kualitas hidup. Di Inggris Raya, misalnya, lebih dari 100.000 jiwa telah tertolong berkat metode ini dalam tiga dekade terakhir, sebuah data yang dirilis oleh NHS Blood and Transplant. Kemajuan signifikan dalam penelitian dan teknologi medis telah memungkinkan organ yang ditransplantasikan untuk bertahan jauh lebih lama di dalam tubuh penerima. Tidak jarang ditemukan kasus di mana pasien hidup dengan ginjal transplantasi yang berfungsi optimal selama lebih dari 50 tahun. Namun, perlu dicatat bahwa perjalanan hidup dengan organ hasil transplantasi juga membawa serta risiko inheren serta potensi ketergantungan seumur hidup pada obat-obatan tertentu.

Lantas, seberapa realistiskah dan berisikokah gagasan transplantasi organ berulang kali ini? Para ahli menegaskan bahwa meskipun transplantasi dapat memperpanjang usia, setiap organ memiliki batas masa pakainya. Durasi fungsionalitas suatu organ sangat bergantung pada berbagai faktor, termasuk kondisi kesehatan donor dan penerima, serta gaya hidup yang mereka jalani. Sebagai contoh, ginjal yang didonorkan dari individu hidup umumnya dapat berfungsi selama 20 hingga 25 tahun. Sementara itu, ginjal dari donor yang telah meninggal dunia memiliki masa pakai yang sedikit lebih singkat, yakni sekitar 15 hingga 20 tahun. Masa pakai ini juga bervariasi antarjenis organ; studi dari Journal of Medical Economics menunjukkan bahwa rata-rata organ hati bertahan sekitar 20 tahun, jantung 15 tahun, dan paru-paru sekitar 10 tahun.

Namun, diskusi antara Presiden Xi dan Putin bukan hanya tentang satu transplantasi organ, melainkan potensi untuk mengganti berbagai organ secara berulang demi mencapai hidup abadi. Pertanyaan besar yang muncul adalah: apakah tindakan ini aman? Bahkan, transplantasi satu jenis organ yang dilakukan hanya sekali pun sudah menyertakan risiko yang signifikan. Pertama, prosedur operasi itu sendiri adalah tantangan besar yang menempatkan pasien di ambang hidup dan mati. Pasca-operasi, penerima organ diwajibkan mengonsumsi obat anti-penolakan, atau imunosupresan, seumur hidup. Obat-obatan vital ini, sayangnya, datang dengan efek samping serius seperti peningkatan tekanan darah dan kerentanan terhadap infeksi. Lebih jauh lagi, meskipun telah mengonsumsi imunosupresan, risiko penolakan organ oleh sistem kekebalan tubuh yang menganggap organ baru sebagai benda asing tetaplah ada. Dengan mempertimbangkan semua ini, gagasan transplantasi organ berulang kali untuk tujuan keabadian tentu membawa risiko yang jauh lebih besar dan kompleks.

Di tengah tantangan tersebut, dunia sains tak henti berinovasi. Para ilmuwan kini gencar berupaya menciptakan organ rekayasa yang minim risiko penolakan. Salah satu pendekatan menjanjikan adalah xenotransplantasi, yaitu penggunaan organ dari hewan yang dimodifikasi secara genetik, seperti babi, sebagai donor. Di Amerika Serikat, transplantasi jantung dan ginjal dari babi ke manusia telah dilakukan. Meskipun pasien-pasien tersebut pada akhirnya meninggal dunia, upaya ini telah membuka jalan dan memberikan kontribusi penting bagi kemajuan bidang xenotransplantasi – transfer sel, jaringan, atau organ dari satu spesies ke spesies lain. Berbekal pelajaran dari pengalaman, penelitian terus berkembang. Kini, teknologi pengeditan gen canggih seperti CRISPR digunakan untuk menghilangkan gen babi yang tidak kompatibel dan menyisipkan gen manusia, bertujuan agar organ donor lebih diterima oleh tubuh penerima. Babi dipilih sebagai donor potensial karena ukuran organnya yang relatif mirip dengan manusia. Namun, perlu ditekankan bahwa bidang ilmu ini masih berada pada tahap yang sangat eksperimental.

Selain itu, ada pula penelitian mendalam yang mengeksplorasi potensi untuk menumbuhkan organ baru dari sel-sel manusia itu sendiri. Pendekatan ini memanfaatkan keunggulan sel punca, yang memiliki kemampuan luar biasa untuk berkembang menjadi berbagai jenis sel atau jaringan dalam tubuh. Meskipun hingga saat ini belum ada tim riset yang berhasil menciptakan organ manusia yang berfungsi penuh dan siap untuk transplantasi melalui metode ini, upaya dan dedikasi para ilmuwan terus berlanjut. Sebagai terobosan signifikan, pada tahun 2020, para peneliti dari UCL dan Francis Crick Institute di Inggris berhasil merekonstruksi kelenjar timus manusia—organ vital bagi sistem kekebalan tubuh—dengan menggunakan sel punca manusia yang telah direkayasa secara biologis. Penting untuk digarisbawahi bahwa semua inovasi teknologi ini bertujuan utama untuk mengobati penyakit dan memperbaiki kualitas hidup, bukan untuk mewujudkan janji kehidupan hingga 150 tahun.

Dengan segala terobosan dan tantangan di atas, kembali pada pertanyaan inti: Mungkinkah manusia mencapai hidup abadi dengan transplantasi organ? Pengusaha teknologi Bryan Johnson dikenal karena dedikasinya yang ekstrem, menghabiskan jutaan dolar setiap tahun dalam upaya untuk membalikkan penuaan biologisnya. Meskipun ia belum pernah mencoba transplantasi organ, Johnson pernah melakukan eksperimen penyuntikan plasma dari putranya yang berusia 17 tahun ke tubuhnya. Namun, eksperimen tersebut dihentikan karena tidak memberikan hasil yang diharapkan, selain juga menghadapi pengawasan ketat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA).

Dr. Julian Mutz dari King’s College London menambahkan bahwa pendekatan seperti penggantian plasma, meskipun masih eksperimental dan terpisah dari transplantasi organ, sedang dieksplorasi sebagai bagian dari penelitian anti-penuaan. Beliau menyatakan, “Apakah strategi ini akan memiliki dampak yang signifikan pada usia harapan hidup, terutama usia harapan hidup manusia maksimum, memang belum pasti. Namun, ini merupakan bidang yang menarik secara ilmiah.” Senada dengan pandangan skeptis tersebut, Profesor Neil Mabbott, seorang ahli imunopatologi dari Roslin Institute, University of Edinburgh, menegaskan bahwa batas usia maksimum bagi manusia diperkirakan sekitar 125 tahun. Ia mencontohkan kasus Jeanne Calment, wanita Prancis yang menjadi individu tertua yang terverifikasi, hidup hingga usia 122 tahun (1875-1997). Prof. Mabbott menjelaskan bahwa meskipun organ yang rusak dapat diganti, ketahanan tubuh secara keseluruhan akan menurun drastis seiring bertambahnya usia. Ia menambahkan, “Kita menjadi kurang efektif dalam merespons infeksi, dan tubuh menjadi lebih rapuh, rentan terhadap cedera, dan sulit untuk pulih.” Lebih lanjut, kombinasi stres, trauma, efek samping operasi transplantasi organ, serta ketergantungan pada obat imunosupresan akan sangat membebani kondisi pasien di usia lanjut. Oleh karena itu, Prof. Mabbott menyarankan agar fokus lebih diarahkan pada menjaga kualitas kesehatan selama hidup, bukan sekadar memperpanjang usia semata. “Hidup lebih lama tetapi menderita berbagai penyakit yang menyertai penuaan dan keluar-masuk rumah sakit untuk transplantasi jaringan lain, kedengarannya bukan cara yang menarik untuk menghabiskan masa pensiun saya!” tegas Prof. Mabbott, merangkum pandangannya tentang realitas di balik mimpi hidup abadi. Wawasan lebih lanjut mengenai perkembangan ilmu pengetahuan medis ini juga sering menjadi topik ulasan di berbagai platform, termasuk situswanita.com.