9 Kalimat Gaslighting yang Sering Digunakan Orang Tua, Menurut Psikolog

News73 Dilihat

Peran Kata-Kata dalam Pengembangan Emosional Anak

Kata-kata yang terdengar sepele ternyata bisa memiliki dampak besar pada perkembangan emosional anak. Alih-alih menenangkan, beberapa ucapan yang sering diucapkan oleh orang tua justru bisa membuat anak merasa tidak dimengerti dan akhirnya menutup diri. Dalam psikologi, perilaku ini dikenal sebagai gaslighting, yaitu bentuk manipulasi emosional yang sering terjadi dalam hubungan yang tidak sehat.

Gaslighting dapat membuat anak merasa bahwa perasaan mereka salah atau tidak valid. Hal ini bisa memengaruhi perkembangan emosional mereka dengan membuat anak terputus dari emosinya sendiri dan mulai meragukan persepsinya terhadap realitas. Akibatnya, anak bisa kehilangan rasa percaya diri dan enggan menyuarakan pendapatnya. Mereka juga mungkin menjadi terlalu bergantung pada penilaian orang lain.

Kalimat Gaslighting yang Harus Dihindari

Berikut adalah sembilan kalimat gaslighting yang sebaiknya dihindari agar anak bisa mengekspresikan dirinya dengan sehat:

  1. “Jangan nangis”

    Kalimat ini langsung melarang anak menunjukkan emosinya. Ketika Bunda mengucapkannya, Si Kecil belajar menahan tangis dan menekan perasaan sedih, takut, atau kecewa. Memberikan ruang bagi anak untuk menangis justru bisa membantu mereka belajar mengenali dan mengelola emosinya.

  2. “Jangan jadi anak yang sedih/khawatir/penakut”

    Ucapan ini dapat meniadakan perasaan anak dan menggantinya dengan ekspektasi Bunda. Anak akan merasa bahwa apa yang mereka rasakan salah atau tidak diterima. Bunda bisa memberikan pengertian dan mendengarkan tanpa menilainya untuk membuat anak merasa aman dan didengar.

  3. “Kamu terlalu sensitif” atau “Kamu lebay banget”

    Kalimat seperti ini bisa membuat Si Kecil merasa bersalah atas perasaan yang mereka alami. Anak mungkin mulai meragukan reaksi emosinya sendiri. Sebagai gantinya, Bunda bisa mengajarkan anak bahwa setiap perasaan itu valid dan membantu mereka mengekspresikannya dengan cara yang sehat.

  4. “Bukan begitu kejadiannya”

    Kalimat seperti “kamu salah paham” atau “kamu tahu maksud Bunda bukan begitu” bisa membuat anak ragu pada pengalamannya sendiri. Alih-alih menyangkal, cobalah untuk bertanya lebih dalam, seperti apa yang mereka rasakan dan bagaimana pengalaman itu terlihat bagi mereka.

  5. “Itu enggak sakit kok”

    Kalimat ini secara tidak langsung menolak pengalaman fisik anak, seolah rasa sakit mereka tidak penting. Bunda bisa mengakui rasa sakit anak dan menenangkan mereka, misalnya dengan kalimat, “Aku lihat kamu kesakitan, ayo kita atasi sama-sama.”

  6. “Kalau kamu berperilaku lebih baik, aku enggak akan marah”

    Kalimat ini memindahkan tanggung jawab emosi Bunda ke anak. Si Kecil bisa merasa bersalah dan bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Sebagai gantinya, katakan pada anak bahwa marah itu wajar bagi orang tua, tapi Bunda tetap bisa mengendalikannya tanpa menyalahkan anak.

  7. “Anak lain enggak kayak kamu”

    Kalimat ini membandingkan anak dengan orang lain dan bisa membuat mereka merasa tidak berharga. Coba fokus pada setiap apapun yang dilakukan Si Kecil dan beri pujian atas usahanya sendiri.

  8. “Kasihan banget, deh…” (dengan nada sarkastik)

    Nada sarkastik bisa merendahkan perasaan anak dan membuat mereka malu mengekspresikan emosinya di kemudian hari. Bunda bisa mengganti nada ini dengan empati yang tulus.

  9. “Kamu ngarang aja tuh” atau “Kamu cuma halu”

    Kalimat ini secara tidak langsung menuduh anak berbohong dan membuat mereka meragukan pengalamannya sendiri. Alih-alih menuduh, dengarkan Si Kecil dengan penuh perhatian dan beri mereka validasi.

Bagaimana Jika Sudah Melakukan Gaslighting?

Jika Bunda menyadari pernah melakukan gaslighting pada anak, jangan langsung merasa bersalah. Hal ini biasanya bukan dilakukan dengan niat yang buruk, melainkan karena situasi tertentu yang membuat orang tua bereaksi spontan. Saran dari psikolog, mulailah dengan mendengarkan perasaan anak terlebih dahulu, meski hal itu terasa tidak nyaman bagi Bunda. Selain mendengarkan Si Kecil, penting juga untuk memvalidasi perasaan anak.





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *