6 Tokoh Pemicu Ledakan SMAN 72 Jakarta

Berita93 Dilihat



Situwanita.com,

JAKARTA — Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti-teror Polri mengungkap bahwa terdapat enam tokoh yang menjadi inspirasi bagi pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta. Juru Bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan bahwa keenam tokoh tersebut dikenal dengan aksi kekerasan ekstrem hingga pembunuhan.

“Nah di sini ada suatu hal yang memprihatinkan, ada beberapa yang menjadi inspirasi terkait figur kita sebutkan ada kurang lebih 6 yang tercatat,” ujar Mayndra di Polda Metro Jaya, Selasa (11/11/2025).

Menurutnya, pelaku yang saat ini telah ditetapkan sebagai anak berkonflik hukum (ABH) menuliskan nama-nama tokoh tersebut di dalam senjata mainan miliknya. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku sangat terpengaruh oleh tindakan-tindakan ekstrem yang dilakukan para tokoh tersebut.

Selain itu, motivasi pelaku melakukan perbuatannya itu berasal dari rasa kesepian dan dendam terhadap perlakuan yang dialaminya. Namun, pelaku tidak memiliki tempat untuk bercerita atau mencari dukungan.

“Singkatnya, pelaku menemukan komunitas di media sosial yang menyukai tindak kekerasan ekstrem. Dalam komunitas tersebut, aksi kekerasan ekstrem dinilai heroik,” jelas Mayndra.

Ia menambahkan bahwa dalam komunitas tersebut, ketika beberapa pelaku melakukan tindakan kekerasan lalu menguploadnya ke media, komunitas itu akan mengapresiasi sesuatu hal yang dianggap heroik.

Berikut adalah enam tokoh yang diketahui menginspirasi siswa SMAN 72:

  • Eric Harris dan Dylan Klebold – Pelaku penembakan massal di Columbine High School, AS, 1999, penganut neo-Nazi
  • Dylann Storm Roof – Pelaku penyerangan gereja di Charleston, AS, 2015, penganut supremasi kulit putih
  • Alexandre Bissonnette – Pelaku penembakan masjid di Quebec, Kanada, 2017, dikenal karena Islamofobia ekstrem
  • Vladislav Roslyakov – Pelaku penembakan massal Politeknik Kerch, Crimea, 2018
  • Brenton Tarrant – Pelaku serangan masjid Christchurch, Selandia Baru, 2019
  • Natalie Lynn ‘Samantha’ Rupnow – Pelaku penembakan sekolah di Madison, AS, 2024

Pengungkapan ini menunjukkan betapa pentingnya pemantauan terhadap pengaruh media sosial dan isu-isu radikalisme di kalangan remaja. Densus 88 juga menekankan pentingnya pendekatan preventif dan edukasi untuk mencegah munculnya tindakan ekstrem di masa depan.

Kasus ini juga memicu pertanyaan tentang bagaimana sistem pendidikan dan keluarga dapat lebih aktif dalam mendeteksi tanda-tanda kecemasan atau kebencian pada anak-anak. Dengan adanya komunitas-komunitas online yang memperkuat ideologi ekstrem, penting bagi orang tua dan guru untuk lebih waspada dan terlibat secara aktif dalam kehidupan anak-anak mereka.

Dengan demikian, langkah-langkah pencegahan dan intervensi diperlukan agar tidak ada lagi kasus serupa yang terjadi di masa depan. Penyuluhan tentang nilai-nilai perdamaian, toleransi, dan keterbukaan harus terus dilakukan guna membentuk generasi muda yang lebih sehat dan positif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *