Perempuan Kaya di Dunia: Kekayaan yang Terbentuk dari Usaha Sendiri
Perempuan kaya di dunia memiliki banyak kesamaan, bukan hanya sekadar gaya hidup mewah. Mereka memegang saham dalam ekonomi global dan berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Banyak dari mereka tidak hanya mewarisi kerajaan bisnis, tetapi juga mengembangkannya, beralih ke pasar baru, dan bahkan mengubah aturan main di industri yang didominasi oleh laki-laki.
Berikut adalah beberapa perempuan kaya di Amerika Serikat yang berhasil membangun kerajaan bisnisnya sendiri:
1. Diane Hendrick
Diane Hendrick adalah pemilik dan pimpinan ABC Supply, salah satu distributor grosir atap, dinding, dan jendela terbesar di Amerika Serikat. Ia menduduki peringkat pertama sebagai perempuan terkaya di AS dengan total kekayaan sebesar US$22,3 miliar atau setara Rp370 triliun.
Ia mendirikan bisnis tersebut bersama suaminya, Ken, pada 1982 di Beloit, Wisconsin. Setelah suaminya meninggal pada 2007, ia terus memimpin perusahaan ini. Hendricks melakukan akuisisi besar-besaran, termasuk pembelian Bradco pada 2010 dan L&W Supply pada 2016. Perusahaan ini memiliki lebih dari 900 lokasi cabang dan pendapatan sebesar US$20,7 miliar atau setara Rp343 triliun pada 2024.
Selain itu, Hendricks juga berinvestasi dalam pembangunan ekonomi lokal dengan membangun kembali seluruh blok di Beloit dan menarik bisnis baru ke wilayah tersebut.
2. Judy Faulkner
Judy Faulkner menduduki posisi kedua dengan kekayaan sebesar US$7,8 miliar atau Rp129 triliun. Ia mendirikan Epic Systems, penyedia perangkat lunak rekam medis, di ruang bawah tanah Wisconsin pada 1979.
Epic Systems menyediakan layanan untuk lebih dari 250 juta pasien dan digunakan oleh pusat-pusat medis ternama seperti John Hopkins dan Mayo Clinic. Perusahaan ini tidak pernah mengumpulkan modal ventura dan mengembangkan semua perangkat lunak secara internal.
Pada 2015, Judy menandatangani Giving Pledge dan berkomitmen untuk memberikan 99 persen asetnya kepada yayasan amal. Pada 2024, dia menjual sekitar US$100 juta atau Rp1,6 triliun saham miliknya ke perusahaan dan hasilnya disumbangkan ke yayasan Roots & Wings.
3. Marian Ilitch & Keluarga
Marian Ilitch dan suaminya, Mike, mendirikan Little Caesars Pizza pada 1959. Perempuan ini menduduki posisi ketiga dengan total kekayaan sebesar US$6,9 miliar atau Rp114 triliun.
Dia juga memiliki tim NHL Detroit Red Wings dan MotorCity Casino Hotel. Ilitch membantu membangun distrik olahraga dan hiburan senilai US$1,4 miliar atau Rp23,2 triliun di Detroit.
4. Lynda Resnick
Lynda Resnick dan suaminya, Stewart, memiliki kekayaan miliaran dolar dari bertani sebagai petani kacang pohon terkemuka di dunia dan petani jeruk terbesar di AS. Dengan kekayaan tersebut, Lynda menduduki posisi keempat sebagai perempuan terkaya di AS dengan total kekayaan sebesar US$5,4 miliar atau Rp89 triliun.
Mereka mendirikan Wonderful Company, salah satu perusahaan pertanian terbesar di Amerika. Lynda putus kuliah di usia 19 tahun untuk mendirikan biro iklannya sendiri, sedangkan Stewart datang untuk meminta bantuan pemasaran.
5. Thai Lee
Thai Lee adalah CEO SHI International, penyedia TI senilai US$15 miliar atau Rp249 triliun (penjualan kotor). Perusahaan ini memiliki 15.000 pelanggan, termasuk Boeing dan AT&T. Thai Lee menduduki posisi kelima dengan total kekayaan sebesar US$6,1 miliar atau setara Rp101 triliun.
Ia lahir di Bangkok dan tumbuh di Korea Selatan sebelum pindah ke AS untuk pendidikan. Ayahnya adalah seorang ekonom terkenal. Thai Lee lulus dari Sekolah Bisnis Harvard dan pernah bekerja di Procter & Gamble dan American Express.
Ia dan mantan suaminya, Leo KoGuan, membeli reseller perangkat lunak pada 1989, yang menjadi awal dari SHI. Kini, Thai Lee memiliki 60 persen saham, sementara Leo 40 persen.
SHI baru-baru ini menginvestasikan US$20 juta atau Rp332 miliar di laboraturium AI & Cyber yang baru dibuka, tempat ia menguji solusi AI bagi pelanggan yang menggunakan teknologi NVIDIA.









