5 Kalimat Beracun yang Membuat Anak Tidak Mendengarkan Orang Tua, Menurut Psikolog

News168 Dilihat

Mengapa Anak Tidak Mau Mendengarkan Orang Tua?

Banyak orang tua merasa kesulitan saat anak tidak mau mendengarkan meski sudah diberi peringatan berulang kali. Ini bukanlah hal yang jarang terjadi, karena banyak orang tua menghadapi situasi serupa setiap hari. Faktanya, cara kita berbicara bisa sangat memengaruhi sikap anak. Beberapa kalimat tertentu justru membuat mereka enggan untuk bekerja sama.

Seorang psikolog dan parenting coach bersertifikat, Reem Rouda, melakukan penelitian terhadap lebih dari 200 hubungan orang tua-anak. Dari penelitiannya, ia menemukan bahwa orang tua yang jarang menghadapi penolakan dari anak biasanya tidak menggunakan ancaman, suap, atau hukuman keras. Mereka lebih memilih menggunakan kata-kata yang menghargai anak, sehingga Si Kecil merasa dihargai dan lebih mudah untuk didengar.

Berikut ini adalah lima kalimat yang sering tanpa disadari membuat anak tidak mau mendengarkan:

1. “Kalau Bunda bilang begitu”

Mengucapkan frasa seperti ini bisa membuat anak merasa tidak dihargai. Kalimat ini menutup komunikasi dan mengajarkan ketaatan buta. Sebaliknya, coba gunakan kalimat seperti, “Bunda tahu kamu tidak suka keputusan ini. Bunda akan jelaskan, lalu kita lanjutkan.” Dengan menjelaskan alasan, anak akan merasa didengar dan dihargai.

2. Ancaman kehilangan hak

Mengancam dengan kalimat seperti “Kalau kamu tidak mendengarkan, kamu akan kehilangan [hak tertentu]” bisa membuat anak defensif. Lebih baik ganti dengan, “Saat kamu siap melakukan [perilaku tertentu], kita bisa melakukan [aktivitas yang diinginkan].” Dengan demikian, batasan tetap jelas, namun anak tetap memiliki kontrol atas keputusan mereka.

3. Mengabaikan tangisan anak

Ketika anak menangis, jangan langsung berkata, “Berhenti menangis. Kamu baik-baik saja.” Hal ini bisa membuat anak merasa emosinya tidak dihargai. Coba ganti dengan, “Aku melihat kamu sangat kesal. Ceritakan apa yang terjadi.” Dengan mendengarkan anak secara penuh, mereka akan merasa didukung dan lebih cepat tenang.

4. Mengulang-ulang dengan nada frustrasi

Kalimat seperti “Berapa kali aku harus bilang?” seringkali membuat anak merasa disalahkan. Sebaliknya, coba gunakan kalimat seperti, “Aku sudah menanyakan ini beberapa kali. Bantu aku memahami apa yang membuat ini sulit untukmu.” Kalimat ini mendorong diskusi, bukan sekadar menyalahkan anak.

5. “Kamu kan tahu lebih baik”

Kalimat ini bisa membuat anak merasa dipermalukan dan menjadi defensif. Lebih baik gunakan kalimat seperti, “Saat ini ada hal yang menghalangi dirimu menjadi versi terbaik. Mari kita bicarakan.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa Bunda percaya pada anak dan ingin membantu mereka belajar.

Dengan menggunakan bahasa yang tepat, hubungan antara orang tua dan anak bisa menjadi lebih harmonis. Jika Bunda tertarik berbagi pengalaman parenting dan mendapatkan hadiah menarik, segera bergabung dengan komunitas SITUSWANITA.COMSquad. Daftar sekarang dan dapatkan banyak manfaat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *