Pengobatan kesehatan di Singapura semakin diminati oleh masyarakat Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Kepala Operasional Integrated Healthcare Holdings Bhd (IHH) Singapura, Yong Yih Ming, dalam sebuah acara yang bertajuk “A Legacy Renewed, A Future Reimagined” oleh IHH Healthcare SG pada Selasa, 25 November 2025, di Jakarta. Menurutnya, arus pasien dari Indonesia ke Singapura sangat besar, sehingga menjadikannya sebagai pasar internasional terbesar bagi institusi kesehatan di Singapura.
Menurut Yong Yih Ming, ada beberapa alasan mengapa pasien Indonesia lebih memilih berobat di Singapura. Beberapa di antaranya adalah untuk mendapatkan pengobatan penyakit kompleks atau menjalani pemeriksaan kesehatan rutin seperti Medical Check-Up (MCU). Di salah satu rumah sakit di Singapura, Rumah Sakit Mount Elizabeth, pasien Indonesia menyumbang sekitar setengah dari seluruh pasien luar negeri. Selain MCU, pasien juga datang untuk persalinan, pengobatan kanker, dan tes genetik.
Berikut beberapa alasan utama yang mendasari keputusan pasien untuk memilih Singapura:
Kepercayaan
Dalam layanan kesehatan, keputusan untuk memilih tempat pengobatan sering kali didasarkan pada pengalaman yang sudah terbukti. Kepercayaan menjadi faktor penentu pasien memilih Singapura. Direktur Utama IHH Healthcare, Peter Chow, menyatakan bahwa volume pasien Indonesia yang stabil selama puluhan tahun berasal dari berbagai generasi. “Bermula dari sang kakek yang berobat hingga cucunya juga melanjutkan berobat di sana,” katanya.
Ia menegaskan bahwa beragam generasi yang datang ke Singapura menciptakan kepercayaan lintas generasi yang kuat. Pasien tidak hanya memilih rumah sakit, tetapi juga memilih sistem yang telah terbukti berfungsi dengan baik di mata keluarga dan kerabat mereka.
Geografis dan Aksesibilitas
Selain kepercayaan klinis, kenyamanan dan kemudahan akses dinilai sebagai faktor penting. Singapura memiliki jarak yang dekat dengan Indonesia dan didukung oleh banyaknya jadwal penerbangan. “Penerbangannya sangat singkat. Ada lebih dari 10 penerbangan sehari antara Singapura dan Jakarta,” kata Peter.
Selain itu, Peter menjelaskan bahwa mereka pun berupaya menyesuaikan diri dengan kebutuhan budaya dan keluarga pasien Indonesia. Hal ini mencakup dukungan komprehensif mulai dari awal keberangkatan hingga setelah kepulangan. Di tahap keberangkatan, timnya menyiapkan dukungan perwakilan beberapa rumah sakit Singapura di Indonesia. Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena dan Mount Elizabeth Orchard, misalnya, memiliki kantor perwakilan di berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Medan. Kantor perwakilan ini bertujuan memberikan pasien kesempatan untuk konsultasi sebelum keberangkatan.
Ada pula fasilitas akomodasi budaya. Berbagai rumah sakit di Singapura mencoba memberikan dukungan budaya seperti penyediaan musala yang sesuai dengan kebutuhan pasien Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Ada pula penyesuaian menu makanan yang mencakup menu masakan Indonesia. Mereka juga memiliki kebijakan yang mengizinkan pendamping untuk menginap bersama pasien di kamar rawat.
Keunggulan Klinis dan Efisiensi Pemulihan
Aspek penting bagi pasien adalah keunggulan medis yang berujung pada hasil klinis yang optimal. Keunggulan seperti teknologi canggih atau ahli medis kredibel penting untuk mempercepat pemulihan dan mengurangi waktu rawat inap. “Kami berupaya untuk secara efektif memangkas setengah waktu yang perlu dihabiskan pasien di rumah sakit,” kata Yong Yih Ming.
Kecepatan ini dimungkinkan berkat penggunaan teknologi seperti bedah robotik, yang menghasilkan tindakan minimal invasif, serta model pemulihan yang fleksibel. “Pasien bisa dipulangkan 23 jam setelah operasi. Sisa rehabilitasi bisa dilakukan di Indonesia,” tambah Peter.






