26 Mitos Menyusui yang Dibongkar!

News174 Dilihat

Mitos dan Fakta Seputar Menyusui

Menyusui adalah proses alami yang memiliki banyak manfaat bagi bayi dan ibu. Namun, selama masa kehamilan atau setelah melahirkan, banyak mitos dan informasi yang tidak akurat bisa membuat ibu menjadi bingung dan ragu untuk menyusui. Berikut ini beberapa mitos seputar menyusui beserta fakta yang perlu diketahui.

Mitos 1: Menyusui itu mudah

Bayi lahir dengan refleks untuk mencari payudara ibunya, tetapi banyak ibu membutuhkan bantuan praktis untuk mengetahui cara memposisikan bayinya agar dapat menyusu dengan benar. Menyusui membutuhkan waktu dan latihan, baik bagi ibu maupun bayi. Ibu juga memerlukan dukungan dari keluarga dan lingkungan kerja.

Mitos 2: Perempuan harus menguatkan puting sebelum menyusui

Payudara akan secara alami bersiap untuk menyusui selama kehamilan. Mencoba menguatkan puting justru bisa merusaknya. Puting akan berubah sendiri tanpa intervensi tambahan.

Mitos 3: Menyusui akan merusak bentuk payudara



Kebanyakan perempuan menemukan bahwa payudara mereka kembali ke ukuran dan bentuk sebelum hamil setelah berhenti menyusui. Usia, efek gravitasi, dan penambahan berat badan lebih berpengaruh pada bentuk payudara daripada menyusui. Payudara akan selalu berubah konsistensinya setelah kehamilan.

Mitos 4: Puting lecet selama menyusui tak bisa dihindari

Banyak ibu mengalami ketidaknyamanan pada beberapa hari pertama setelah melahirkan saat belajar menyusui. Namun, dengan dukungan yang tepat, seperti posisi bayi yang benar dan perlekatan yang baik, puting lecet bisa dihindari. Jika terjadi masalah, konsultasi dengan konsultan laktasi sangat dianjurkan.

Mitos 5: Harus membersihkan puting sebelum menyusui

Tidak perlu membersihkan puting sebelum menyusui. Saat bayi lahir, ia sudah familiar dengan bau dan suara ibunya. Puting memproduksi senyawa yang dibau oleh bayi dan memiliki “bakteri baik” yang membantu membangun sistem imun bayi.

Mitos 6: Perempuan yang memiliki implan payudara atau pernah menjalani pembesaran payudara tidak bisa menyusui



Faktanya, banyak perempuan bisa menyusui dengan implan atau setelah operasi payudara. Ini tergantung lokasi operasi dan penempatan implan. Jika operasi dilakukan di bawah lipatan payudara, biasanya tidak mengganggu kemampuan menyusui. Namun, jika sayatan dilakukan di sekitar areola, ada kemungkinan saluran susu terganggu.

Mitos 7: Payudara kecil tidak menghasilkan ASI sebanyak payudara besar

Faktanya, ukuran payudara tidak memengaruhi jumlah ASI yang diproduksi. Produksi ASI bergantung pada frekuensi dan intensitas menyusui.

Mitos 8: Perempuan dengan inverted nipple tidak dapat menyusui

Ini tidak benar. Banyak perempuan dengan puting terbalik atau rata bisa menyusui dengan sukses. Dokter mungkin menyarankan penggunaan pelindung puting selama kehamilan untuk membantu.

Mitos 9: Bayi baru lahir dan ibunya harus dipisahkan agar ibu bisa beristirahat



Dokter dan bidan sering mendorong kontak kulit ke kulit segera setelah bayi lahir. Kontak langsung antara ibu dan bayi membantu bayi menemukan dan melekat pada payudara. Jika ibu tidak bisa melakukan ini, anggota keluarga lain bisa membantu.

Mitos 10: Ibu akan segera bonding dengan bayinya

Menyusui memicu pelepasan hormon yang membantu proses bonding, namun tidak semua orang tua otomatis merasakan ikatan dengan bayi. Jatuh cinta dengan bayi adalah proses yang butuh waktu.

Mitos 11: Perempuan tidak akan bisa menyusui kecuali jika langsung melakukannya

Lebih mudah memulai menyusui pada jam pertama setelah melahirkan karena refleks bayi kuat. Jika tidak langsung, lakukan secepat mungkin. Dukungan dari konsultan laktasi sangat penting.

Mitos 12: Harus mengatur atau membatasi pola makan selama menyusui



Ibu menyusui memerlukan pola makan seimbang. Tidak perlu perubahan drastis. Jika bayi bereaksi terhadap makanan tertentu, konsultasi dengan spesialis diperlukan.

Mitos 13: Olahraga akan memengaruhi rasa ASI

Olahraga menyehatkan dan tidak memengaruhi rasa ASI. Tidak ada bukti bahwa olahraga memengaruhi produksi ASI.

Mitos 14: Susu formula sama baiknya dengan ASI

ASI dibuat khusus untuk bayi melalui setiap tahap perkembangan. ASI mengandung nutrisi, antibodi, antivirus, hormon, dan antialergi yang melindungi bayi dari penyakit. ASI lebih mudah dicerna dan lebih aman untuk bayi.

Mitos 15: Kamu tidak akan dapat menggunakan susu formula jika ingin menyusui



Beberapa ibu memutuskan untuk menggunakan susu formula sambil terus menyusui. Penting untuk mencari informasi yang tidak bias dan berkonsultasi dengan ahli laktasi.

Mitos 16: Kamu cuma perlu menyusui 4 hingga 6 kali sehari untuk menjaga suplai ASI yang cukup

Faktanya, semakin sering menyusui, semakin banyak ASI yang dihasilkan. Cobalah menyusui 9–10 kali sehari dalam beberapa minggu pertama.

Mitos 17: Jangan menyusui saat sedang sakit

Tergantung jenis penyakit, ibu biasanya bisa terus menyusui. Antibodi dari tubuh ibu akan diteruskan ke bayi, membangun kekebalan tubuh bayi.

Mitos 18: Ibu harus menghentikan pengobatan apa pun selama menyusui



Penting untuk memberi tahu dokter bahwa kamu sedang menyusui. Bisa saja kamu perlu minum obat dalam dosis tertentu atau alternatif lain. Konsultasi dengan dokter sangat dianjurkan.

Mitos 19: Bayi yang pernah disusui akan ingin terus dekat dengan ibunya

Semua bayi berbeda. Beberapa ingin terus dekat dengan ibu, beberapa tidak. Menyusui penting untuk perkembangan otak bayi dan meningkatkan bonding.

Mitos 20: Sulit untuk menyapih bayi jika menyusui lebih dari setahun

Tidak ada bukti bahwa lebih sulit untuk berhenti menyusui setelah satu tahun. Justru, menyusui hingga dua tahun bermanfaat bagi ibu dan anak.

Mitos 21: Jika kembali bekerja, kamu harus menyapih bayi



Banyak ibu terus menyusui setelah kembali bekerja. Pertimbangkan kebijakan tempat kerja dan cari solusi seperti memeras ASI atau mengajak keluarga untuk membantu.

Mitos 22: Memberi susu formula akan membuat bayi tidur lebih baik

Susu formula lebih sulit dicerna, sehingga bayi mungkin tidur lebih lama. Namun, menyusui lebih baik untuk kesehatan dan risiko SIDS.

Mitos 23: Bayi hanya perlu menyusu selama 5–10 menit

Faktanya, bayi yang lebih besar bisa menyusu lebih cepat, sementara bayi baru lahir mungkin perlu lebih lama. Tanda-tanda kenyang bayi bisa diamati dari gerakannya.

Mitos 24: Ibu menyusui harus minum susu untuk memproduksi ASI dengan baik



Minum susu tidak memengaruhi produksi ASI. Ibu menyusui harus makan makanan sehat dan bergizi untuk memproduksi ASI.

Mitos 25: Bayi akan berhenti menyusui sendiri saat usianya beberapa bulan

Sebagian besar bayi menyusu lebih dari beberapa bulan. Kadang, bayi bisa mogok menyusui sementara karena alasan tertentu seperti sakit mulut atau gigi.

Mitos 26: Perokok tidak bisa menyusui

Meskipun terbaik untuk tidak merokok, ASI tetap lebih baik daripada susu formula. Jika merokok, lakukan setelah menyusui dan hindari asap rokok di dekat bayi.

Ada begitu banyak mitos seputar menyusui dan kadang sulit untuk membedakan mana yang benar dan tidak. Pastikan setiap informasi yang kamu dapat didukung bukti ilmiah atau tanyakan kepada dokter, bidan, konsultan laktasi, atau profesional medis lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *