Dampak Perceraian Orang Tua: Pengaruhi Romansa Anak di Masa Depan?

Situs Wanita – Perceraian orang tua seringkali meninggalkan jejak mendalam pada anak, bukan hanya dalam bentuk kebingungan atau sikap menarik diri, tetapi juga memengaruhi cara mereka memandang dan menjalani kehidupan romantis di kemudian hari. Dikutip dari situswanita.com, dampak ini bisa berakar kuat dan membentuk persepsi anak tentang sebuah hubungan.

Psikolog anak, Gloria Siagian, M.Psi., dari Mykidz Clinic BSD, Kabupaten Tangerang, menjelaskan bahwa pengaruh ini tak terelakkan. “Anak belajar tentang hubungan untuk pertama kalinya dari orang tua,” ujarnya. Pemahaman awal inilah yang menjadi fondasi bagaimana mereka akan berinteraksi dalam lingkup romantis saat dewasa nanti.

Momen perpisahan orang tua akan terukir kuat dalam memori anak, membentuk persepsi bahwa pernikahan dapat berakhir dengan perceraian, seolah-olah hal tersebut adalah bagian normal dari sebuah ikatan. Dampak psikologisnya bervariasi; dari relasi orang tuanya yang retak, seorang anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya pada hubungan romantis atau, sebaliknya, menjadi “bucin” (budak cinta) yang haus afeksi. Tak jarang pula, mereka kehilangan kepercayaan pada institusi pernikahan itu sendiri.

Kecenderungan menjadi “bucin” kerap kali muncul sebagai respons atas kekosongan emosional. Sebagai contoh, anak perempuan yang orang tuanya bercerai dan kemudian kehilangan kontak dengan ayahnya, berpotensi tumbuh dengan rasa haus akan afeksi dari figur laki-laki. Kebutuhan akan kasih sayang dari sosok ayah yang tidak terpenuhi di masa kecil menjadi pemicu fenomena fatherless, yang menurut Gloria, sangat memengaruhi dinamika hubungan mereka di kemudian hari.

Saat memasuki fase dewasa dan menjalin hubungan asmara, anak-anak dengan latar belakang perceraian orang tua dapat menunjukkan dua ekstrem. Ada yang mungkin terjebak dalam siklus pernikahan dan perceraian berulang, atau justru sebaliknya, mereka merasa ketakutan dan enggan melangkah ke jenjang pernikahan akibat trauma mendalam dari perpisahan orang tua mereka.

Menyadari kompleksitas ini, Gloria menegaskan, “Kita memang tidak bisa menghentikan orang untuk bercerai, tetapi kita bisa membantu anak-anak untuk memproses perceraian itu.” Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya intervensi dan dukungan bagi anak-anak.

Oleh karena itu, Gloria menyarankan agar orang tua yang memegang hak asuh, hendaknya secara perlahan menjelaskan alasan di balik perceraian. “Paling tidak, ada proses diskusi. Ada proses orang tuanya menampung apa yang dirasakan anak,” imbuhnya. Pendekatan ini krusial untuk membantu anak memproses rasa kedukaan dan kehilangan yang mereka alami, sekaligus mengurangi dampak negatif jangka panjang dari perpisahan orang tua pada kehidupan mereka.