Alasan Ibu yang Melahirkan dengan Caesar Kesulitan Menyusui

Berita68 Dilihat

Proses Menyusui Setelah Operasi Caesar

Menyusui merupakan bagian alami dari proses persalinan. Namun, bagi ibu yang melahirkan dengan operasi Caesar, proses ini bisa menjadi lebih rumit. Hal ini disebabkan oleh efek anestesi, nyeri bekas operasi, dan keterbatasan gerak, terutama dalam 24 hingga 48 jam pertama setelah melahirkan.

Seema Manuja, seorang ginekolog di India, menjelaskan bahwa dalam kebanyakan kasus, menyusui dapat dimulai dalam satu jam pertama setelah melahirkan, selama kondisi ibu dan bayi stabil. Masa awal yang dikenal sebagai golden hour memiliki peran penting dalam membangun ikatan antara ibu dan bayi serta memulai produksi ASI. “Bahkan di ruang pemulihan, kontak kulit ke kulit dan memulai pelekatan sangat dianjurkan,” ujarnya.

Namun, banyak ibu yang khawatir jika melahirkan dengan operasi Caesar akan menghambat produksi ASI. Pada beberapa ibu, keterlambatan keluarnya ASI matang, yang disebut laktogenesis II, biasanya terjadi sekitar 2-4 hari setelah melahirkan. “Namun, pada ibu yang menjalani operasi Caesar, proses ini terkadang dapat tertunda 12 hingga 24 jam karena stres akibat operasi, obat-obatan, atau keterlambatan inisiasi menyusui,” jelasnya.

Menurut Healthline, waktu pasti ASI matang keluar mungkin tertunda, tetapi pada akhirnya akan keluar. Ibu dapat membantu mempercepat proses ini dengan menyusui atau memompa ASI secara teratur, menyusui sesuai permintaan, dan melakukan kontak kulit ke kulit dengan bayi secara intensif.

Meskipun demikian, tubuh tetap memproduksi kolostrum, ASI pertama yang kaya nutrisi, yang cukup untuk bayi di hari-hari awal.

Posisi Menyusui yang Tepat Setelah Operasi Caesar

Bagi ibu yang ingin menyusui setelah operasi Caesar, posisi menyusui akan sangat penting. Pilih posisi yang tidak menekan jahitan. Salah satu posisi yang direkomendasikan adalah football hold, di mana bayi digendong di bawah lengan dan disangga dengan bantal, sehingga membantu mengurangi tekanan pada perut.

Posisi berbaring miring juga bisa menjadi pilihan yang baik. Dengan posisi ini, ibu dapat berbaring miring dan menyusui bayi sambil beristirahat. Pilihan lain yang baik adalah posisi berbaring atau berbaring telentang, di mana ibu sedikit bersandar dan meletakkan bayi di dadanya agar gravitasi membantu pelekatan bayi. Gunakan bantal untuk menyangga agar bisa menyusui lebih nyaman.

Pastikan pula bayi menyusu dalam posisi yang benar. Jika salah, pelekatan tidak sempurna bisa membuat proses menyusui tidak efektif dan bisa melukai puting ibu. “Pelekatan yang baik biasanya ditandai dengan mulut bayi terbuka lebar, bibir mengarah ke luar, dan dagu menyentuh payudara, disertai suara menelan yang lembut,” jelas Seema Manuja.

Jika pelekatan terasa nyeri atau bayi tidak menyusu dengan baik, minta bantuan konsultan laktasi yang biasanya ada di rumah-rumah sakit. Konsultasi dengan ahli laktasi bisa sangat membantu dalam memastikan proses menyusui berjalan lancar dan nyaman bagi ibu maupun bayi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *